
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Mas berangkat kerja dulu ya sayank," pamit Adit pada Dinda.
"Hati-hati ya Mas," Dinda memeluk tubuh suaminya.
"Insya Allah Mas akan hati-hati," Adit mengecup kening istrinya. Dinda salim pada suaminya.
"Jagoan-jagoan Ayah, Ayah berangkat kerja dulu ya sayank."
"Enggak boleh rewel, jangan ngerepotin Bunda," Adit mencium Ghifari dan Ghibran.
Tadi Dinda sudah memberi pesan pada mbok Asih dan mbok Marni suruh ke dapur untuk sarapan, sehingga sekarang mereka harus siap di kamar.
Dinda mau menemui tante Tasih.
"Saya berangkat dulu Tante," kata Adit tanpa salim. Sesungguhnya dia sudah sangat benci pada Tasih yang melemparkan kesalahan atas meninggalnya Irwan pada dirinya. Jelas-jelas Irwan yang dorong dia hingga kepalanya bocor.
Dan Irwan pula yang lari kabur karena takut jarum suntik sehingga ketabrak mobil.
"Sudah mau berangkat?"
"Iya," Adit langsung berlalu, Dinda menemani Adit sampai teras.
Sekarang Adit sudah menggunakan mobil miliknya lagi.
"Jangan lupa Mas besok kita kontrol babies." bisik Dinda.
__ADS_1
"Nah itu gimana kalau ada orang itu di rumah?"
"Aku lagi mikir gimana caranya, yang penting besok kita berangkat," jawab Dinda.
"Iya sayank, Mas manut," Adit kembali mengecup kening istrinya.
"Hati-hati ya Mas. Jangan lupa nasinya dimaem."
"Ya sayank Mas pasti nggak lupa."
"Tapi tetep makan siang lho Mas."
"Ya nggak tahu kalau soal makan siang, takutnya masih kenyang lalu Mas keburu pulang. Jadi nanti makan siangnya pakai cemilan sore di rumah aja."
"Tadi katanya pengen nasi goreng, sekarang bilang kenyang."
"Kabari kalau udah sampai lho Mas."
"Apa pengen Mas dirumah aja?" goda Adit.
"Ihhh, Mas dirumah, aku yang kerja kantor deh," balas Dinda.
"Yeeee, trus Mas belajar dari kamu nya kapan kalau kita selalu enggak pernah satu kantor?"
"He he he, sabar yaaaa ya. Habis aqiqah kan aku mulai masuk kerja walau awal kerja setengah hari doang," jawab Dinda.
"Ya sudah sayang Mas akan kabarin kalau sampai kantor." kata Adit.
__ADS_1
\*\*\*
Belum sampai kantor Adit sudah menerima telepon dari pengacara yang menangani Muchtar.
"Iya bagaimana Pak? Selamat pagi," sapa Adit.
"Iya Pak Adit. Saya mau kasih khabar soal yang pak Adit minta kemarin."
"Sudah dapat info akurat. Bagaimana hasilnya?" tanya Adit antusias sambil mematikan mesin mobil. Dia telah tiba di kantor.
"Ini agak sedikit masuk link keluarga bapak sendiri tapi tidak berhubungan kekerabatan langsung Pak."
"Kalau Pak Adit itu adalah keponakannya bu Tasih karena dia adik sepupu mama anda. Jujur saya agak bingung nih ceritanya."
"Kakak ke dua Bu Mintarsih yang bernama Minarni kan suaminya bernama pak Yakob. Nah Mukhtar itu adalah keponakan Yakob dari sepupu jauhnya."
"Jadi ya jauh banget sih. Bahkan sebenarnya tak ada hubungan karena kan Yakob hanya kakak ipar Tasih dan orang tua Mukhtar hanya sepupu jauh Yakob."
"Mereka bertemu di suatu pertemuan arisan keluarga dari keluarga Yakob Pak. Itu info yang saya dapatkan."
"Ngapain Tasih ikut pertemuan keluarga Yakob? Dia kan bukan keluarga di situ."
"Kebetulan kemarin juga saya tanya seperti itu Pak. Muktar bilang Tasih disuruh oleh Minarni untuk menemaninya Karena pada saat itu Yakob sedang tidak enak badan."
"Tasih dan Mukhtar ngobrol-ngobrol dan bisa nyambung akhirnya tercetus ide buat membunuh pak Adit."
"Tapi karena mendengar dari Mukhtar kalau Dinda sedang hamil maka target dialihkan kepada Mbak Dinda karena menurut Tasih kalau bu Dinda mati pasti pak Adit juga terluka."
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR
__ADS_1