
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Persiapan untuk operasinya Dinda semakin mendekat sudah satu minggu terlewat tubuh Dinda semakin lemah team dokter, Eddy dan Radite berharap sampai hari H Dinda masih kuat bertahan sehingga bayi bisa dikeluarkan.
Tapi sayang setiap hari kondisi Dinda semakin menurun, menurun dan menurun terus.
"Bertahanlah Yank jangan sampai kamu nyerah. Aku yakin kamu kuat kok," bisik Radite pada Dinda.
"Bertahan ya, buat aku dan anak-anak kita," kata Radite lagi.
\*\*\*
"Kenapa Dit?" tanya Eddy. Tiba-tiba pagi ini Radite menghubunginya.
Eddy belum berangkat kerja karena masih jam 07.00 pagi, jam dokter visit untuk memeriksa Dinda.
"Dinda harus dioperasi hari ini Pa. Tubuhnya sudah tidak memungkinkan untuk bertahan. Kalau jantungnya sampai berhenti berdetak, kondisi bayi bisa gawat. Mereka akan tak tertolong semua," Radite bicara sambil terisak.
"Dokter bilang operasi akan diadakan jam berapa?" Eddy berupaya tenang.
"Aku belum tanda tangani surat persetujuannya Pa."
"Operasi akan dilakukan 2 jam setelah tanda tangan. Tapi jadwal dokter kosong jam 2 siang ini." Balas Adit lirih.
"Kamu tanda tangani, aja Papa meluncur sekarang biar semua hal di kantor Papa pending. Adinda lebih penting dari segalanya," kata Eddy.
"Aku akan tunggu Papa buat tanda tangan, nggak mungkin aku keluar urus surat-surat kalau nggak ada orang di dalam ruangan ini," Eddy segera menyuruh Si Mbok bikinkan sarapan untuknya dan untuk Radit lalu dia bergegas ke rumah sakit.
\*\*\*
"Aku tahu aku pernah salah Yank, tapi nggak gini juga dong balasannya. Aku tahu kamu berharap buat aku kesulitan dan itu sudah aku terima."
__ADS_1
"Aku kesulitan sejak kamu sakit. Bukan aku nggak mau ngurus kamu tapi aku nggak kuat kalau kamu bikin begini," kata Radite.
"Bangun Yank, ayo kita urus anak-anak kita."
"Berjanjilah kamu kuat, bertahanlah untuk aku dan anak-anak."
Radite menangis terus sampai dia tak sadar Eddy telah tiba.
Rasanya baru kemarin dia menyatakan cinta pada Adinda, baru kemarin dia menikahi perempuan manis, energik dan sangat pintar itu. Sekarang perempuan itu hanya tidur tanpa pernah merespon semua yang dia katakan. Tak pernah merespon kecupan cintanya lagi.
"Makan dulu sebelum kamu urus surat-surat. Papa tahu kamu sedih tapi kamu harus makan. Kalau kamu drop akan lebih payah lagi. Kamu tidak boleh sakit."
"Kita harus kuat, kita harus tersenyum menyambut kedatangan baby twins," Eddy memberi semangat pada Adit. Padahal dalam hatinya juga remuk dan sangat sedih.
Buqt Eddy, Dinda bukan hanya wakil CEO, bukan hanya menantunya, lebih dalam, Dinda adalah putrinya. Dengan Dinda dia merasa memiliki putri kandung.
Tak ada makanan lain atau bahan lain. Yang ada saja yang diolah simbok dan dia bawakan buat tuan mudanya.
Setelah makan burger dan minum kopi, Radit pun segera mengurus berkasnya Dinda untuk diadakan operasi siang ini. Operasi Caesar untuk mengangkat atau mengeluarkan bayi-bayi mereka.
\*\*\*
"I love you Yank. Aku sangat mencintaimu. Maaf kalau aku pernah menoreh luka. Maafkan aku ya. Bertahanlah untuk aku dan anak-anak kita," Radit membisikan kata-kata itu sebelum mereka masuk kamar operasi.
Radite akan menemani Dinda. Dia tetap memegang tangannya seakan Dinda mengerti pada saat itu sedang operasi.
Radite terus mencium kening dan pipi Dinda dengan terus membisikkan bagaimana cintanya dia pada sosok perempuan itu saat operasi berlangsung.
Bayi pertama keluar, bayi dengan tangisan suara yang keras.
__ADS_1
"Laki-laki," kata seorang dokter.
"Alhamdulillah bayi kita sudah lahir satu Yank, jagoan!"
"Mungkin itu yang sering kita lihat ya. Dia yang sering menyapa kita," Radite berbisik pada Adinda.
Tak lama kemudian lahir bayi yang kedua
"Laki-laki lagi," kata dokter.
"Ternyata bayi kita dua-duanya laki-laki Yank. Mereka pasti ingin bertemu dengan bundanya. Bangun ya. Habis ini kamu bangun ya sayang ya."
"Anak-anak kita butuh kamu," kata Radit sambil menangis terisak.
Air matanya jatuh kekening Adinda.
"Sayang bangun, anak-anak kita butuh kamu loh yank," bisik Adit lagi.
Tak lama Radite diminta untuk mengadzani putra-putranya.
Adit pun langsung mengadzani kedua putranya.
"Aku nggak tahu kamu akan kasih nama siapa bayi-bayi kita. Aku akan beri nama dia nanti aja ya tungguin bundanya bangun."
"Kamu yang kasih nama. Sekarang enggak apa apa kan aku panggil mereka MAS dan ADE? Aku tunggu kamu untuk kasih nama. Aku nggak berani melangkahi kebijakanmu karena itu adalah wewenangmu. Bangun ya sayang," kata Radite sehabis dia mengadzani anak-anaknya.
"Mereka ada dalam inkubator agar cepat kuat. Seandainya kamu sehat, kamu bisa kasih ASI loh. Satu hal yang sangat kamu inginkan."
"Bangun ya sayang." berkali-kali Radite menyuruh Dinda bangun. Entah sudah berapa puluh kali Adit menyebut kata bangun.
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY !