REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
LELE GORENG BUATAN BIBIK


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



 "Aku pulang ya Pa," Adinda bersiap untuk pamit. Dia lelah dan ingin tiduran. 



"Nanti aja Dind, makan siang di sini aja. Nanti habis makan baru kamu pulang," tolak Eddy.



"Emang Papa mau aku masakin apa?"



"Enggak dimasakin apa-apa cuma kamu di sini aja sampai makan siang. Mungkin kamu yang ingin dimasakin sesuatu oleh bibik?" Tanya Eddy.



"Enggak pengen  apa-apa sih Pa. Tapi kalau mau masak, suruh bikin karedok aja lah. Aku kepengen karedok yang pedas manis,"  kata Adinda.



"Biiik," panggil Eddy.



"Ya Tuan," sang bibik mendatangi tuannya.



"Buatkan karedok ya, bumbunya pedas manis. Pakai lontong." Pinta Eddy. Dia memanggil bibik untuk bikin karedok seperti permintaan Adinda.



"Iya Tuan," kata bibik.



'*Semoga di pasar masih ada lontong agar aku enggak harus bikin sendiri*,' batin si bibik.



"Lauknya tempe garit di goreng panas-panas enak itu Bik," timpal Adinda.



"Iya Mbak, nanti dibelikan tempe daun yang kecil-kecilnya."



"Ada pesan lain?" Tanya si bibik.

__ADS_1



"Enggak sih," Adinda bilang dia tak ingin memesan yang lain lagi.



"Aku ada Bik," kata Radite.



"Tambah lele goreng seperti biasa yang besar dan jangan terlalu kering gorengnya."



"Baik Mas Radite."



"Wah enak tuh lele goreng,"  kata Dinda sambil membayangkan lele goreng dengan karedok.



"Aku ngidam lele gorengnya Bibik. Udah lama nggak makan lele goreng buatan Bibi." Jawab Radite.



"Ada pesan apa lagi Tuan?" kata bibi pada Eddy




Bibik pun mundur ke dapur ingin membeli bahan yang kurang untuk bikin karedok juga membeli lele dan tempe bungkus daun.



Lalu mereka bicara tentang hal-hal yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan dan kehidupan pribadi masing-masing.  Tentang cuaca, tentang macetnya ibukota dan segala macam. Eddy memang menghindari masalah yang sensitif buat kedua anak dan menantunya itu, agar tak ada keributan antar keduanya.



"Kalau mau istirahat, ya istirahat dulu Dind," kata Eddy.



Dinda dan Radite memang punya satu kamar di dalam di rumah ini. Ya hanya satu kamar karena mereka kan dulu suami istri jadi kamar mereka ya satu bukan kamar terpisah.



"Iya Pa, aku tiduran dulu ya.  Rasanya aku kenyang dan ngantuk," jawab Adinda.



Eddy mengerti ibu hamil ingin istirahat dan tidur.


__ADS_1


Adinda masuk ke kamarnya, menutup pintu tanpa dikunci tentunya. Adinda  menyalakan AC dan TV kamar dia menyetel musik lalu tidur. Musik bukan buat ditonton hanya buat didengarkan aja sebagai pengantar tidur.


\*\*\*



'*Tunggu pembalasanku*!' 



Pagi ini Adinda bersiap berangkat kerja. Dia membawa macaroni schotel yang buat Radite dia tambahkan banyak saos sambal sachet karena dia tahu suaminya sangat suka makan macaroni schotel dibubuhi banyak saos sambal.



![](contribute/fiction/6733020/markdown/10636434/1682025297623.jpg)



Yups! Radite masih suaminya karena perceraian mereka sudah dibatalkan tanpa sepengetahuan Radite.



Tentu saja Radite sangat suka sarapan kali ini. Seperti pagi-pagi biasanya, Adit atau Radite sarapan di ruang papanya.


\*\*\*



Usia kandungan Adinda masuk delapan minggu, sudah mulai terlihat sedikit membuncit bila dia lihat di kaca meja riasnya. Tapi kalau selintas tak ada yang tahu. Pipinya mulai gembul karena dia banyak makan.



"Nanti sore aku harus periksa kandungan. Aku ajak papa enggak ya? Tapi enggak enak ah. Nanti dikira orang-orang ini anak papa. Cukup kehadiran papa di pemeriksaan pertama aja." Adinda meneruskan membaca berkas yang harus dia teliti.



"Pa, untuk sementara aku membatasi peninjauan ke lapangan ya Pa. Aku enggak ingin baby twins kenapa-kenapa di perjalanan," Adinda memberitahu Eddy dia membatasi geraknya. Saat ini dia sedang meminta tanda tangan Eddy.



"Iya. Papa setuju banget. Kalau perlu kamu mengurangi masuk kantor juga enggak apa-apa. Papa enggak pengen kamu seperti mamanya Radite yang keguguran dua kali. Papa takut kamu akan lama lagi dapat momongan karena benih Radite kan lemah."



"Ya belum tentu Pa. Mas Adit kan rajin berobat. Pasti dia sudah mulai berkembang baik kesehatannya," Adinda tak ingin Eddy sedih karena kesehatan Radite.



Adinda tak berpikir kalau ucapannya sangat ambigu. Kalau dia keguguran dia tak takut lama punya momongan karena dia yakin Radit sekarang sudah subur. Artinya kan dia mau hidup bersama Radite lagi! 


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA



Untuk yang merayakannya, yanktie menyampaikan mohon maaf lagir batin

__ADS_1



__ADS_2