
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Jadi yang satu belum kelihatan?" tanya Eddy antusias.
"Belum Pa, kalau yang satu Insya Allah laki-laki," jawab Radite.
Rupanya sehabis dari apartemen Adinda tadi Radite tidak langsung pulang tapi langsung laporan pada Eddy.
Laporan seperti ini Radite tidak ingin via ponsel atau telepon. Dia lebih senang langsung lapor secara langsung.
"Alhamdulillah semoga semuanya sehat," doa seorang kakek tulus Eddy panjatkan.
"Ya Pa, walau pun keduanya perempuan juga aku nggak apa apa tapi kalau ada laki-laki Alhamdulillah. Setidaknya dia akan mengayomi adik-adik dan ibunya."
\*\*\*
Adinda merasa ada yang memperhatikannya keluar dari parkiran apartemen.
Adinda tak menggubris dia langsung menuju kantornya. Walau Radite sudah tidak mengalami syndrome caouvade, dia masih tetap rajin masak.
"Kamu kenapa masak?" tanya Eddy.
"Memang kenapa Pa?"
"Stop masaknya."
"Iya tapi kenapa Pa?"
"Dokter bilang kamu nggak boleh capek kan? Adit juga sudah tidak mengalami mual dan harus makan masakanmu."
__ADS_1
"Tapi aku senang masak dan harus masak. Kalau tidak masak aku makan apa Pa?"
"Kamu senang masak tapi kondisi sedang berubah seperti ini. Jadi mulai besok nggak usah masak. Kalau buat makan siang dan malam kamu delivery aja. Sarapan buat yang praktis bagi dirimu sendiri."
"Ya Pa," jawab Adinda. Dia tak mau mengambil resiko anak-anaknya keguguran seperti yang dialami oleh mamanya Radite dulu. Mulai besok dia akan mulai tidak masak sesuai dengan anjurannya Eddy. Pagi ini Eddy menegurnya saat Adinda mengantarkan sarapan seperti biasa.
\*\*\*
Pagi ini Radite datang agak terlambat dia tadi susah memesan ojek online pagi-pagi sehingga dia terlambat 15 menit.
"Maaf Pak Usman, tadi ada trouble di jalan sehingga saya terlambat," Radite lapor pada atasannya.
"Tidak apa apa," jawab Usman.
"Tadi Pak Eddy sudah nanyain. Dan kalau datang diminta segera menemuinya," Usman memberitahu pesan pemilik perusahaan.
\*\*\*
"Kenapa Pa?"
"Ini sarapan terakhir dari Adinda."
"Loh maksud Papa apa?" Radite kaget mendengar kata *sarapan terakhir* yang diucapkan Eddy.
"Papa sudah tegur Adinda untuk tidak masak sarapan lagi. Toh kamu sekarang sudah bisa makan apa aja. Jadi lebih baik dia berhenti masak. Papa nggak ingin dia capek."
"Alhamdulillah kalau Papa berhasil meredam dia untuk tidak beraktivitas banyak. Aku setuju banget Pa. Biar dia nggak terlalu capek," Kata Radite. Mereka pun makan ketoprak yang Adinda bikin sebagai sarapan pagi ini.
\*\*\*
__ADS_1
"Kenapa Din?" tanya Eddy.
"Tadi pagi aku merasa ada yang ikutin aku Pa. Aku jadi cemas dan takut. Ini sudah hari ketiga aku merasa dibayang-bayangi," kata Adinda cemas.
"Kalau gitu kamu harus mulai diantar jemput."
"Iya Pa **mulai besok** aja. Aku takut Pa."
"Apa kamu tinggal sama Papa lagi atau Radite tinggal sama kamu di apartemen?" Eddy mengusulkan solusi yang bisa mereka ambil.
"Enggak usah dulu Pa. Yang penting pagi dan sore diantar dulu sama Mas Adit aja." Adinda tak ingin bila tinggal di rumah Eddy atau Adit kembali satu rumah dengannya.
"Papa akan bilang dia," Eddy tentu tak ingin Dinda celaka. Dia akan segera minta Adit menjaga istrinya.
"Terima kasih ya Pa, **mulai hari ini aja, sore ini** Pa. Aku takut Pa," kata Dinda dengan gemetaran. Belum satu jam keputusan Dinda sudah berubah karena terlalu takut.
"Baiklah, sebentar Papa panggil Adit."
\*\*\*
"Kamu serius?" tanya Radite.
"Seriuslah, buat apa aku bohong?"
"Aku tinggal dengan kamu atau kamu tinggal dengan Papa aja gimana?" Adit mengusulkan hal yang sama dengan Eddy.
"Enggak Mas. Untuk sementara ini biar begini aja. Yang penting aku diantar jemput mulai nanti sore." Adinda tetap tak mau mengambil pilihan yang disodorkan Eddy mau pun Adit.
"Oke enggak apa-apa aku akan antar jemput kamu. mulai sore ini," Adi tak keberatan sama sekali.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ
__ADS_1