REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
REKENINGNYA TAK TERSENTUH


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


"Gimana?" Tanya Eddy saat Rizaldy telah duduk di ruangannya.



"Sesuai yang Bapak perintah, dengan rekomendasi pengacara juga surat polisi serta izin dari Bapak selaku CEO saya sudah minta salinan rekening bu Dinda Pak."



"Ternyata ibu Dinda tidak pernah mengambil satu rupiah pun dari tabungan yang selama ini kita setor gaji secara rutin."



"Pada salinan itu juga tertulis ada uang masuk dari rekening Mas Adit tiap bulan.  Mas Adit setor semua uang gajinya langsung ditransfer."



"Tapi semua tidak pernah diambil satu rupiah pun oleh ibu Dinda."



"Pengeluaran terakhir lima hari sebelum aqiqah untuk pembelian baju. Lalu di ambil cash 580 juta."



"Bisa tahu di bank mana dia ambil uang itu?" Tanya Adit.



"Bank terdekat dengan rumah anda mas Adit." Rizal memyerahkan copy rekening bank milik Dinda.



"Baik terima kasih Zal.  kamu bisa keluar. Tapi saya tekankan, sebelum saya suruh berhenti kamu harus terus transfer gaji dia tiap bulan sesuai dengan jadwal gajian semua pegawai," Eddy berpesan pada Rizal sebelum lelaki itu keluar.



"Baik Pak," kata Rizal yang langsung pamit keluar ruangan Eddy.



Radite dan Edi kaget mendengar itu. Dinda sama sekali tidak pernah mengambil uang tabungannya!



"Lalu mereka makan dari mana?" Adit semakin terpuruk dia tak pernah percaya bahwa Dinda benar-benar tak butuh dirinya padahal Dinda membawa dua anak mereka.



Sekarang balas dendam atau REVENGE Dinda terasa sangat menyakitkan buat Adit. Dirinya telah bersalah karena perbuatannya dengan Shalimah dan  sekarang mendapatkan pembalasan yang sangat menyakitkan.



Tiga bulan Dinda tak pernah mengambil uang satu rupiah pun dari tabungan.



"Kamu sabar Dit dari detektif mu apa ada perkembangan?"



"Aku tadinya mau lacak dia dari data pengbilan uang terakhir kalau kita tahu uangnya diambil dari mana ATM mana."


__ADS_1


"Kan kita bisa lacak kota itu. Nah kalau uang aja nggak pernah diambil kita mau lacak dia dimana Pa?"



"Enggak ada mutasi keluar sama sekali.  Kalau ada mutasi keluar misalnya ditransfer ke rekening siapa, kan kita bisa lacak ini sama sekali nggak ada mutasi juga," jelas Adit.



"Aku duga dia sudah prepare Pa. Aku yakin 500 juta pasti dia masukin ke tabungan baru. Saat mau aqiqah dia cuma butuh sedikit buat masukin di amplop bagi anak-anak panti asuhan."



"Iya, dia ambil 500 juta buat apa saat sebelum aqiqah. Itu pasti karena sudah lihat CCTV. Dia sudah memperkirakan akan meninggalkanmu kalau kamu enggak jujur membuka masalah."



"Dan dia tunggu sampai last minutes kamu enggak juga jujur. Jadi semua tinggal dia lakukan. Dia pasti udah siap sebelum mulai masuk kantor."



"Koq bisa ya Pa?" keluh Radite.



"Kenapa nggak bisa? Itulah perempuan utama itulah perempuan yang hebat. Kamu tahu kan sekarang bahwa tanpa perhiasan sepotong pun yang dia bawa tanpa tabungan dari kita dia bisa bertahan hidup."



"Gimana dengan kartu kreditnya Pa?"



"Dinda enggak pakai kartu kredit kok," kata Eddy.




"Punya tapi nggak pernah ada pemakaian sejak dulu. Papa tahu dia nggak suka pakai."



"Cari aja surat tagihan kartu. Kan tagihannya jatuh ke kantor," Eddy memberi saran pada Radit.



Saat itu pintu ruangan diketuk Shindu.



"Surat-surat tagihan Pak," ujar Shindu.



"Eh ada surat untuk Dinda enggak?" Tanya Adit.



"Ada Pak, mau di taruh di mejanya atau Bapak pegang aja?" Kadang Shindu memang memanggil Adit dengan sebutan bapak tapi ya kadang dia panggil Mas.



"Sini biar saya pegang," pinta Adit.


__ADS_1


"Baik Pak, saya permisi," Shindu langsung pamit.



"Kamu buka aja," ucap Eddy.



"Enggak pernah ada transaksi apa pun yang terlihat disana Pa."



"Ini malah diberikan limit tambahan." ujar Radit membuka dua surat atas nama istrinya.



"Hebat,  limit ditambahin terus padahal nggak pernah dipakai."



"Begitulah Dinda. Itu bikin dulu kan karena kamu bikin lalu kamu ajak bikin."



"Kita tinggal nunggu detektif kamu. Semoga aja cepat ada hasil.



"Apa Papa bantuin lah Pa. Minta anak buah Papa untuk cari juga," pinta Adit.



"Eh kamu tuh nggak usah ngomong seperti itu Papa juga udah suruh anak buah Papa."



"Enggak mungkin Papa enggak nyari. Dia itu anak Papa. Dia bukan sekedar menantu,  terlebih dia bawa cucu-cucu Papa."



"Enggak mungkin Papa nggak cari," kata Eddy.



"Dan ingat sampai kapan pun perusahaan ini bukan milik kita. itu milik Ghibran dan Ghifari. Sampai kapan pun jangan pernah otak-otak harta mereka."



"Aku tahu saham milik mereka Pa. Enggak akan mungkin pakai harta itu."



"Ini aja karena aku masih tinggal di rumah Papa semua uang aku aku masukin ke rekeningnya Dinda. Enggak aku ambil sedikit pun. Aku ambil uang bensin dari uang tabunganku."



"Aku dirumah Papa nggak keluar uang rokok, makan atau  apa pun jadi semua uang aku masukin ke rekening Dinda sebagai nafkah untuk anak-anakku. Rizal tadi kan ngomong aku selalu setor gajiku ke sana."



"Setidaknya kalau dia suatu saat butuh dia bisa pakai uang itu," ucap Eddy lirih pada dirinya sendiri.



"Semoga aja Dinda tak pernah kepepet." Eddy sangat takut bila cucu-cucunya sakit dan Dinda tak punya uang. Tapi sekarang setelah seperti ini dia yakin Dinda tak kekurangan satu rupiah pun.

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING



__ADS_2