
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Hilma dan Mark sedang jalan-jalan di sebuah taman di Canberra, Australia mereka membawa putra mereka yang berusia dua tahun.
Dalam surat nikah sejak di Jakarta mau pun semua surat identitas barunya Shalimah telah berubah menjadi Hilma Antonia dan Steven berubah menjadi Markus McKenzie.
"Daddy, I want it," David menunjuk balon yang dijual di pinggir taman.
"Tidak kamu tidak boleh membeli itu. Nanti kalau meletus mommy-mu kaget. Mommy nggak suka ada suara keras." pelan Mark menolak permintaan putranya.
David hanya melihat pada mommynya yang tersenyum manis memandangnya.
Hilma yang sekarang sangat berbeda jauh dengan Shalimah.
Hilma sangat memperhatikan David dia tersenyum manis dan mencium David.
"Mommy takut dengan suara keras sayang. Mommy takut kalau kamu pegang lalu balon itu meledak. Mommy nggak kuat melihatnya." Ucap Hilma dengan bahasa inggris yang masih sering salah.
Di Australia memang Hilma tak dipanggilkan guru les oleh Markus. Mark mengharuskan Hilma bicara langsung dengan para maid agar bisa lebih cepat berinteraksi aktiv.
"Dia nggak akan meledak di tanganku, aku nggak akan pencet," jawab David kecil.
Akhirnya Hilma mengizinkan David. Lelaki kecil itu membeli lima balon dan menerbangkannya.
"Kenapa kamu beli dan diterbangkan?" Tanya Mark.
__ADS_1
"Itulah gunanya balon gas. Untuk diterbangkan, bukan untuk dipegang." Jawab David sambil tersenyum dan bertepuk tangan memandang kelima balonnya yang semakin tinggi.
David senang melihat balonnya yang terbang semakin tinggi, jadi dia beli memang untuk diterbangkan bukan karena terlepas dari tangannya.
"Ayo kita pulang," bisik Mark menggunakan bahasa Indonesia agar David tak mengerti, dia melihat sesuatu yang tidak mengenakkan.
"Kenapa Dadd?" Hilma menjawab dengan takut.
"Aku melihat ada seseorang yang sejak tadi mengikuti kita."
"Kalau ada yang mengikuti kita, ya kita jangan pulang ke rumah. Nanti mereka langsung tahu alamat kita." Hilma mencoba memberi pendapat.
"Kalau mereka telah sampai sini artinya mereka telah tahu alamat kita."
\*\*\*
"Ayo kita makan dulu yuk," ajak Mark
Mereka pun makan disebuah gerai ayam goreng tepung yang memang sangat disukai oleh David kecil.
David suka soup dan es krim di sana. Tanpa banyak protes David langsung makan.
"Anak Daddy hebat, makannya banyak, cepat besar ya sayank."
__ADS_1
David makan dengan banyak, sesekali Hilma membersihkan mulut putranya.
Hilma memang berbeda dengan Shalimah, dia tak ingin keluarganya gagal dia ingin anak-anaknya hidup yang tenang dan bahagia. Benar-benar tanpa gangguan siapa pun.
Oleh sebab itu Hilma nggak ingin berbuat salah.
Baik Shalimah maupun Steven punya masa lalu yang tidak bersih.
Steven jelas pasti punya banyak perempuan selain punya Sherly sebagai istri sahnya.
Shalimah pun seperti itu, punya banyak lelaki selain Radite yang bertindak sebagai suami.
Tapi sebagai Hilma dan Markus mereka sudah berkomitmen bahwa mereka akan setia pada pasangannya dan membina rumah tangga dengan anak-anak.
Sekarang mereka menjalankan rumah tangganya dengan sungguh-sungguh.
Mereka tak ingin gagal. Mereka juga nggak peduli pada mantan pasangan masing-masing.
Shalimah tidak teringat "pernikahan" dengan Radite, dan Steven tak pernah peduli pada Sherly.
Anak buah Markus cerita bahwa Sherly sedang dekat dengan pengacaranya saat perceraian, tentu saja Steven atau Markus tak peduli karena memang dulu menikah dengan Sherly bukan karena cinta juga, tapi karena fokusnya ke bisnis. Saat itu Steve merasa harus aman dalam berbisnis.
Setelah mempunyai David dia benar-benar meninggalkan semuanya dia tak lagi berbisnis barang haram.
\*\*\*
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama AMIH AMY
__ADS_1
dengan judul novel TERJEBAK CINTA MBAK-MBAK ya