
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Esok paginya Radite dan Dinda ke dokter yang ditunjuk oleh Eddy.
"Kenapa kesini?"
"Ini rekomendasi dari papa. Nanti hasil check juga akan langsung diserahkan ke papa," jawab Dinda.
Radite dan Dinda banyak melakukan tes untuk mengetahui kesuburan mereka berdua.
"Hasilnya lima hari lagi ya Bu. Dan tadi pak Shindu bilang hasil akan langsung diambil pak Shindu."
"Oh iya Dok," Adit tak mengerti mengapa papa mertuanya meminta dia melakukan test di dokter ini dan hasilnya akan langsung diambil Shindu.
"Kita langsung ke kantor nih?" tanya Radite.
"Iya langsung. Papa barusan dah telepon. Kita ditunggu di ruang meeting."
"Bukannya masih satu jam lagi ya waktu meetingnya." kata Radite.
"Memang Mas mau ke mana? Satu jam lagi pas kan sama waktu kita sampai di kantor."
"Mas ada janji dengan perempuan lain?" Pancing Dinda.
"Kamu tuh dari kemarin ngomongnya gitu aja," Radite jadi serba salah. Biasa dia makan siang selalu di luar.
'*Aaaaah andai ketika itu aku sadar kalau Dinda dan papa telah mengetahui kebusukanku makanya papa menyuruh aku test kesuburan dengan Shindu sebagai pegawai yang akan mengambil hasil test itu*.'
"Ya kali aja," kata Dinda santai.
"Ya udah ayo kita ke kantor," Radite tak mau membahas hal yang sensitif.
\*\*\*
"Kok rapatnya kayak gini?" bisik Radite pada Dinda saat mereka masuk ruang meeting. Memang pertemuan bukan diadakan di ruangan Eddy.
"Mana aku tahu. Papa yang atur kok," jawab Dinda.
Dinda menuju kursinya yaitu di sebelah kanan kursi Eddy karena sebelah kiri adalah kursinya Sindhu sekretaris Eddy.
Setelah dikupas habis dengan bantuan auditor maka keputusan rapat pun dibacakan.
"Baik saya bacakan keputusan rapat kali ini bahwa mulai hari ini pak Radite dicopot dari jabatan marketing manager dan dipindah menjadi staf administrasi gudang."
"Tidak ada pembayaran Kredit card atau apa pun dari kantor untuk kartunya pak Radite. Mobil dan rumah di tarik. Tidak boleh keluar kantor dari jam 08.00 hingga jam 05.00. Lalu gaji langsung masuk ke rekening Bu Dinda." Demikian Sindhu membacakan point yang ia catat selama meeting.
'*Rupanya ini yang kemarin Dinda bilang. Papa rapat dengan auditor*.'
"Tapi aku butuh ketemu temanku sebentar Pa," rengek Radite di ruangan Eddy. Hari ini memang dia belum aktive di ruang gudang karena masih akan membereskan ruangan kerjanya sebagai manager marketing.
"Tidak ada ketemu siapa pun karena Papa tahu kamu mau ketemu dengan selir mu." Seru Eddy geram. Di ruangan itu hanya ada Eddy, Adinda dan Radite.
"Selir apa sih Pa?" Radite menyangkal ucapan papanya
__ADS_1
"Mulai hari ini kalian berpikir pindah ke rumah kalian sendiri, Papa nggak mau tahu karena rumah yang kalian tempati adalah milik perusahaan itu kan jatahnya Dinda sebagai wakil CEO."
"Sebagai suami kamu harus cari rumah buat Dinda, kamu bisa cari rumah buat perempuan lain tapi tidak bisa buat Dinda," kata Eddy dengan tegas.
"Dari tadi pada ngomongin perempuan lain maksudnya apa sih?" Tanya Radite kesal.
"Mas mau tahu perempuan lain yang kami maksud?" Tanya Dinda santai.
"Iya maksud kalian tuh apa?"
"Oke sebentar ya Mas. Sebentar lagi datang kok."
Tak lama pintu diketuk.
"Masuk," jawab Dinda.
Shalimah masuk dengan wajah innocent-nya, wajah tidak bersalah.
"Assalamu'alaykum," sapa Shalimah dengan sopan. Dia mencium tangan Eddy lalu mencium tangan dan pipi Adinda seperti biasa.
"Wa'alaykumsalam," jawab Dinda dengan sopannya.
"Apa khabar kamu?" kata Dinda lagi.
"Baik Mbak," jawab Shalimah.
"Mbak bisa aja," kata Shalimah.
"Ini mau antar kemeja batik yang papa pesan," Shalimah menyodorkan paper bag batik yang Eddy pesan.
"Mana struk pembeliannya?" Tanya Eddy.
"Kalian semua duduk biar enggak pingsan," Dinda menyuruh Radite dan Shalimah duduk.
"Ada di dalamnya Pa," jawab Shalimah.
"Siapa yang beli ini?" Tanya Eddy melihat struk batik tersebut.
"Aku lah Pa. Siapa lagi," jawab Shalimah tak merasa berbohong. Rupanya kebiasaannya berbohong membuat dia terbiasa dengan semua yang dia lakukan.
"Koq bisa ya kamu berada di dua pulau berbeda dalam waktu bersamaan?" Tanya Eddy.
"Maksud Papa apa?"
"Papa melihat data penerbangan keberangkatan ke Bengkulu dan kepulanganmu setelah tujuh hari di sana. Dan kamu pulang dari Bengkulu itu satu hari setelah tanggal di struk ini. Bagaimana kamu di Bengkulu tapi bisa belanja di Cilacap?"
Radite baru tahu jebakan papanya yang minta struk belanja batik hari itu juga.
Kemarin sesudah papanya menghubungi Shalimah. Radite menyuruh seorang teamnya mencari orang yang bisa belanja disana dan mengirimkan dengan paket same day ke alamat rumahnya, agar batik siap diserahkan Shalimah hari ini pada Eddy.
__ADS_1
Radite dan Shalimah mulai terlihat gelisah. Shalimah memang tak berangkat bareng Radite saat ke Bengkulu. Dia menyusul setelah pekerjaan Radite selesai di hari ke empat!
"Kamu sekarang tinggal di mana?" Desak Eddy lagi.
"Masih kost di tempat lama Pa."
"Oh ya? Dari kemarin Papa cari di tempat kost lama itu, namamu sudah tidak ada di daftar penyewa!"
"Orang bilang kamu sudah pergi dengan suamimu. Suami yang mana? Apa orang tuamu tidak kamu kasih tahu kalau kamu sudah bersuami?" tanya Eddy.
Shalimahn dan Radite langsung pucat pasi.
"Ada yang mau kalian katakan?"
Shalimah dan Radite diam.
"Jadi gini Shalimah, barusan Papa habis meeting. Papa sudah memecat marketing manager kantor ini menjadi staff administrasi gudang biasa. Dan marketing manager itu tak akan menerima gaji satu rupiah pun karena semua gaji akan langsung masuk ke istri sahnya."
"Dan mantan marketing manager itu dari jam 08.00 sampai jam 05.00 tidak boleh keluar kantor sama seperti pegawai lainnya."
"Jadi kamu siap-siap aja kamu tidak akan didatangi oleh SUAMIMU siang hari seperti kebiasaannya selama ini," Eddy langsung menyalakan video di laptopnya di sana terlihat bagaimana bahagianya Shalimah dan Radite selama di Bengkulu.
"Jadi ini yang bikin kamu delapan hari mangkrak dari tugasmu!" kata Eddy.
Radite pucat pasi.
"Karena perbuatan kalian empat belas karyawan yang setia pada Radite untuk menutupi semua kebusukan kalian terkena imbasnya. Mereka jadi cleaning service atau housekeeper kalau tak mau resign."
"Mulai hari ini juga kamu Radite, keluar dari rumah itu tanpa mobil. Semua hutang kartu kredit harus kamu bayar sendiri tanpa uang gaji dari Dinda karena rekening yang Dinda serahkan ke kantor adalah rekening panti asuhan milik mamamu!"
"Dan untuk kamu Shalimah, terima kasih kamu sudah menikah. Mulai hari ini kamu bukan anak angkatku. Tak ada lagi jatah bulanan karena itu sudah tanggung jawab suamimu!"
"Sejak dulu kamu tidak saya masukkan sebagai anak angkat secara hukum resmi. Untungnya feeling mamamu betul, kamu tidak usah dimasukkan sebagai anak angkat karena dia merasa akan ada sandungan. Ternyata memang kamu menikamku seperti ini," kata Eddy lagi.
"Maafkan aku Pa, maafkan aku!" Shalimah langsung bersujud di kaki Eddy memohon maaf.
"Maafmu tak ada gunanya silakan kalian keluar. Kalian mau bicara terserah batas waktu Radite memindahkan barang dari ruang kerja dan barang dari rumahnya cuma hari ini."
"Sesudah itu kamu Radite mau tinggal satu rumah dengan Dinda atau dengan Shalimah, Papa tak mau tahu."
"Maaf Pa, SAYA TAK MAU HIDUP DENGAN SAMPAH yang telah menipu saya sejak menikahi saya. Anak mereka sudah satu tahun, artinya sejak kami nikah dia sudah hidup dengan Shalimah. SAYA JI-JIK DENGAN PELAKU ZINAH!" Ucap Dinda tegas.
Radite menutup wajahnya. Dia ingat wajah berang Dinda kala itu.
Radite tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya perasaan Dinda melihat dan merekam langsung kemesraan suaminya dengan perempuan lain.
Tanpa bisa dicegah Adit menangis terisak. Dia tak percaya telah sangat menyakiti perempuan yang dia cintai.
Perempuan itu ibu anak-anaknya.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER
__ADS_1