REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
SEMUA KARENA ANAK


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Sejak mengenal Dinda aku mulai jarang berhubungan  badan dengan Shalimah dan dia juga nggak protes."



"Jarang tapi tidak terhenti sama sekali kan?" Eddy memastikan pendapatnya.



"Benar Pa. Masih tapi jarang sekali, hanya sesekali pokoknya sebulan satu atau dua kali tapi tidak rutin seperti sebelum aku kenal dengan Dinda itu pun karena Shalimah selalu menghampiriku di kamar Pa."



" Jadi bukan aku yang mengejar dia. Aku baru sadar dia tak melepasku, sesekali masih menghampiriku agar bila dibutuhkan aku tak bisa kabur! Kalau aku sama sekali tak pernah menyentuh beberapa bulan, tentu dia tak bisa menjeratku!"


__ADS_1


"Lalu suatu saat dia bilang hamil. Jujur aku senang Pa. Tak ada ketakutan atau penyesalan. Papa tahu kan aku anak tunggal yang kesepian. Aku senang dia hamil. Aku mau bertanggung jawab tapi dia bilang aku nggak perlu dinikahi karena nanti bisa bahaya."



"Aku bingung, aku tanya maunya gimana?" 



"Dia bilang cukup kita tinggal bersama aja dan aku nafkahin dia full. Aku enggak masalah.  Saat itu aku kan enggak punya tanggungan."



"Sejak itu aku pindahin dia dari kamar kost  ke rumah kontrakan kami karena kan ngedadak. Kami ngontrak di sebuah rumah mungil yang dekat kantor. Kalau siang aku menghampiri dia sampai bayi itu lahir."




"Shalimah bilang pernikahanku dan Dinda tunggu sampai dia melahirkan, dan aku kembali bertanya mengapa?"



"Aku harus datang dong saat pernikahanmu. Bagaimana reaksi papa bila saat pernikahanmu, aku nggak nongol? Nanti ketahuan sama papa.  Itu yang Shalimah bilang dan bodohnya aku pun mengikuti sarannya."

__ADS_1



"Semua itu karena satu alasan Pa karena ada ANAK."



"Sampai dia hamil pun nggak ada rasa aku mencintainya.  Tapi sejak dia hamil memang aku memberi dia perhatian lebih dalam materi.  Aku memberikan apa yang dia mau entah perhiasan baju pakaian make up semuanya aku berikan juga perawatan."



"Dan satu bulan setelah Shalimah melahirkan itulah aku dan Dinda menikah. Sejak menikah aku hampir tak pernah menyentuh Shalimah."



"Hampir tak pernah menyentuh bukan sama sekali tidak menyentuh karena memang adakalanya siang-siang dia tetap minta." 



"Sejak pertama kami melakukannya memang selalu dia yang minta bukan kemauanku. Sebagai laki-laki normal aku pasti butuh Pa, tapi aku sudah ada kepuasan dari Dinda. Sejak sebelum nikah pun walau tidak pernah melakukan hubungan badan dengan Dinda sebelum menikah,  aku punya kepuasan batin yang tidak perlu ditukar dengan kepuasan badan. Terlebih sejak menikah aku nggak pernah melakukan  hubungan badan dengan Shalimah bila dia tak mendesakku. Rupanya dia minta jatah satu bulan sekali juga untuk jaga-jaga bila hamil lagi."



"Kasihan Bram bila tinggal di rumah ini terus, dua bulan lagi kontrakan ini kan habis, harusnya kamu sebagai papa yang bertanggung jawab membelikan dia rumah. Itu awal aku mulai berpikir mengambil uang perusahaan. Demi kenyamanan hidup anakku yang tak mungkin papa akui."

__ADS_1



"Shalimah bisa memastikan papa tak akan pernah mengakui Bram sebagai cucu papa dan tak akan dapat warisan. Jadi aku harus belikan dia tanpa tunggu warisan dari papa."


__ADS_2