REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
PERKENALAN DENGAN ASHRAF


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Pa, ini data yang terakhir. Sepertinya aku harus cek langsung ke lapangan." Adinda memberikan bundel berkas proyek pada Eddy.



"Oke nggak apa-apa. Kapan kamu berangkat?"



"Besok pagi-pagi sekali deh Pa,"



"Butuh teman atau team?"



"Enggak perlu, aku akan berangkat dengan Shindu aja kalau Papa kasih pinjam dia satu hari." Pinta Adinda.



"Apa kamu tak ingin menginap?"



"Tidak Pa. Kami tak butuh menginap hanya untuk melihat lokasi saja," Adinda tak merasa butuh menginap karena dia pergi dengan Shindu. Tentu beda bila dia pergi dengan Adit. 



'*Ups, aku harus menghapus ingatan kalau aku akan mengadakan perjalanan dinas dengan mas Adit lagi*.' Adinda menyesalkan pikirannya yang masih selalu mengenang cintanya pada Adit. 



"Oke enggak apa apa Papa di kantor sendiri an tanpa Shindu. Papa bisa suruh Wilson temani Papa besok." Jawab Eddy



"Aku atur waktu dengan Shindu dulu ya Pa," Dinda pamit pada Eddy untuk menyiapkan data dan juga mengatur kerja proyek lainnya.


\*\*\*



"Bu, itu yang akan menangani Project ini. Dia site project nya," bisik Shindu saat menuju meja di cafe hotel tempat mereka janjian dekat dengan lokasi yang sejak pagi sudah Adinda cek.

__ADS_1



Adinda ngecek lapangan tanpa site project. Dia ingin lihat kondisi lapangan apa adanya tanpa masukan dari penanggung jawab proyek agar punya gambaran murni.



"Namanya Abdullah Ashraf. Orang-orang memanggilnya Pak Abdul tapi kalau orang dekatnya manggil dia Ashraf. Tapi ada juga yang panggil dia pak Dullah."



"Aku akan tetap memanggil dia Abdul seperti orang lain karena aku tidak kenal akrab. Aku ngikutin yang lain aja."



"Tapi lebih familiar Abdul sih,"  kata Shindu.



"Oke nanti kita lihat aja dia kenalannya dengan nama apa," Adinda sampai di meja yang telah ada Abdullah.



"Perkenalkan ini Ibu Adinda dia wakil CEO dan dia yang mengepalai semua proyek seluruh Indonesia juga ke luar negeri." Sindhu memperkenalkan siapa Adinda pada site manager yang masih muda dan bujangan itu.



"Oh ya saya tahu dia putrinya Pak Eddy." Abdullah menyodorkan tangannya untuk bersalaman.




"Ashraf."



"Adinda."



'*Dia enggak kenalin diri sebagai Abdul. Apa nama Abdul dianggap jelek oleh dia? Atau dia ingin sok akrab sehingga menyebut nama kecilnya*?' Adinda hanya membatin saja mendengar nama yang Abdullah sebut.



Mereka pun membahas proyek yang akan ditangani oleh Ashraf di lokasi itu.



'*Perempuan ini benar-benar detail meneliti semua aspek. Gilaaaaa banget*,' Ashraf menilai sosok cantik yang tak bisa dipandang sebelah mata.


__ADS_1


"Mohon ya ini ya Pak Abdul. Eh siapa tadi Pak Ashraf ya. Sorry soalnya saya dengar dari Pak Shindu namanya Pak Abdul sih."



"Perhatikan dengan teliti. Pondasinya harus benar-benar tekiti ya.  Itu tanah pantai lo. Beda sama tanah keras. Saya nggak mau Resort jadi asal-asalan,"  kata Dinda mereka berencana membangun Resort di daerah Cilegon.



"Baik Bu." Jawab Abdullah Ashraf.



"Menurut saya anda kurang teliti di sini. Ini terlalu mahal untuk speck yang anda berikan. Anggaran sebesar itu seharusnya untuk speck tiga grade di atasnya."



"Lalu poin ini terlalu murah.  Saya yakin anda tidak teliti melihatnya. Saya ambil harga murah ini, saya tidak mau tahu harus dengan kualitas terbaik. Bukan kualitas abal-abal!"



"Tolong anda perbaiki semuanya. Saya tunggu anda di kantor saya. Saya tidak mau ke sini lagi sebelum semuanya fix."



"Setelah saya lihat lapangan. Saya mengerti kondisi itu dan Anda harus laporkan ke saya maksimal dua hari lagi."



"Kalau bisa besok sudah sampai di meja kerja saya di kantor."



"Baik Bu saya akan lakukan secepat yang saya bisa." Jawab Ashraf.



"Tidak. Saya tidak setuju dengan kalimat anda  secepat mungkin yang anda bisa. Saya tidak mau seperti itu."



"Kata-kata itu tidak tepat buat saya. Saya minta Anda berjanji menyerahkannya besok, maksimal lusa itu limit waktu dari saya."



"Kalau sesuai dengan kata-kata anda semaksimal mungkin yang anda bisa, anda bisa aja menyerahkan satu minggu lagi atau bahkan satu bulan lagi!"



"Karena yang bisa anda kerjakan itu beda dengan yang saya minta. Jadi tolong perbaiki kalimatnya karena saya tidak mau berpegang pada kalimat anda."


__ADS_1


'*Nah lo, kena batu ya kan? Adinda koq dilawan*,' batin Shindu.


__ADS_2