
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Masuk," jawab Adit mempersilakan yang mengetuk pintu untuk masuk.
"Loh kok barengan?" tanya Dinda pada Rizaldy Thohir manager finance dan Ronald Karouwan kepala divisi marketing.
"Saya dan pak Rizaldy barusan ketemu di ruang Pak Shindu Bu." Jawab Ronald.
"Saya kira pak Shindu juga ikut ke sini," Kata Rizaldy.
"Kenapa kalian tanya Pak Shindu? Yang manggil kan saya bukan Pak Shindu?"
"Tadi waktu pas dipanggil saya sedang diskusi dengan Pak Shindu Bu," jawab Ronald.
"Karena biasanya waktu Ibu belum hadir saya diskusi dengan pak Sindhu, nanti baru ke Pak Eddy. Jadi saya tanya dulu sama Pak Shindu," lanjut Ronald lagi.
"Begitu?" kata Dinda datar.
"Iya saya tanya semua datanya sama nggak dengan Pak Shindu."
"Kalau berbeda saya yang curiga," jawab Dinda cepat.
"Mana mungkin bisa beda? Saya hanya takut ada yang ketlingsut saja Bu."
"Ketlingsut satu kali itu wajar tapi kalau berkali-kali itu kesengajaan," kata Dinda.
"Iya Bu. Ada kok di laptop semuanya," kata Ronald.
__ADS_1
Rizaldy sudah tahu karakternya Dinda jadi dia tidak kaget melihat suara dan wajah datarnya Dinda kalau sedang bekerja.
Padahal kalau sedang bicara dengan Adit dan Eddy, Dinda sangat ramah juga lembut.
"Pak Rizaldy tolong cek data Cilegon, kok kayaknya ada selisih 3%," kata Dinda pada Rizaldy.
'*Bagaimana mungkin di hari pertama dia sudah bisa tahu ada selisih 3*%?' pikir Adit.
'*Pantas selama ini dia selalu tahu perhitunganku yang sampai berapa puluh kali lipat tapi dia nggak pernah negur di forum. Ternyata Dinda sangat menjaga wibawaku sampai dia melihat sendiri bagaimana aku dan Shalimah di pantai*,' pikir Adit lagi.
"Masa sih Bu?" Rizaldy orang yang super teliti sampai bingung.
"Cek dulu baru jawab," Ronald kaget di hari pertamanya Dinda langsung bisa mengetahui sedikit selisih perhitungan Rizaldy, padahal Rizaldy adalah orang yang sangat teliti.
"Masuk logika enggak sih?"
"Dalam satu kota aja enggak semua harga sama, harga garam satu bungkus aja nggak sama kok, apalagi harga bahan bangunan."
"Ini koq bisa sama persis? Pak Ronald tolong print dua data itu rangkap empat." Pinta Dinda.
Ronald langsung menghubungkan laptopnya ke printer di ruangan itu lalu di print lengkap 4 diberikan kepada Dinda juga Adit dan Rizaldy.
"Perhatikan titik komanya sama persis Banyuwangi dengan Magelang, masuk logika nggak sih?" Cecar Dinda.
__ADS_1
"Kalau PR bahasa Indonesia atau bahasa Inggris copy paste itu masih wajar, tapi dua daerah berjauhan copy paste itu saya bilang enggak masuk nalar!"
"Jangankan Magelang dengan Banyuwangi Magelang dengan Klaten yang dekat aja harga udah jauh beda. Padahal Magelang yang kotanya dengan Jogja cuma berbatasan pagar bambu harganya udah beda ini bagaimana dengan Banyuwangi dan Magelang?"
Adit pucat pasi melihat kemampuan Dinda menganalisa suatu persoalan.
'*Bagaimana bisa Dinda seperti itu di hari pertama kerja padahal di rumah pun tak pernah ngecek soal kerjaan? Benar-benar macannya kantor*!'
"Sudah bisa menganalisa data itu pak Rizaldy?"
"Saya baru lihat Bu."
"Anda baru lihat? Sudah lebih dari 10 menit nggak bisa dianalisa?" tanya Dinda.
"Iya Bu saya ngerti, ini tidak mungkin." Jawab Rizaldy.
"Enough! Saya cuma butuh jawaban itu kok."
"Saya nggak butuh anda ngitung. Saya cuma tanya itu masuk logika apa nggak?"
"Cukup ya pertemuan kita kali ini. Pak Rizaldy saya minta data yang lainnya di revisi. Kesalahan penyimpangan 3%-nya saya udah tahu tapi Bapak belum jelaskan ke saya mengapa bisa selisih 3%."
"Itu baru satu data yang saya buka karena saya baru masuk hari ini dan di rumah saya nggak pernah cek data kantor karena tidak ada berkas kantor di rumah saya," kata Dinda.
Rizaldy dan Ronald pun pamit dari ruangannya Dinda.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
__ADS_1