REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
PENGALAMAN PERTAMA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Adinda melajukan mobilnya ke supermarket untuk belanja bahan makanan yang telah kosong. Perutnya sudah sedikit membuncit dan dia bangga. 



Adinda belum mengenakan daster hamil. Atau lebih tepatnya tidak mengenakan daster. Dia mengenakan rok span biasa panjang dibawah lutut tapi bagian perut rok sangat elastis sehingga dia tetap nyaman. Atasnya dia mengenakan blouse sedikit longgar. Pakaian kerja yang manis.



"Mborong bu Dinda?" Sapa seorang lelaki muda cukup tampan yang Adinda tahu dulu masuk team kerjanya Radite.



"Enggak. Saya hanya belanja kebutuhan untuk satu minggu atau lebih sehingga terlihat banyak," jawab Adinda sambil berlalu. Adinda tak suka lelaki itu. 



Sehabis team Radite terbongkar karena menutupi semua kebohongan Shalimah dan Radite, lelaki dihadapan Adinda tadi termasuk kena reposisi. Tapi dia minta resign dengan membayar semua uang korupsi.



Sayang sehabis resign dia tetap tak punya pekerjaan karena dari perusahaan Eddy tak dapat surat pengalaman kerja. 



Kesal tak dapat pekerjaan halal, lelaki itu banting stir. Dia bekerja jadi apa pun termasuk kurir barang haram sampai gi-golo.



Jadilah dia tetap bisa hidup mewah tak kesulitan uang.



"Huh sombong! Sama Radite udah diselingkuhin aja masih belagu!" Lelaki itu mengumpat pelan.



Kalau tak ingat sedang di supermarket tentu dia akan meludah!


\*\*\*



'*Aku ingat, lelaki itu teman akrab Shalimah. Dia yang selalu menjadi kurir Shalimah. Aku tahu mas Adit sering mendapat pesan lewat dia. Sekarang aku baru tahu ternyata Shalimah sering tak digubris oleh mas Radite, sehingga butuh perantara untuk menyampaikan ancamannya*.'



Adinda segera menyelesaikan belanjanya lalu bergegas pulang.


\*\*\*



Seperti yang Adit katakan dua hari lalu. Maka jadilah sore ini Radite meninggalkan motornya di kantor dia membawa mobil sport milik  Adinda.



"Mulai besok kamu nggak usah nyetir lah aku mau jadi driver mu. Kamu enggak perlu bayar. Aku akan antar jemput kamu ke apartemen."



Radite memang sudah tahu bahwa Dinda tinggal di apartemen.



"Pagi aku akan tunggu di parkiran aku nggak akan masuk ke apartemenmu kok.  Lalu nanti pulang juga antar kamu sampai parkiran aja. Aku hanya enggak ingin terjadi apa-apa karena kamu sedang hamil muda. Resiko kelelahan cukup besar," kata Radite saat mereka menuju rumah sakit.

__ADS_1



"Nanti aku pikirkan lagi ya. Aku terima atau tidak tawaranmu. Kalau aku terima aku akan pikirkan kapan bisa dimulai. Aku tak ingin gegabah membuat keputusan," jawab Adinda.



'*Tawarannya sangat menolongku. Agar aku tak terlalu tegang menuju kantor dan ketika pulang. Juga membuat anak-anak senang karena akan selalu dekat ayah mereka*.' batin Adinda. Tapi tentu dia tak mau langsung mengiyakan tawaran Radite itu.



"Maaas!" teriak Adinda. Radite kaget dan langsung menepikan mobil untuk melihat kondisi Adinda.



"Kenapa?" tanya Radite pucat pasi. Dia takut bayinya kenapa-kenapa. Dilihatnya Adinda seperti terkejut sambil memegangi perut buncitnya.



"Mereka bergerak," pekik Adinda dengan kaget tapi bahagia.



'*Kalian bergerak saat pertama kali aja harus tepat ada di depan ayah. Kalian memang benar-benar anak ayah ya*?'  protes Adinda pada anak-anaknya dalam hati sambil mengusap perutnya lembut. Adinda tak menyangka merasakan gerakan pertama saat dia sedang bersama dengan Adit.



"Kerasa lagi nggak?" tanpa sadar Radit langsung memegang perut Adinda. Adinda memandu mengambil punggung tangan Radit dan meletakkannya di perut yang sedang bergeser dengan gerakan bayi.



"Kerasa enggak Mas?"



"Iya, iya terasa!" Sekarang Adit yang sedikit terpekik merasakan gerakan bayi dalam perut  Dinda.




"Kok baru sekali? Kamu kan pernah punya istri hamil!" Dinda tentu tak percaya. Sejak Shalimah hamil kan Radit sudah tinggal satu rumah sebelum menikah dengannya.



"Aku nggak pernah pegang dia. Aku enggak pernah exciting dengan kehamilannya. Jujur aku senang akan punya bayi tapi nggak pernah peduli dia hamil atau bagaimana. Enggak pernah ingin tahu soal kehamilannya apa sudah minum vitamin. Yang penting aku bayar. "



"Dia periksa juga nggak ikut nggak pernah lihat juga."



"Aku baru lihat USG di monitor itu ya karena anak-anak aku dan ini memang pengalaman pertama aku megang perut ibu hamil dan itu adalah perutmu," kata Radite sambil merasakan bagaimana gerakan bayi-bayi dalam perut ibunya.



Saat dengan Shalimah dia tidak mengalami pengalaman menarik ini.



"Lalu siapa yang mengadzani?"



"Entahlah. Aku tidak tanya. Aku datang satu hari setelah kelahirannya kok. Waktu itu aku sedang tugas di Bandung dan aku juga nggak merasa bersalah nggak ngazanin Bram."



"Aku cuma kasih nama aja udah cukup. Aku juga nggak ngadain akikahan."


__ADS_1


"Shalimah sendiri nggak ada niat atau minta aqiqah. Karena memang bukan itu tujuannya. Buat Shalimah sayang uang buat beli dua kambing ditambah beli yang lainnya buat acara aqiqah. Dia pasti lebih mikir uangnya untuk beli make upnya!"



"Shalimah nggak peduli kok anaknya nggak diakekahin,  nggak peduli anaknya nggak punya akta kelahiran, yang penting hidupnya tercukupi." Kata Radite.



'*Itu sangat berbeda dengan diriku.  Begitu tahu aku hamil aku langsung memikirkan akte anak-anakku. Aku tak ingin legalitas anak-anakku abu-abu*!'


\*\*\*



Akhirnya mereka sampai ke rumah sakit.



"Turunnya pelan-pelan," saran Radite begitu mematikan mesin mobil.



"Iya udahlah,  aku bilang kan aku jangan dianggap orang sakit. Aku bukan sakit lho Mas," protes Adinda.  Tapi dia senang dengan atensi yang Radite berikan.



Adinda speechless mendengar bahwa tadi adalah pengalaman pertama Radit memegang perut ibu hamil yang sedang bergerak padahal dulu Radite sering  berada di sisi Shalimah tiap siang dan malam karena saat Shalimah hamil Radite belum menikahi Dinda.  



Rupanya Shalimah hanya mengharuskan Radite datang dan memberi jatah suami istri sebulan sekali agar keuangannya aman.



Selebihnya Shalimah tetap dengan pola hidupnya sendiri.



Radite benar-benar hanya dijebak.



'*Kasihan kamu Mas kamu benar-benar cuma jadi bonekanya Shalimah*.'



'*Sebenarnya kamu tidak salah 100% karena kejadian dengan Shalimah itu sebelum kita menikah. Tapi tetap aja aku sakit hati. Tapi anak-anakmu tak mau mengerti bagaimana sakit yang aku rasakan*.'



'*Andai aku masih punya keluarga aku juga akan  membagi kebahagiaan ini*.'



Ayah Adinda meninggal ketika Adinda masih kelas 3 SMP. Ibunya meninggal dua bulan setelah pernikahan Adinda, sehingga Adinda memang benar-benar anak yatim piatu sudah tak punya orang tua.



Adinda juga anak tunggal, karena dua adiknya meninggal bersama ayahnya.  Ayahnya meninggal karena kecelakaan saat menjemput adik kembarnya. Saat itu adik kembarnya masih TK.



Jadi dari keluarga Adit ada darah kembar yaitu adik ibunya anak kembar dan dari keluarga Adinda juga ada darah kembar yaitu adik-adiknya sendiri kembar dan meninggal bersama dengan ayahnya.



Jadi itu mengapa Adinda sangat dekat dengan Pak Eddy karena merasa Pak Eddy adalah ayahnya sendiri.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY


__ADS_1


__ADS_2