
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Seharusnya mereka bisa terus disini Pa, kalau ibunya bisa urus. Karena Dinda seperti ini, apa kita enggak mulai cari pengasuh buat Mamas dan Ade?"
"Aku enggak mau baby sitter muda Pa. Aku mau tenaga seperti simbok aja yang jaga anak-anakku," Radite memberi laporan pada Eddy.
Eddy mengerti Radite tak ingin terlibat masalah lagi dengan seorang perempuan, maka minta pengasuh anak-anak yang simbok-simbok saja.
"Nanti Papa carikan baby sitter yang paruh baya saja. Papa akan selidiki latar belakang keluarganya dan bikin perjanjian tersendiri terlepas dari perjanjian dengan yayasan yang dia ikuti," Eddy memang sudah beberapa hari minta dicarikan baby sitter yang sesuai kemauannya.
\*\*\*
"Pagi ini kita ketemu bunda untuk pertama kali ya. Kalian harus bersikap manis agar bunda senang."
"Tapi walau kalian jahil pun Ayah yakin bunda kalian tetap akan senang. Bunda kalian adalah malaikat yang sangat lembut dan sabar," kata Adit saat menciumi Mamas dan Ade ketika dia menjemput dua jagoannya di kamar bayi.
Eddy sudah ada di ruang Dinda jaga gawang disana. Eddy dan Radite tak akan membiarkan Dinda tanpa pengawasan sama sekali.
Bahkan untuk perawat yang bertugas di kamar Dinda pun para perawat masuk harus dengan pengawalan para bodyguard Eddy.
\*\*\*
"Kalian nggak boleh rewel dekat bunda oke?" Bisik Adit saat mereka tiba di ruang rawat Dinda.
Adit bicara pada Mamas dan Ade seakan-akan anak-anaknya mengerti apa yang dia katakan.
Eddy trenyuh melihat Adit seperti itu. Eddy tahu bagaimana cinta Radite terhadap Dinda. Dan sekarang ditambah cinta pada kedua anaknya.
Kalau nggak cinta setengah mati Radite lebih memilih bekerja daripada menunggui Dinda sepanjang hari.
Biar bagaimana pun Radite bukan sosok malas yang mau berleha-leha selama hampir tiga bulan tanpa bekerja. Walau kemampuannya tak bagus. Tapi Radite tak bisa diam. Apa pun akan dia kerjakan. Tak mungkin dia mau diam sepanjang hari dalam ruang tertutup seperti ruang rawat Adinda ini.
Kalau kondisi normal satu atau dua hari mungkin dia akan bisa bertahan. Tapi untuk diam tanpa aktivitas selama tiga bulan itu tak mungkin.
Hanya karena cinta teramat dalam saja maka Radite bisa bertahan selama ini.
__ADS_1
Pagi ini ada simbok. Eddy membawanya untuk membantu dirinya dan Radite mengurus baby twins. Mereka akan menahan kedua bayi seharian di ruang Dinda bila tak ada kendala.
"Enggak apa-apa suster, bayi ditinggal saja. Ada saya dan ayah saya juga dibantu simbok. Dokter bilang seharusnya mereka satu ruangan dengan ibunya bila kondisi ibu normal."
"Karena kondisi ibu belum sadar, biar kami aja yang jaga mereka, nanti kami akan memanggil suster untuk mengembalikan bila memang mereka rewel." Radite meminta baby ditinggal saja.
"Baik Pak silakan nanti kalau ada apa-apa bisa panggil kami aja. Ini persediaan dua botol sussu yang sudah hangat," kata suster.
"Ini untuk diberikan maksimal dua jam ya Pak. Kalau botol kosong langsung antar dan kami akan membuat sussu berikutnya."
"Oke," kata Radite. Dia melihat dua botol kecil sussu dengan isi hanya sedikit, hanya 60 ml saja karena memang dibuat sedikit-sedikit sesuai dengan porsi minum kedua bayi.
Hari itu memang Eddy membawa simbok untuk menemani menjaga baby twins. Eddy belum dapat pengasuh untuk keduanya.
"Kalau Mamas ada tahi lalat di lutut kanan ya Mbok. Tahi lalat Ade ada di punggung kaki kiri," jelas Adit pada simbok.
"Injih Den." Simbok memperhatikan dua bayi itu sama persis.
"Aku berharap keduanya pintar seperti bundanya." Doa Adit untuk kedua anaknya.
"Bunda, ini Ade dan Mamas mau ketemu," kata Radit pelan ditelinga Dinda.
Saat itu Adit menggendong Ade dan Eddy menggendong Mamas.
Radit meletakkan Ade di tulang selangka Dinda dengan posisi tengkurap sehingga mulut bayi kecil itu menciumi pipi Dinda.

Ini tentang posisi selangka, jangan salah paham ya.
Sesungguhnya Ade bukan menciumi, dia mencari sesuatu yang bisa dia hisap sesuai nalurinya.
Radit terisak melihat pemandangan itu.
__ADS_1
Bayi yang nggak ngerti itu tentu saja merasa menemui sesuatu dia mengecap-ngecap mulutnya di wajahnya Dinda.
"Bangun Yank anak-anak datang nih. Mereka ingin bercerita denganmu," kata Adit pelan.
"Mereka ingin kamu gendong loh."
"Mamas mau cium Bunda seperti Ade?" Eddy pun menyorongkan wajah Mamas ke wajah Dinda.
Walau lahir lebih dulu dan tubuhnya sedikit lebih besar dari Ade, tapi Mamas memang lebih cengeng.
Merasa posisinya ditengkurepkan di selangka Dinda adalah posisi yang tak nyaman, bayi itu menjerit lalu menangis.
"Loh Mamas kenapa nangis? Ade aja nggak apa-apa cium Bunda," kata Radite.
"Ade sama simbah dulu ya," perlahan Radite mengangkat Ade, lalu dia menyerahkannya pada simbok.
"Sini Mamas sama Ayah," Radit mengangkat dan mengambil alih Mamas dari tangan eyangnya.
"Cup diam, ini sudah sama Ayah ya. Kalau sama Ayah diem enggak nangis," bisik Radit sambil menepuk pelan punggung Mamas yang dia baringkan di selangka kirinya menghadap belakang.
"Nah kita baring lagi sama bunda yok," Radit kembali membaringkan Mamas di selangka Dinda. Kali ini dia ikut berbaring disisi Dinda sehingga Mamas merasa ada temannya.
Simbok menyerahkan Ade ke Eddy karena lelaki itu meminta dia yang memberikan sussu pada cucunya.
"Kita bobo sama Bunda jadi nggak boleh nangis," begitu Radit mengajarkan putranya. Tak seperti Adeyang mengemut pipi Dinda, Mamas mengambil hidung Dinda dalam genggamannya.
"Jangan mencet hidung bunda seperti itu sayang. Kasihan Bunda nanti bundanya susah napas," kata Radite.
Mamas sudah berhenti menangis dia memainkan hidung Dinda.
"Alhamdulillah tangan Mbak Dinda gerak Pak," pekik simbok.
Simbok melihat jemari Dinda bergerak.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!
__ADS_1