
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Bawa apa Mbok?" Tanya Radite. Dua hari sekali simbok memang membawakan baju bersih milik Radite.
Pernah satu kali Radite pulang ke kamar kost nya dan lalu dia pamit pada pemilik kost. Semua barang dipindahkan kembali ke rumah Eddy. Saat itu yang jaga Dinda adalah Eddy. Tak pernah ada orang lain yang boleh masuk ruangan Dinda kalau tak ada Radite atau Eddy.
Saat itu juga Radite mendatangi apartemen dan meminta pengurus untuk memberikan nomor pembantu nya Dinda. Radite harus membayar gajinya juga meminta bibik terus bekerja membersihkan kamar Dinda selama istrinya dirawat.
Bibik bertemu dengan Radite di rumah sakit dan melihat langsung kondisi majikannya.
Bahkan semua orang kantor tak diperkenankan masuk ruang rawat Dinda. Kalau membesuk hanya bisa menemui Radite diluar ruang rawat.
"Bawa nasi rawon aja Mas." Kalau datang ambil baju kotor dan antar baju bersih, simbok memang membawakan masakan rumah, agar Radit tak jenuh di rumah sakit.
Buat makan sepanjang hari disiapkan oleh pengawal kalau buat kopi dan lain-lain Radit bisa nyeduh sendiri, di bawakan kopi sachet.
Aneka cemilan dan roti juga disediakan. Satu bulan Radit tak bergeser dari sisi Adinda.
Radite makan nasi rawon buatan simbok. Kadang dia makan sambil menangis mengingat masakan yang Dinda buatkan untuknya, baik selama mereka menikah mau pun saat dia mengalami syndrome couvade.
__ADS_1
Ketika membuat atau mengaduk kopi Adit juga sering meneteskan air mata. Dulu setiap pagi harum kopi panas selalu masuk ke hidungnya menyapa selamat pagi. Harum kopi yang dibuatkan oleh Dinda istri tercintanya.
\*\*\*
"Hai bangun Yank, ayo bangun kamu ingin melihat perkembangan baby twins enggak? Mereka bergerak lebih aktif lho, mereka ngajakin bundanya ngobrol. Bangun Yank," bisik Radite ditelinga Dinda sambil menangis. Tangannya mengusap lembut baby twins yang terus aktif bergerak.
"Mereka sudah nggak ngerepotin aku lagi sejak kamu enggak bangun. Sepertinya mereka tahu aku enggak pernah bergeser dari sisimu, jadi mereka enggak ngerjain ayahnya lagi."
"Kalau kamu mau mereka ngerjain aku lagi, kamu bangun dong. Mereka pasti akan ngerjain aku kalau bundanya bangun."
"Bangun dong Yank." Siapa pun akan ikut menangis mendengar kata-kata yang Adit bisikkan pada istrinya.
"Sudah lima minggu kamu diam Yank. Kalau marah sama aku, pukul aku aja. Jangan diam gini Yank."
Eddy yang mendapat video itu dari pengawalnya ikut menangis. Pengawasnya Eddy memang harus melaporkan semuanya.
\*\*\*
"Ya Pa," tengah malam Eddy menghubungi Radite.
__ADS_1
"Tersangka sudah ditangkap. Tapi masalahnya bagaimana kamu bisa datang ke markas?"
"Papa sedang curiga ada penyusup atau pembelot dari para pengawal Papa. Itu sebabnya minggu-minggu ini makanan mu selalu Papa minta diantar langsung oleh rumah makan langsung ke tanganmu. Dan papa yang pesan makanan enggak nyuruh orang lain. Dan tiap hari Papa pindah-pindah pesannya agar enggak ada yang bisa sabotase."
"Pengawal Papa mbelot? Rasanya enggak mungkin Pa." Ucap Radite.
"Semua kemungkinan sekecil apa pun bisa terjadi. Maka Papa bingung. Besok kamu bersiap pagi-pagi. Biar Papa jaga Dinda."
"Siang Papa ada meeting. Kamu tahu sejak Dinda sakit Papa kerja sendirian."
"Baik Pa, aku akan bersiap. Saat Papa datang besok pagi aku langsung berangkat."
\*\*\*
"Ada khabar bahagia Yank. Yang celakai kamu sudah tertangkap. Besok Mas akan lihat siapa dalangnya ya. Bangun dong. Biar kita hukum mereka bareng-bareng percuma mereka dihukum negara karena seringnya kita enggak puas."
"Kita kerjai dulu siapa pun yang ganggu kita, baru kita serahkan ke lembaga hukum."
"Besok Mas pergi sebentar ya. Kamu ditemani Papa. I love you Yank," Radite memeluk Dinda. Radite memang tidur dalam bed yang sama dengan Dinda sejak Dinda masuk ruang ini.
Eddy dan Radite memang minta bed yang lebih lebar agar Radite bisa berbaring bersama istrinya.
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!