REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
REAL ATAU HALUSINASI?


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Radit segera duduk dia perhatikan wajah Adinda masih tetap tanpa ekspresi.



Tak ada gerak di pupil nya matanya. 



'*Apa aku salah rasa ya? Apa aku terbawa halusinasi aja bahwa dia bergerak*?'



Radit memperhatikan keseluruhan tubuh istrinya, dia memperhatikan layar monitor, semua tetap sama. Tak ada data Adinda yang berubah.



Radite pun sengaja menggenggam erat jemari Adinda untuk melihat respon apakah Adinda merasakan genggamannya.



Sayang tak ada respon lagi dari istrinya.



'*Aku lapor dokter nggak ya? Lapor suster nggak ya*?' tanya Adit bingung sendiri dalam hatinya.



'*Tapi kalau nggak lapor jangan-jangan itu adalah pertanda benar. Kalau lapor juga aku belum tentu pasti karena tadi kan aku sedang tidur. Mungkin itu terbawa mimpi atau terbawa halusinasiku saja*.'



'*Enaknya gimana ya*?' Radit bingung sendiri. Dia menunggu beberapa saat apakah akan ada respon lagi dari Adinda.



Tanpa bisa dicegah dia kembali tertidur sampai pagi.



Tak ada lagi pergerakan yang dirasakan.



"Selamat pagi sayank, rupanya Aku tadi malam berhalusinasi bahwa kamu bergerak ya. Tapi ingat Yank kita udah punya dua baby lho. Mas dan Ade menunggumu bangun. Mereka menunggu sapaan lembutmu."


\*\*\*

__ADS_1



"Beneran?" kata Eddy. Setiap pagi dan malam Eddy pasti akan menghubungi Radite menanyakan perkembangan Dinda.



"Itu yang aku bingung Pa. Aku mau lapor ke suster takut hanya halusinasiku. Enggak lapor ke suster, takutnya itu benar."



"Trus kamu gimana?"  tanya Eddy.



"Aku nggak lapor Pa."



"Oh gitu, baiklah.  Mudah-mudahan hari ini ada perkembangan yang baik,"  kata Eddy.



"Iya Pa, semoga aja." jawab Radite.


\*\*\*



"Siapa yang jadi kompor ya. Sehingga Sherly menyelidiki DNA-nya David?" Steven  memandangi wajah tenang David yang sedang tertidur.




"Kalau dia bukan anakku nggak akan aku mau mengambil dia dari tempat dia dibuang sementara."



"Kalau tak ada tes DNA sejak awal tak mungkin aku mau mengupayakan adopsi anak." Steven mengusap lembut wajah putranya.



"Nanti kalau sudah sama mommy, kamu jangan panggil Papa lagi ya," kata Steven.



"Panggil Daddy dan mommy aja dan kita akan tinggal di Australia aja." 



"Besok Daddy akan bikin paspor-mu agar kita bisa berangkat ke Australia sebelum jejak mommymu ketahuan pihak berwajib."


\*\*\*

__ADS_1



"Kamu enggak curiga? Sejak dulu dia kamu ajak adopsi enggak mau. Kenapa tiba-tiba minta adopsi anak dan harus David?"



"Walau alasannya karena wajah David oriental seperti kita, tapi kakak curiga kalau David adalah anak Steven."



"Kakak sejak dulu benci Steven, makanya sekarang coba cari kesalahan dengan cara menghubungkan semua hal guna mencari cara menjatuhkannya." Bantah Sherly.



"Sudah. Kamu ambilkan saja rambut Steven dan rambut David. Kalau kakak salah, kakak akan mundur dan tak akan pernah ganggu kamu lagi."



"Tapi bila kakak benar, kalian harus langsung cerai!"



"Baik kak."



Sherly ingat itu awal semua huru hara ini. Kakak tertua yang paling menyayangi dirinya curiga pada niat Steven yang tiba-tiba minta adopsi David. Tak mau bayi lain.



Dan kemarin dia dipanggil kerumah utama, rumah papanya. Disana sudah kumpul keluarga besarnya juga dokter kandungan yang pernah ia datangi tujuh tahun lalu.



Akhirnya semua terungkap. Dan tadi pagi gugatan cerai telah ia layangkan buat Steven.


\*\*\*



"Dimana David?" Tanya Sherly pada pembantu rumah tangga dirumahnya.



"Saya tidak tahu nyonya. Sejak Nyonya pergi minggu lalu, tuan mengganti babysitter Nyo David."



"Lalu dua hari lalu Nyo ( dari kata sinyo atau tuan muda ) David dan baby sitternya tak ada di rumah ini." Jawab pembantu itu.



Steven tenang, dia tak takut di gugat cerai. David putranya telah dia ungsikan.

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!



__ADS_2