
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Kamu dapat apa? Tahu sesuatu?" pancing Eddy pada menantunya saat dia lihat Dinda sudah duduk.
"Ada tikus Pa," lapor Dinda pada Eddy.
"Kamu baru hari pertama kerja kok tahu ada tikus? Apa telinga penciumanmu sudah bekerja ( bukan typo ya, Eddy emang bilang telinga penciuman )?"
"Hari pertama kerja, belum dua jam aja dia sudah bisa tahu ada yang enggak beres Pa," Adit bicara penuh kekaguman pada istrinya.
"Makanya aneh kan dia dulu sampai lama baru nangkep kamu," papar Eddy.
"Bukan, bukan lama Pa. Cuma aku ingin semua fakta terungkap maka aku harus sabar khusus buat Mas Adit."
"Kalau buat orang lain ngapain cari bukti akurat, nggak butuh. Tinggal buka fakta, bukti akan langsung terbuka."
"Kalau mas Adit hanya aku buka sedikit, dia dan Shalimah akan terus berkelit. Dia bisa santai tuh terima ucapan selamat menikah dari Shalimah di depanku. Dan Shalimah santai ucapin selamat menikah buat suaminya. Manusia model mereka enggak bisa kalau enggak dikuliti Pa."
Adit dan Eddy tak percaya sejak resepsi pernikahan saja Dinda bisa menilai kebohongan Adit dan Shalimah.
"Mas tadi sadar kebohongan Ronald yang prinsipal enggak?" Tanya Dinda.
"Soal data tadi Yank?" Tanya Adit.
__ADS_1
"Bukan. Artinya Mas enggak teliti." Dinda memandang suaminya dengan saksama.
"Mas dengar enggak tadi kata-kata Ronald : *saat dipanggil Ibu tadi, saya sedang diskusi dengan pak Shindu Bu*."
"Dengar Yank, trus anehnya dimana?"
"Ha ha ha, seorang pembohong koq enggak teliti. Aku selalu diam tiap kamu bohong karena aku cukup catat di file kebohonganmu aja Mas."
"Inget saat pulang dari Bengkulu? Tiket Mas pagi, tapi baru sampai rumah sore. Mas bilang ketemu teman lama lalu ngobrol lupa waktu."
"Aku cuma diam, tapi semua aku simpan. Kalau mau ribut, sejak hari pertama kita nikah, sudah banyak kebohonganmu!" Adit dan Eddy diam mendengar fakta yang Dinda sebut.
"Karena aku telepon pakai office connection dari meja kerjaku ke meja kerjanya! Bukan pakai ponsel. Dia terima teleponku di mejanya. Sebelumnya aku baru telepon Shindu di ruanganya minta berkas meeting besok disiapkan. Jadi tak mungkin dia sedang diskusi dengan Shindu di ruang kerja Ronald."
Adit tak percaya, Dinda bahkan tak mau membuka kebohongan Ronald saat itu juga, tapi cukup disimpan dulu.
Harusnya saat itu juga Dinda langsung bisa membongkar kebohongan Ronald. Rupanya semua sedang ditabung oleh Dinda sebagai amunisi.
Eddy makin kagum pada menantunya yang habis libur 7 bulan bukannya tak bisa berkutik malah makin bernas.
__ADS_1
"Ini satu kebobrokan dia Pa, besok yang lain akan aku bongkar satu persatu." Dinda menyerahkan print data proyek Magelang dan Banyuwangi yang sama persis.
"Tadi aku sudah minta Shindu dan Rizal kirim semua data selama aku vacum."
"Jadi kalau diubah, akan kelihatan karena berbeda dengan data lama yang sudah aku pegang. Maling udah kelihatan," kata Adinda dengan yakin.
"Eh Pa kenapa Rizal agak aneh ya Pa?" Tanya Dinda.
"Memang dia kenapa?"
"Tadi dia kasih datanya salah loh. Kayaknya ada sesuatu yang dia pikirkan sehingga bisa salah masukin data."
"Selisih 3% lho Pa."
"Kok bisa?" Tanya Eddy heran.
"Makanya tadi aku panggil dia. Aku sudah tegur dia tadi Pa, semoga aja dia langsung bereaksi," lapor Dinda.
"Ya semoga itu cuma karena dia kurang teliti. Karena selama ini Rizal itu jujur."
"Bener Pa. Aku juga yakin dia bukan mau cari selisih. Aku yakin dia salah input data aja. Karena aku sudah lihat sih kesalahannya ada di poin berapa. Mungkin dia sedang banyak pikiran."
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI
__ADS_1