REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
HARUS GERAK CEPAT


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



"Jadi kalian akan mengadakan aqiqahnya hari Sabtu depan?" Eddy memastikan karena hari ini sudah hari Kamis. Kalau hari Sabtu besok tentu terlalu mepet waktunya.



"Iya Pa," jawab Dinda.



"Jadi malam Jumat kita bikin pengajiannya, itu kita undang ibu-ibu dan bapak-bapak di sekitar sini juga para saudara Pa."



"Malam Jumat?" Eddy bingung tadi bilang hari Sabtu aqiqah, kenapa makan-makan harus Sabtu siang? Bukankah kalau aqiqah bisa pesan tak perlu masak sendiri?



"Kenapa acaranya makan-makan dibikin Sabtu siang?"



"Untuk konsumsi malam Jumat itu kita potong kambing aqiqah satu anak Pa. Malam Jumat pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu."



"Lalu yang hari Sabtu siang aku bikin  untuk anak-anak panti asuhan Pa. Konsumsi dua kambing lagi."



"Oh jadi nggak serentak ya?"



"Iya Pa sayang kan empat kambing dijadiin satu. Sedang banyak orang nggak makan kambing pasti nanti ada yang pilih lauk ayam atau ikan."



"Kalau kita tambahin menu ayam dan ikan sayang lah kambingnya kan kalau aqiqah kan harus berupa yang sudah matang," kata Adinda.



"Lagian kalau digabung suasana enggak kondusif Pa."

__ADS_1



"Papa manut kalau kayak gitu. Jadi kalian undang dua kali bapak-bapak dan ibu-ibu malam Jumat lalu anak-anak panti asuhan hari Sabtu siang. Oke Papa setuju,"  kata Eddy tanpa protes.



"Kami minta izin buat pasang tenda sejak  dari hari Kamis pagi atau Kamis siang maksimal ya Pa. Dan  akan dibongkar nanti hari Sabtu malam atau hari Minggu pagi," Adit minta izin Eddy soal pemasangan tenda.



"Kalian atur sama tempat penyewaan aja." Eddy tak habis pikir mengapa Adit minta izin padanya.



"Kami memang bisa atur itu, tapi kan tetap harus izin Papa sebagai pemilik rumah," kata Dinda.



"Kayak ke siapa aja. Lakukan semua terserah kamu," rupanya ini yang membuat Adit minta izin. Dinda yang mengajar Adit berbuat sopan karena merasa ini bukan rumah mereka.



"Ya Pa, nanti aku atur," ujar Adit.




Eddy berpikir bagaimana caranya menekan Mukhtar agar mau buka suara.


\*\*\*



"Dit, Papa punya ide."



"Ide apa Pa? Soal apa?" Tanya Radite. Saat ini mereka di kantor, di ruang Eddy sehabis pulang salat Jumat. Sedang menunggu makan siang yang mereka pesan.



"Gimana kalau kita bilang kita kurangin hukuman Mukhtar biar dia mau kasih tahu siapa oknum yang ingin menyingkirkan kalian?"


__ADS_1


"Ya nggak bisa lah Pa. Hukuman kan ditentuin Hakim. Kita jangan bermain kotor dengan menyuap hakim Pa. Nanti malah kita ketempuan."



"Sangat berbahaya kalau kita ketahuan menyuap hakim untuk mengurangi hukumannya Mukhtar," Radit tak setuju bila mereka main kotor. 



"Kalau kita kasih dia jasa pengacara gimana Pa?"



"Kan dia lagi nggak punya uang buat bayar pengacara. Kita kasih dia pengacara tapi urusan dia tertolong atau tidak oleh pengacara itu bukan urusan kita."



"Yang penting kita sudah bayar pengacara itu dengan catatan dia mau memberitahu siapa sosok yang menyuruhnya melakukan eksekusi mencelakai Dinda."



"Bisa juga seperti itu Dit. Tapi harus gerak cepat."



"Kenapa Pa?"



"Papa takut ada apa-apa saat aqiqahan besok. Takutnya orang itu datang pada saat aqiqah gimana?"



"Wah janganlah Pa."



"Itulah Papa takut keselamatan anak-anak setelah mereka atau dia, tahu bahwa Papa punya cucu. Pasti fokusnya dia akan mencelakai cucu Papa atau menculik atau bagaimana lah caranya supaya dia punya cara merebut harta kita."



"Kalau gitu aku akan bergerak cepat membuat Muchtar mau bekerja sama dengan kita," kata Adit. Adit tentu tak mau kedua putranya celaka.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel keren karya teman yanktie yang bernama NAZWA TALITA


dengan judul novel CINTA DUA DUNIA ya

__ADS_1



__ADS_2