
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Kok bisa gitu Yank?" tanya Adit dengan lembut.
"Maksud Mas apa?"
"Gimana kamu hari pertama kerja aja bisa lihat banyak kesalahan seperti itu?"
"Sejak dulu aku banyak bikin kesalahan kok kamu diem."
"Kalau soal kamu aku masih berpikir kamu itu anaknya pemilik perusahaan. Itu yang pertama."
"Yang kedua aku belum punya bukti buat bongkar semuanya. Aku tahu kamu main di belakang aku, tapi aku nggak punya bukti Mas."
"Aku enggak mau ngira-ngira, aku bukan cenayang. Semua harus ada bukti real. Dan aku temukan itu di Bengkulu."
"Semua datamu aku tahu sejak awal. Lihat dong eggak sampai 2 jam di kantor aku bisa lihat semuanya. Maka tadi kenapa Ronald bertanya dulu pada Shindu karena aku lihat dia banyak data yang menyimpang."
"Ya ampun kamu ya, kok bisa lihat penyimpangan walau hanya sekilas. Pantes papa nggak pernah mau ngelepas kamu," ucap Adit.
"Iyalah, aku kan anaknya, bukan kamu."
"Ih kamu tuh." Protes Adit.
"Kenyataannya seperti itu," kata Dinda lagi
"Ya udah sekarang kita makan yok," ajak Adit.
__ADS_1
"Enggak aku mau video call aja sama para pangeranku, Mas beli makan."
"Mas juga mau video call," ucap Adit. Padahal mereka tetap bisa melihat jagoannya dari ponsel yang terhubung CCTV di rumah.
Tetap saja mereka lebih suka video call dengan anak-anak karena ada interaksi dengan merela.
"Ya sudah Mas pesan makan. Eh papa apa sudah makan?" Tanya Dinda.
"Aku belum ke tempat papa kan gara-gara ada kamu. Biasanya Mas sehari bisa 2 kadang lebih ke ruang papa buat tanya sesuatu atau diskusi."
"Ya sudah kita keruang Papa dulu, tanya papa dia mau makan apa," ajak Adit.
Adinda Suryani membawa ponsel dan dompet dan menuju ruangan mertuanya.
\*\*\*
"Tadi kami sampai sini jam 09.00 kurang lah Pa. Berangkat dari rumah jam 08.10," kata Dinda.
"Papa udah makan belum?" Dinda selalu penuh perhatian pada papa mertuanya.
Tadi Dinda membawakan satu tangkep roti isi smoke beef buat Eddy.
"Belum ini baru mikir mau makan apa."
"Aku kepengen nasi rawon Pa. Kayaknya enak deh kalau kita pesan nasi rawon."
"Nah boleh tuh." Jawab Adit.
__ADS_1
"Iya Papa juga setuju," jawab Eddy.
Akhirnya mereka pun sepakat memesan nasi rawon di kantin.
"Lauknya apa Bun?" tanya Adit.
Dinda berpikir sejenak.
"Perkedel kentang Mas, sama perkedel jagung."
"Papa tambah paru goreng," jawab Eddy.
"Nah iya bener Pa, paru gorengnya yang punya aku nggak kering Mas," jawab Dinda.
"Oke," Adit memesan nasi rawon dengan paru goreng juga perkedel.
Eddy bahagia anak dan menantunya terlihat rukun. Tapi Eddy merasa harus memperingatkan Adit jangan sampai lengah.
Dinda ibarat gunung berapi aktiv yang berada di laut. Terlihat hanya sedikit yang tumbuh diatas permukaan air. Padahal dibawah laut sosoknya sangat kuat dan besar.
Tadi jelas Dinda membuka satu kebohongan Adit saat pulang dari Bengkulu. Belum lagi banyak rekamam yang Dinda buat dengan tegar melihat kemesraan Adit dan Shalimah.
Potensi itu siap meledak kapan pun ketika Adit salah langkah. Dan itu akan berakibat sangat fatal.
'*Adit tak boleh tumbang. Dia harus ekstra hati-hati*.'
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA
__ADS_1