
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Mas, siang aku pergi sebentar ya," Pagi ini Shalimah tumben memberitahu kalau siang ini akan keluar rumah.
"Tumben kasih tau aku kalau kamu mau pergi keluar. Mau ke mana?" tanya Radite.
Mereka masih punya satu pembantu rumah tangga untuk menjaga dan membersihkan rumah serta masak dan semua pekerjaan rumah lainnya.
Shalimah nyonya besar. Mana mau dia mengerjakan semua urusan rumah tangga. Urus anak aja dia enggan.
"Ada pertemuan dengan teman-teman Mas," jawab Shalimah.
"Teman perempuan atau teman lelaki?" Tanya Radit santai sambil bersiap memakai sepatu.
Semalam Radite tak minat menggauli Shalimah. Dia malah ji-jik karena ingat selama ini dia berbagi perempuan dengan banyak lelaki lain di luaran sana.
"Enggak biasa Mas tanya gitu," Shalimah sadar tumben Radite tanya dengan siapa dia ingin keluar nanti.
"Ya wajarlah namanya suami pasti nanya seperti itu," jawab Radite sambil menyeruput kopi sachet instan buatan pembantunya.
Lain bila di rumah Adinda. Istrinya itu meracik sendiri kopi yang akan dia minum dan diseduh sendiri dengan tangannya. Walau di kantor dia adalah leader, tapi di rumah Adinda selalu berperan sebagai istri yang berbakti.
"Teman perempuan sekolah Mas," jawab Shalimah.
"Ingat kamu di bawah pengawasan papa. Kemana pun kamu pergi kamu akan diikuti oleh mereka. Satu kali aja kamu ketahuan dengan laki-laki lain tamat riwayatmu."
'*Oh iya ya. Kalau aku pergi keluar dengan laki-laki lain bisa bahaya karena aku di bawah pengawasan Papa*.'
'*Apalagi buat kabur. Hal yang tak mungkin. Dan lagi aku mau kabur kemana? Aku bahkan tak punya keluarga satu pun*.'
"Enggak mungkin aku pergi sama orang laki-laki." Jawab Shalimah.
"Baguslah. Jam berapa kamu pergi?" Tanya Radite.
"Pertemuannya jam 10.00 pagi," balas Shalimar.
"Oke," kata Radit dia lalu langsung berangkat kerja tanpa sarapan seperti kebiasaannya saat di rumah Adinda.
\*\*\*
"Ada apa?" tanya Eddy. pagi-pagi sekali Radite sudah menunggunya di lobby.
"Aku mau pamit keluar."
"Ada apa?" Tanya Eddy.
"Aku ingin membereskan masalahku dengan Shalimah. Tolong Papa mintakan izin pada Pak Usman."
__ADS_1
"Jam berapa kamu mau izin?"
"Jam 08.30 Pa."
"Ok."
Eddy menuju resepsionis karena memang mereka belum masuk ke dalam kantor.
"Coba hubungkan dengan nomor meja pak Usman gudang."
Tanpa banyak bicara petugas PR langsung menekan tombol yang diinginkan oleh pak Eddy.
"Apa pak Usman sudah datang?" tanya resepsionis.
"Sudah baru saja Bu, sebentar saya panggilkan," kata penerima telepon.
"Pak Usman ada yang cari," lalu telepon diberikan pada Pak Eddy.
"Pak Usman, nanti jam 08.30 Radit akan izin keluar dan sudah saya beri izin." Eddy langsung memberitahu apa maksudnya menghubungi Usman.
"Baik Pak, baik," kata Usman.
Eddy langsung menutup telepon. Dia berlaku dari hadapan putra tunggalnya itu.
\*\*\*
Radite menunggu sampai Salimah keluar dengan taksinya baru dia masuk ke rumah.
"Pak tumben pulang hari gini," sapa simbok.
"Iya Mbok saya ada perlu." Radit membereskan semua bajunya dalam 3 koper. Semua barangnya tak ada yang ditinggal termasuk alat mandi, sandal dan barang lainnya.
Radite menguras semua perhiasan Shalimah. Semua dia ambil tanpa sisa lalu dia tinggalkan satu amplop dengan tulisan besar di depan amplop tersebut.
\*\*\*
"Mbok hati-hati ya. Kalau memang gajimu sudah tidak dibayar dengan lancar kamu keluar aja. Hari ini saya sudah tidak di sini jadi mulai hari ini saya sudah tak ada urusan lagi dengan Shalimah."
"Bagaimana atuh Den koq bisa begini?" Tanya simbok tak percaya.
"Ternyata selama ini saya ditipu oleh majikanmu Mbok, anak itu bukan anak saya. Saya tidak mau untuk selanjutnya di bodohi-bodohi olehnya. Jadi saya pergi Mbok. Saya pamit."
Radit berpesan pada si mbok pengasuhnya Bram. Saat itu sebuah taksi sudah menunggu dia untuk membawa barang menuju kost-kostan barunya. Radit akan mengikutinya dari belakang dengan motor yang memang dia beli dengan uang di tabungannya.
\*\*\*
Shalimah tak bisa bergerak, pengawal yang menjaganya benar-benar berdiri tak jauh dari dirinya sehingga dia nggak mungkin ketemu lelaki lain. Dia hanya memberi pesan bahwa dia sedang diawasi jadi jangan mendekati dirinya.
Duduk di cafe pun pengawal Eddy duduk di meja sebelahnya tak mau ada jeda benar-benar akan mendengar apa pun yang Shalimah bicarakan bila ada teman kencannya yang batal karena dijaga ketat oleh penjaganya ini.
Tentu saja Shalimah geram. Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang cepat.
__ADS_1
\*\*\*
Dengan menggerutu Salimah masuk ke kamarnya Di meja riasnya ada amplop yang tulisannya sangat menusuk mata!
"Apa maksud tulisan ini?" Shalimah langsung membuka amplop tersebut.

Shalimah melihat test DNA antara Radite dan Bram.
Tak ada kecocokan. Artinya jelas Bram bukan anak Radite.
"Ha ha, siapa yang merekayasa ini? Aku bisa aja menyanggah kalau test ini rekayasa. Kapan orang mengambil sample Bram? Pasti ini hasil rekayasa. Walau memang aku tak tahu Bram anak siapa!"
Shalimah membaca lembar kedua, dibawah lembar hasil test DNA tadi.
Disana terbaca hasil test kesuburan Radite.
Pupus sudah harapan Shalimah menggunakan Bram untuk merongrong Eddy karena Bram adalah cucunya dan ber hak sebagai pewaris perusahaan!
Jelas disana Bram tak ada artinya buat senjata memeras Eddy karena Bram tak mungkin anak Radite.
"Pantas Dinda tak kunjung hamil! Ternyata Radite mandul. Percuma aku melahirkan anak sialan itu. Anak tak berguna!" Shalimah menyesal memiliki Bram.
Shalimah melihat lembar ketiga. Tulisan tangan Radite.
'*Selamat tinggal pelacur ku*!'
'*Aku membawa semua uang milikku, aku juga membawa semua barang yang aku belikan untukmu karena itu harus aku kembalikan*.'
'*Aku harus bayar hutangnya jadi semua itu aku ambil untuk aku kembalikan ke kantor*.'
'*Selamat tinggal pelacur ku, aku tidak mau jadi kuli perahmu*!'
'*Ternyata benar apa yang papa bilang, kamu itu pelacur sejak kecil. Sama seperti ibumu yang memang sudah jelas jualan dipinggir jalan*.'
'*Itu sebabnya Mamaku tidak mau mengadopsi kamu secara resmi*.'
'*Aku ambil semua yang aku berikan. Silakan gugat kalau mau gugat*!'
'*Dasar pela-cur*!'
Dalam amplop terdapat struk pengosongan ATM Shalimah tadi malam saat Shalimah minta Radite mengambil uang satu juta rupiah.
Salimah selesai membaca surat itu, dia melihat lemarinya dan memang kotak perhiasannya sudah kosong melompong.
Uang di tangannya tinggal yang tadi malam diambilkan oleh Radite itu saja karena yang 200 ditangannya sudah buat taksi barusan.
'*Dengan uang Rp 1 juta ini aku mau apa*?' pikir Shalimah.
__ADS_1