
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Dan aku akhirnya bisa dapat uang buat beli rumah yang sudah papa sita itu. Dirumah itu ada dua pembantu dan satu pengasuh bayi. Shalimah tak pernah membuatkan aku secangkir kopi apalagi masak seperti yang Dinda lakukan sebelum berangkat kerja."
"Aku juga tak tahu kalau malam dia keluar cari mangsa karena aku tak pernah menginap malam. Aku baru tahu saat rumah disita papa dan pembantu cerita padaku."
"Kasihan Bram, kalau pergi harus sedikit kepanasan saat nunggu taksi. Papanya orang mampu tapi enggak perhatiin anaknya," demikian jebakan Shalimah berikutnya Pa. Sebelumnya dia minta mobil tapi tak aku gubris. Begitu alasannya buat Bram aku tergerak mewujudkannya Pa."
"Jadi jangan pernah mengira aku mencintai Shalimah diatas segalanya. Aku hanya cinta Adinda. Aku akrab dengan Shalimah semata-mata demi anak yang aku kira dia darah dagingku Pa."
"Shalimah pernah satu kali tahu aku dan Dinda ngecek ke lapangan bareng. Dia pun ingin selalu jalan-jalan. Mulailah dia menggangguku."
"Kasihan Bram kalau di rumah terus. Aku ikut saat kamu kunjungan kerja ya biar Bram bisa ganti suasana. Itu awal dia mulai ikut keluar kota 5 bulan sebelum kami kepergok Adinda."
\*\*\*
"Sebegitu jahatnya Shalimah. Aku pernah salah apa padanya?" Adinda mendengar semua cerita Radite. Sejak Radite bercerita tentang Shalimah, Eddy menghubungi Adinda dan dia letakkan ponsel tanpa anaknya tahu kalau ponsel Eddy tersambung dengan Adinda karena diletakkan terbalik.
Adinda tak percaya Radite terjebak Shalimah sejak lelaki itu semester 5.
__ADS_1
Sekarang Adinda tahu betapa kejamnya adik angkat mantan suaminya yang telah dipungut dari panti asuhan sejak berumur dua tahun itu.
\*\*\*
'*Aku minta waktu buat bicara. Ini berkaitan dengan hasil pemeriksaanku di dokter kemarin sore*,' Adinda membaca pesan yang Radite kirimkan di ponselnya.
'*Sakit apa ya mas Adit sampai minta waktu untuk bercerita. Apa dia sakit parah*?' pikir Adinda.
Sejak semalam Adinda sulit tidur mengetahui bahwa selama ini Radite itu korban penipuannya Shalimah dan berkali-kali Adinda mendengar Adit hanya mencintai dirinya seorang.
Saat Radite bicara masalah kesehatannya, Eddy belum menghubungi Adinda, sehingga Dinda belum mendengar masalah kehamilan simpatik Adit.
'*Nanti sehabis pulang kerja temui aku di cafe belimbing*,' jawab Dinda.
'*Siap*' kata Radit.
\*\*\*
"Ada apa?" tanya Dinda ketika mereka sudah bertemu di cafe sore menjelang malam.
__ADS_1
"Aku kemarin ke dokter spesialis penyakit dalam, bukan sekedar ke dokter umum karena kondisi yang aku alami setiap pagi." Adit memulai pembicaraan.
"Aku nggak sakit!"
"Kalau enggak sakit, kenapa harus hubungi aku dengan bilang akan memberitahu hasil testmu?" Adinda tentu bingung karena permintaan Adit bertemu untuk membahas hasil test kesehatan Adit.
"Karena ini berhubungan dengan KITA," ucap Radite dengan yakin.
"Aku nggak ngerti maksudmu."
"Dokter menyuruh aku membawamu ke rumah sakit untuk periksa kandungan," Adinda langsung terkesiap mendengar apa yang Adit katakan.
"Maksudmu?" Tanya Adinda.
'*Apa karena Radite terbukti bisa membuahi lalu aku harus test kesuburan lagi? Aku bisa ketahuan sedang hamil dong*?' pikir Dinda. Dia tak ingin Adit tahu keberadaan anak-anaknya.
"Jadi gini, kamu search tentang kehamilan simpatik atau couvade syndrome di google deh." Jelas Radite.
"Atau kamu baca tulisan dokter tentang kondisi aku saat ini. Semua itu terjadi karena kamu sedang hamil!"
__ADS_1
Dengan gemetar Adinda menerima secarik kertas yang Adit sodorkan padanya.