
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Kalau ada apa apa hubungi aku dari nomor rumah biar cepat aku respon."
"Jangan tinggalin pesan, karena aku nggak selalu pegang handphone. Kalau pesan bisa lama aku baca."
"Kalau telepon dan pakai nomor rumah, akan cepat aku angkat karena musiknya udah aku bedain biar cepet respon."
"Kalau nomorku sedang sibuk atau off karena aku meeting, hubungi papa atau mas Adit."
Dinda berpesan pada Mbok Asih dan Mbok Marni. Sekarang di buku telepon tiga nomor sudah ditulis besar. Dan di telepon rumah phonebook urutan 1,2 dan 3 sudah diprogram ke nomor Dinda, Adit dan Eddy.
Hari ini Dinda akan berangkat kerja untuk pertama kali sejak melahirkan.
"Iya mbak Dinda tenang aja," kata mbok Marni.
"Yang penting Mbak Dindanya jangan kepikiran, nanti enggak baik bagi kualitas ASI." Marni menasihati Dinda agar tenang.
"Alat pumpingnya udah dibawakan Mbak?" Asih memastikan alat itu enggak ketinggalan.
"Aku sudah bawa sama cooler juga dibawa kok buat menyimpan ASIP-nya." kata Dinda.
"Iya Mbak, jangan sampai enggak diperah. Nanti kasihan anaknya kalau stok ASIP berkurang."
Sikembar sudah hampir 6 bulan maka minumnya semakin kuat.
\*\*\*
__ADS_1
"Bunda kerja dulu ya, kalian anak pintar pasti enggak rewel. Salim dulu," Dinda memberikan tangannya pada Ghibran lalu dia sodorkan ke mulut kecil bayinya.
Pada Ghifari hal itu juga dia lakukan. Dan dia kecup kening kedua jagoannya.
"Ayah pinjam Bunda kalian ya. Ayah siap belajar hari ini. Seperti Bunda bilang tadi Ayah yakin kalian pasti enggak rewel."
"Assalamu'alaykum jagoan Ayah," Adit juga pamit pada Ghifari dan Ghibran.
Eddy sudah berangkat lebih dulu. Dinda memang berangkat lebih siang. Tak seperti saat belum punya anak. Jam 07.30 maksimal jam 07.40 dia sudah tiba di kantor.
Sekarang jam 08.05 dia baru akan berangkat kerja.
\*\*\*
"Pagi," jawab Dinda dengan senyum manisnya.
Tanpa basa basi Dinda langsung memeriksa file juga email selama dia tujuh bulan tidak bekerja.
"Mas, aku belum bisa ajarin apa pun. Tapi kalau mau tanya silakan. Aku juga belajar dulu karena banyak yang aku harus cek setelah tujuh bulan aku vacum."
"Iya Yank. Aku enggak masalah koq," Adit tahu kalau sudah bekerja Dinda bukan sosok istri yang manis.
Kalau sudah menyangkut pekerjaan Dinda adalah sosok monster gila kerja yang perfeksionis.
__ADS_1
"Pak Rizaldy bisa ke ruangan saya bawa file laporan selama saya vacum?"
"Bawa laptop ya, saya enggak mau bicara dua kali," Dinda memanggil Rizaldy manager finance.
"Pak Ronald, ke ruangan saya, bawa file proyek selama saya vacum," pinta Dinda.
Radite benar-benar kagum pada srikandi pujaan hatinya ini.
"Mas, lihat pembahasan soal marketing ya, mau aku kupas sebentar lagi," Dinda meminta Adit bersiap belajar on the spot langsung case to case.
"Baik Bu," jawab Adit. Dia berupaya bersikap profesional walau terkesan kaku.
"Kalau kaku enggak usahlah Mas. Aku aja manggilnya Mas bukan Pak," kata Dinda.
"Enggak apa-apa?" Tanya Adit ragu.
"Enggak apa apa lah kalau di kantor sendiri. Kan semua sudah tau. Kalau di forum umum baru kita formal."
"Deal Yank. Mas emang kagok kalau harus panggil kamu Ibu," jawab Adit.
"Kalau panggil ibu jenderal enggak kagok ya?" Sindir Dinda.
"Ha ha ha, kalau itu enggak kagok Yank," goda Adit.
Mereka masih tertawa saat terdengar pintu ruang kerja diketuk.
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING