REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
KALIAN SUKA DEKAT AYAH?


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Wah mborong nih," Dinda mendengar suara yang sangat akrab di telinganya. Suara yang sering membisikkan kata-kata cinta setiap malamnya baik sebelum mau pun sesudah mereka bercinta.



"Eh enggak lagi cari bahan buat masak aja," jawab Adinda.



"Sekarang rajin masak ya? Lebih rajin dari kebiasan dulu?"



"Lagi kumat aja. Pagi bengong jadi masak banyak sebelum berangkat kerja." Jawab Adinda.



"Terima kasih loh selama ini di kasih sarapan."



"Baru dua kali kok dibilang *selama ini* sih. Lebay deh dilebih-lebihkan."



"Ya enggak apa apa lah tetap aja terima kasih."



"Oh iya mau bikin apa?" Radite melihat trolly yang di dorong Adinda.



"Aku pengen bikin apa sih, susah ngomongnya.  Pokoknya bahan buat bikin mie goreng, kwetiau goreng, nasi goreng, bihun goreng gitu aja sih. Pokoknya apa aja yang buat sarapan pagi aja. Biar enggak roti doang."



Yang menegur adalah Radite. Radite melihat banyak bakso, ayam udang, cumi yang sudah bersih nugget, slice daging dan banyak lagi. 



Ada juga sawi hijau, kol, bawang bombay, kecap, selada, tomat, timun dan aneka bumbu seperti lada, garam, ketumbar dan yang lainnya.



Ada bahan pasta, spagheti dan lasagna serta daging cincang, mustard, mayonaise segala macam saosnya.  Ada banyak ayam cincang sosis melengkapi belanjaan Adinda.



"Mas lagi beli apa?"



"Aku cuma beli kopi. Sekarang aku cuma bisa minum kopi pahit kalau pagi itu pun harus kental. Entahlah hari ini tadinya mau ke dokter tapi tadi daftar sudah penuh jadi nggak bisa karena kuota pasien sudah full."



"Ya harus dicek lah."



"Iya besok. Tadi aku sudah daftar untuk besok. Hari ini kuota jumlah pasien sudah nggak ada."



"Oh gitu daftar online ya?"



"Tadi aku datang langsung saat mendaftar. Ternyata bisa online. Jadi aku tadi langsung daftar online dulu sehingga kalau datang sudah pasti dapat." 


__ADS_1


'*Kalian tahu ya Ayah kalian ada disini? Kok Bunda kok jadi punya perasaan tenang dekat dia. Apa kalian seneng*?' Adinda bertanya pada kedua anaknya dalam hati sambil mengusap selintas perut datarnya.



'*Kalian suka kalau dekat-dekat ayah*?' tanya Dinda lagi. Tentu hanya dalam hati.



"Masih mau cari apa?"  tanya Adit.



"Enggak sih paling tinggal sayurannya sawi hijau sama apa ya? Udah sih tapi aku juga pengen bikin cah paprika. Kayaknya cumi masak paprika enak."



"Kayaknya paprika  di rak sana deh," tunjuk Radite sambil membantu mendorong trolly belanjaan Adinda.



Mereka tak sadar belanja berdua seperti saat masih suami istri dulu. 



"Ini paprikanya kamu mau pakai yang merah atau yang hijau?"



"Kayaknya kuning sama merah bagus deh buat kombinasi warna. Sayang yang ungu lagi enggak ada," jelas Adinda.



"Paprika pakai udang atau cumi ya. Tadi aku udah beli udang dan cumi tapi cuma sedikit karena buat campuran masak mie aja."



"Enak semua sih,"  kata Radite jujur.



"Kalau gitu hari ini aku masak cumi, besoknya masak udang kali,  jadi biar ada ganti. Ya udah deh aku ambil yang merah dan kuning paprika nya."




"Pakai kartu aku aja,"  Radit menyodorkan kartu debet miliknya.



"Enggak usah Mas. Simpan aja uangmu karena kamu kan nggak gajian." Tolak Adinda.



"Aku gajian kok," kata Radite.



"Walau gajinya tidak ke aku tapi ke yayasan yatim piatunya mama."



"Berarti kan kamu nggak terima income."



"Santai aja. Aku tetap ada income. Pulang kerja aku narik ojek." Jawab Radite santai.



"Kamu nggak malu Mas?"



"Kenapa harus malu itu kan nafkah yang halal. Perbuataku mengambil uang perusahaan itu pekerjaan yang memalukan," kata Radite.


__ADS_1


"Jadi aku pulang kerja  buka aplikasi ojek online sampai rumah jam 09.00 malam.  Udah capek baru tidur. Kalau pagi nggak buka aplikasi karena takut capek, terlambat masuk kantor dan lecek."



"Jadi pagi aku nggak narik."



"Beneran enggak malu?"



"Enggak lah. Kan pakai helm full face juga. Orang nggak lihat. Walau di aplikasi ada nama dan fotoku, tapi jarang orang perhatikan nama driver dan wajahnya."



"Oh gitu. Bukannya helm ojek online itu beda ya?"



"Iya beda. Enggak apa-apa aku bilang ada helm ojekku kok. Helm enggak pengaruh.  Hasilnya lumayanlah untuk uang bensin tiap hari tercover," kata Radite.



"Untuk beli kopi seperti ini, juga makan sehari-hari cukup. Kalau enggak ngojek ya lama kelamaan uang tabungan habis karena diambil tiap hari."



"Tapi saat ini enggak usah ya. Aku aja yang bayar,"   kata Adinda sambil memberikan kartunya pada kasir.



Radite membawakan belanjaan Adinda. 



'*Wah mobilnya hebat sekali*.' kata Radite dalam hati.



'*Seharusnya aku juga bisa membelikan hal-hal yang bagus untuknya saat aku masih menjadi suaminya dan pegang jabatan marketing manager dulu. Sayang aku malah mengabaikannya*.'



"Terima kasih ya Mas," kata Dinda.



"Iya sama-sama" jawab Radite.



Ada rasa tak nyaman saat Dinda berpisah dengan Radite.  Tentu rasa itu karena pengaruh hormonalnya. 



'*Kalian senang ya dekat ayah kalau dekat ayah kalian. Kok tadi bikin rasa nyaman.  Sekarang begitu pisah kok ada rasa nggak nyaman.  Kalian belum bisa nendang belum ngapa-ngapain aja udah nyuruh Bunda deket-deket ayahmu*.'



'*Aduh jangan ngada ada yang sayangnya Bunda. Ayah itu pernah punya salah sama Bunda jadi nggak boleh ya minta-minta dekat ayah lagi. Kalau sekedar bertemu tak sengaja seperti tadi enggak apa apa kalau kalian suka*.'


\*\*\*



'*Wah thinwalku habis*,' kata Adinda. dia harus membeli banyak thinwall sekarang, karena tiap hari dia bawa buat tiga orang selain dirinya. Kalau yang buat dirinya masih dia bawa pulang lagi.



'*Aku harus beli dua ukuran seperti biasa. Aku malas keluar gimana ya*?'



'*Kalau untuk besok masih ada, berarti besok aku nyuruh office girl aja suruh beli deh*.'


\*\*\*    

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU



__ADS_2