
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Mas, itu ada yang gedor pintu," lapor Shalimah pada Radite.
"Siapa sih ganggu orang tidur. Belum juga subuh," Radite kesal saat itu baru jam 03.30.
\*\*\*
"Selamat pagi pak Radite," seorang ajudan Eddy berdiri tegak di depan pintu. Di belakangnya berdiri empat orang orang tegap lainnya. Dan di luar pagar Radite melihat lebih dari empat orang berdiri menunggu instruksi.
"Ada apa?" Tanya Radite ketus.
"Dalam 1 x 60 menit rumah ini harus kosong. Seharusnya saya kesini sejak tadi malam waktu anda meninggalkan rumah bu Dinda. Tapi saya kasihan tengah malam mau merangkak kemana kalau saya usir?"
"Tidak bisa, rumah ini suami saya yang beli!" Pekik Shalimah.
"Suami? Ada surat nikah?"
Radite dan Shalimah diam.
"Kalau anda mau tinggal disini, bayar saja harga beli rumah ini dan uang sewa selama dua tahun ditempati, langsung ke rekening pak Eddy. Karena uang untuk beli rumah ini milik pak Eddy yang dicuri pak Radite."
"Tapi karena surat rumah ini atas nama Shalimah, maka pengaduan pak Eddy ke polisi atas nama Shalimah!" Pengawal itu memberikan copy surat laporan pencurian aset perusahaan dengan pelaku Shalimah!
"Mari Pak, saya tunggu di luar enam puluh menit atau pasukan saya siap menghancurkan semuanya."
Radite benar-benar tak percaya papa kandungnya bisa berbuat sekejam ini. Dia sendiri tak ingat, dia berbuat lebih kejam dengan menikam papanya dari belakang.
\*\*\*
"Sudah kamu jalankan tugas dari saya?" Tanya Eddy pada seseorang yang dia telepon.
"Sudah Pak. Sample sudah kami dapatkan," kata orang di ujung telepon sana.
"Tinggal sample dari mas Radite saja Pak.
"Kalau sample Radit akan diambil secara resmi terang-terangan. Saya akan ambil sampel resminya.Tenang aja nanti pokoknya berikan sample itu pada saya dulu," jawab Eddy.
"Baik Pak," kata orang tersebut.
\*\*\*
__ADS_1
"Maaf Pak Radit saya ada tugas dari Pak Eddy," kepala pengawal Eddy menghampiri Radite di cubicle nya setelah minta izin pada kepala gudang akan menghampiri Radite.
"Ada apa?" kata Radite dengan ketusnya.
"Saya mau ambil potongan rambut Bapak."
"Untuk apa?" Tentu saja Radite kaget dan bingung diminta potongan rambutnya.
"Itu perintah Pak Eddy. Saya tidak tahu untuk apa. Saya hanya diminta oleh Pak Eddy untuk membawa potongan rambut Bapak sekarang juga."
"Ada-ada aja sih," tanpa permisi pada kepala gudang, Radite langsung keluar dan menuju ke ruangan papanya.
"Ada apa lagi ini Pa?" Tanya Radite, dia tentu saja marah diminta sample rambutnya.
"Iseng aja. Berikan sukarela atau akan dipaksa," jawab Eddy sambil terus memandangi berkasnya. Saat itu empat penjaga masuk. Seorang membawa gunting dan plastik klip kecil. Radite pun diam ketika se ujung rambutnya digunting.
"Ini Pak," orang yang menggunting memberikan plastik klip pada Eddy.
"Oke terima kasih," Eddy menerima dan mengucapkan terima kasih. Selanjutnya keempat pengawalnya keluar setelah pamit pada Eddy.
\*\*\*
"Satukan dengan yang tadi dan kirim sesuai dengan pesanan saya!"
"Baik Pak," jawab Sindhu dia membawa sampel rambut di depan pemiliknya yaitu didepannya Radite.
"Apa maksud Papa?"
"Ya cuma main-main aja, sekedar iseng," kata Eddy.
"Silakan kembali ke ruangan. Saya bukan pengangguran. Saya banyak kerjaan," usir Eddy.
Radite pun langsung balik kebagian belakang, daerah administrasi gudang.
\*\*\*
"Mas jalan-jalan yuk," ajak Shalimah.
"Jalan-jalan pakai apa? Kamu enggak mau naik motor." Jawab Radite dengan pelan di rumah kontrakan mereka.
__ADS_1
"Masa pakai motor? Bikin kulitku hancur aja. Pakai taksi dong," rengek Shalimah.
"Uangnya sayang, lebih baik buat beli su5u anakmu itu. Kamu nggak mau nyusuin dia karena takut bodymu rusak, sekarang kita ke beban jadi lebih baik uangnya buat beli su5u Bram aja," nasihat Radite.
"Lagian kamu kerja nggak dapat duit aja terus dilakoni. Mending cari kerjaan lain," desak Shalimah.
"Kalau aku keluar dari situ, itu akan lebih parah karena semua hutangku akan diminta lunas dulu sebelum aku tinggalin perusahaan gitu aja."
"Ya jangan mau dihitung hutang dong. Masa sama anak koq gitu," Shalimah memang tak pernah bersyukur.
"Sebagai anak kamu dapat uang tiap bulan kemana? Sejak gadis semua aku yang tanggung kan? Uang gajiku semua ke kamu enggak ada yang ke Dinda!"
"Terus mobil, perhiasan, rumah, belanjamu itu memang pakai uang kantor. Jadi salahnya dimana kalau ditagih minta dikembalikan?"
"Ingat kamu sudah dilaporkan sebagai penggelap aset perusahaan. Begitu kamu kabur, habislah kamu. Enggak lihat tiap hari ada yang jaga kamu 24jam?" Tanya Radite.
"Mas berhutang kan buat kamu foya-foya, buat beli tas-tas dan sepatumu juga baju-baju brandedmu. Juga make up branded mu itu. Belum biaya salon, spa dan makan mewahmu."
Shalimah diam. Dia tahu tiap hari ada yang menjaga dia di depan rumah. Bukan sembunyi-sembunyi, tapi mereka berjaga dengan terang-terangan.
Sebagai anak yatim piatu tentu dia tak punya keluarga satu pun.
"Jadi aku sekarang kerja itu itu ibaratnya aku membayar menyicil hutang ku dengan tenaga karena semua gaji kan sudah tidak bisa aku terima."
"Kenapa aku dibawa-bawa?" Tetap saja Shalimah ngeyel.
"Yang bikin gara-gara kamu selalu ikut setiap aku kerja. Kamu takut kan bila Dinda yang ikut. Padahal dia tak pernah ikut karena dia memang jadi leader di kantor."
"Kamu selalu mau lebih dari Dinda. Aku nggak pernah belanjain Dinda tapi kamu full aku tanggung semuanya."
"Aku belikan mobil kamu, aku belikan rumah kamu, semua itu tak kuberikan pada istri sah ku!"
"Tapi sekarang semua sudah diambil!" Terus saja Shalimah ngeyel.
"Ya wajar diambil kembali karena itu bukan uang kita. Aku nggak mau dipenjara sendirian, karena kalau aku dilaporkan, aku akan bilang alasanku berbuat begitu adalah tuntutan hidup mewah kamu."
"Kamu akan terseret di penjara. Kalau kita berdua di penjara Bagaimana dengan Bram? Siapa yang akan merawatnya? Sedang kita tak punya keluarga lagi selain papa," jelas Radite panjang lebar.
Shalimah bingung, karena selain sudah diadukan karena terbukti memiliki rumah dan mobil, Radite juga akan menyeretnya.
\*\*\*
__ADS_1