
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Sejak lima hari ini setiap bangun pagi kepala Radit keliyengan. Dia langsung minum kopi pahit tanpa gula lalu berangkat ke kantor.
Tak pernah bisa makan apa pun kalau pagi.
"Pak Radite, kirain sudah datang sejak tadi," sapa seorang satpam.
"Saya baru tiba. Belum jam delapan. Apa saya dihitung terlambat?" Tanya Radite sambil melihat jam tangan mahalnya.
"Tidak Pak. Saya cuma mau antar ini. Titipan dari bu Adinda. Tadi saya juga sudah makan roti buatan bu Adinda. Saya juga sudah antar milik pak Shindu. Sedang milik pak Eddy diantar bu Dinda sendiri," satpam memberikan thinwall berisi roti isi smoke beef dan isi kornet serta beberapa sachet saos sambal kesukaan Radite.
"Terima kasih," jawab Radite.
Pagi ini Radite bisa sarapan karena dia suka roti buatan Adinda.
Tak ada mual seperti pagi sebelumnya bila dia ingin sarapan. Satu minggu Radite tak bisa sarapan. Tapi bila siang sampai malam tak ada keluhan apa pun.
'*Kok tumben aku bisa makan tanpa mual pagi ini. Alhamdulillah roti isi kornetnya masih enak seperti biasa*.'
'*Dan ini roti isi smoke beefnya lezat*,' sebelum bercerai Radite memang setiap hari sarapan buatan Adinda. Entah nasi goreng, mie goreng, bihun goreng, nasi uduk atau nasi putih dengan banyak lauk yang selalu Adinda masak sebelum dia berangkat kerja.
Kalau lagi tak ada bahan biasanya Adinda juga suka membuatkan roti dengan isi seperti ini bukan hanya isi selai.
Menyiapkan sarapan suatu hal yang tak pernah dilakukan oleh Shalimah.
Untungnya Radite tak pernah menginap di rumah Shalimah. Dia bisa tahu Shalimah tak membuatkan sarapan ketika sudah tinggal bersama selepas dia diusir dari rumah Adinda.
Shalimah bangun siang, langsung minta sarapan pada pembantu. Padahal tak berangkat kerja seperti Adinda.
Dalam hati kecilnya Radite memang tak pernah mencintai Shalimah. Dia terikat Shalimah karena ada Bram.
Sebagai anak tunggal Radit sangat ingin punya banyak anak. Itu alasan mengapa dia sangat senang begitu mendengar kabar Shalimah hamil.
Tapi kalau rasa cinta tak ada dalam hatinya. Sejak dulu dia nempel pada Shalimah karena mendapat jatah rutin biologis. Itu saja.
Tapi setelah berhubungan dengan istrinya dimalam pertama dengan Adinda, Radite merasakan perbedaan sangat jauh. Kenikmatan bergumul dengan Adinda sangat beda dengan Shalimah.
__ADS_1
Kepuasannya dan kenikmatan lebih besar dia dapat saat bersama Adinda walau pun dalam trik permainan Adinda masih terlalu polos karena dia memang bukan penjaja seperti Shalimah.
Tetapi tetap dengan Adinda Radite merasa lebih puas.
Dengan Adinda Radite bisa melakukannya berkali-kali dalam semalam, tapi dengan Shalimah cukup satu kali semalam itu pun karena Shalimah selalu minta jatah.
\*\*\*
"Bu Dindanya nggak ada Pak Radite," seorang staff di ruangan Adinda memberitahu Radite.
"Loh kemana?" tanya Radite.
"Ibu pergi dari jam 11.00 tadi dengan Pak Eddy. Saya nggak tahu kemana atau meeting dimana, tapi mungkin ada urusan penting karena ibu Dinda sampai pasang alarm jam 11.00."
"Mungkin karena takut terlambat," staf tersebut menjelaskan pada Radite.
"Baiklah, terima kasih ya." jawab Radite.
Padahal Radite hanya ingin memberi ucapan terima kasih karena sudah diantar sarapan. Ternyata papanya dan Dinda pergi sejak jam 11.00.
"Berarti ada pertemuan bisnis," kata Radite sambil berjalan ke kantin belakang untuk makan siang.
\*\*\*
"Bisa Pak. Bisa, sangat bisa" jawab orang tersebut.
Sehabis dari dokter, Adinda dan Eddy pergi ke kantor pengacara yang mengurus perceraian instan antara Radite dan Adinda.
"Oke kalau gitu saya tunggu hasilnya," Eddy pun pamit.
"Kamu nggak apa apa nyetir dari tadi?"
"Enggak apa-apa Pa, santai aja aku nggak apa-apa. Enggak ada rasa apa pun cuma satu aja keluhanku Pa, laper terus!"
"Serius?"
"Iya Pa, nggak ada mual pusing atau apa pun tapi cuma lapar terus Pa."
"Mungkin karena mereka dua jadi butuh makan banyak," Eddy ingat kehamilan Ina istrinya yang rewel, banyak ngidamnya dan sangat lemah sehingga harus bed rest dan bolak balik di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
"Bisa jadi begitu. Papa mau di drop di kantor atau langsung aku antar ke rumah?" kata Adinda.
"Ke rumah aja lah udah jam 04.00 ngapain juga balik ke kantor?"
"Sopir kan nanti bisa bawa pulang sendiri mobilnya." Eddy memutuskan tak kembali ke kantor.
"Ya udah oke," Adinda langsung mengantarkan Eddy ke rumahnya.
\*\*\*
Sampai malam Adinda di sana dia malah minta dibuatkan mie ayam bakso oleh koki rumah Eddy.
"Papa mau?" Tawar Dinda.
"Enggak, Papa lagi males masih kenyang, barusan makan loh. Kamu sekarang udah makan mie ayam bakso lagi aja."
"Ya itulah Pa, aku bilang apa. Padahal kita baru tadi makan malam kan jam satu jam lalu ya Pa."
Eddy dan Adinda sama-sama tahu porsi makan Adinda sebelum hamil. Eddy melihat porsi makan Adinda berubah saat dia makan sate kambing dua hari lalu.
"Yang penting kamu sehat lah," jawab Eddy.
"Aku minta bungkusin bahan makanan lho Pa dari dapur Papa," lapor Adinda.
"Biar nanti aku langsung olah di dapurku. Karena aku belum nyetok bahan makanan."
"Bawa aja."
"Iya aku rampok itu Pa, yang udah setengah matang juga banyak. Pokoknya banyaklah rampokanku kali ini."
"Gimana kalau kamu tinggal sini aja sama Papa."
"Enggak Pa, enggak enak. Apa nanti pikiran orang?"
"Oh iya sih, bahaya dikira itu anaknya Papa lagi. Ya udah jangan. Kita jangan cari masalah baru. Kita mencegah omongan seperti itu."
"Maaf ya Pa, bukan menuduh Papa."
"Iya Papa tahu."
__ADS_1
"Ya udah Pa aku pulang, kata Adinda dengan membawa banyak bahan makanan yang dia rampok dari dapurnya Eddy.