REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
ULAT BULU BARU


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


Sekarang Dinda, Adit dan Eddy sedang duduk di ruangan Eddy. Masih banyak snack yang tersisa, dan karena selalu lapar tadi Dinda minta Shindu untuk bawa ke ruangan ini.



Adit sudah pesan makan siang buat hari ini.



"Kamu dapat dari mana info kalau ada yang ngejar Papa?" Tanya Eddy penasaran.



"Soal itu gampang didapat asal bukan Papa dan mas Adit karena kalian sudah dikenal wajahnya. Nah wajah aku kan ada pegawai baru yang belum kenal, jadilah mereka bicara bebas didepanku." Kata Dinda sambil makan kroket.



"Saat aku ke toilet umum buat karyawan, atau aku ke kantin aku bisa tahu rumors di bawah." Jelas Dinda.



"Kamu ngapain pergi ke kantin dan kamu kan baru kemarin masuk. Mas koq belum liat kamu keluar?" tanya Adit.



"Kemarin pagi aku sempat pengen lihat kantin. Entah kenapa. Yang pasti aku pengen tahu siapa yang ada di kantin saat jam kerja!"



"Ada orang baru yang belum kenal aku, mereka ngobrol dengan santai soal naksir Radite dia bilang cowoq jomlo ganteng dan belum nikah anak Pak Eddy."



"Terus aku juga dengar dari ibu kantin bahwa ada orang yang lagi naksir papa," kata Dinda.



"Oh gitu?"



"Ya dan bukan cuma satu. Mereka naksir Papa karena mereka bilang Papa ini udah lama duda dan kayaknya nggak ada yang urus."



"Enggak apa apa soal umur yang penting harta. Masih bagus kalau baru nikah Papa enggak ada."


__ADS_1


"Jadi mereka bilang ke ibu kantin karena berapa kali kan kalau makan siang pasti ibu kantin nyiapin buat Pak Eddy. Ada yang minta mereka yang antar, tapi bu kantin enggak mau karena ada yang suka main pelet."



"Bu kantin enggak mau ambil resiko dia yang kesalahan."



"Kok Mas nggak tahu ya ada yang naksir Mas?" 



"Bukan nggak tahu tapi Mas bohong sama aku aja. Mas tahu kok. Orang dia beberapa kali ngedeketin Mas ngajak ngobrol Mas. Ngajak nonton, ngajak ngebakso. Apa malah udah ngajak tidur?" Dinda bicara sinis pada Adit.



"Oh anak marketing itu? Memang kalau dia ngobrol selalu duduk menempel kan badan. Tapi Mas enggak ladeni dan Mas selalu menghindar."



"Enggak perlu menghindar juga aku nggak problem kok. Aku bilang kan sudah tidak akan ada kesempatan untuk dapat maaf. Jadi silakan aja kalau memang mau, monggo."



"Saya nggak pernah akan menahan orang yang memang hatinya tidak untuk saya. Yang pasti satu! Tidak akan pernah boleh bertemu dengan anak-anak."




"Saya tutup kesempatan untuk bertemu, bahkan melihat dari jauh pun tidak akan pernah bisa." Dinda langsung menggunakan kata ganti SAYA dan Eddy mau pun Adit sadar akan hal itu.



Adit tak bisa membayangkan bagaimana dia berpisah dengan anak-anak karena dulu dengan Shalimah dia mau bersama karena alasan Bram! Yang ternyata bukan darah dagingnya.



Sekarang ada anak kandung, kembar pula tak terbayangkan cuma karena perempuan gatal dia harus kehilangan tiga permata hidupnya!



"Bener Din, tak ada yang perlu dipertahankan dari seorang yang tidak mencintai kita." Eddy setuju dengan hal itu.



"Iya Pa, buat apa aku mempertahankan sedangkan dia memang sudah berpaling nggak ada gunanya aku bertahan. Mendingan aku lepas kalau memang di hatinya sudah sedikit aja rasa ingin mendua."


__ADS_1


 "Aku udah nggak mau Pa," ujar Dinda tegas.



"Enggak akan pernah lagi Yank, bukan nggak akan pernah lagi, tapi memang tidak pernah terjadi! Dari dulu kan aku cuma sayang sama kamu, kesalahan dengan Shalimah itu terjadi sebelum sama kamu dan pada Shalimah sekali lagi aku tekankan tidak pernah ada rasa cinta."



"Aku bersama dia hanya buat anak yang ternyata bukan anak aku itu aja."



"Dan aku berkali-kali bilang kan, mohon dilupakan masalah itu, aku malu dan marah ingat masalah itu."



"Aku sudah bilang Mas aku nggak peduli lagi."



"Aku nggak akan pertahankan kamu!"



"Iya aku tahu aku tidak berharga untuk kamu pertahankan." Adit ikut terbawa emosi.



"Ya memang buat apa aku pertahankan orang yang tidak mencintaiku?"



"Satu bulan kamu sembunyikan hal ini. Kalau aku enggak bongkar kamu akan diam aja? Suka dipepet dengan perempuan yang kalau duduk rok tertarik sampai pangkal paha?"



"Senang kalau bicara dad@ dia digesek ke lengan Mas?" Jerit Adinda.



"Sudah, sudah itu makanan kayaknya datang," kata Eddy melerai pasangan suami istri di depannya. Eddy kaget melihat Dinda yang lost control seperti sekarang



Adit pucat pasi. Dia ingat ancaman Dinda tadi tak ada kesempatan bertemu anak-anak. Bahkan melihat aja tak boleh.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR


__ADS_1


__ADS_2