REVENGE FOR MY EX-HUSBAND

REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
KAKAK


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Aku pengen nggak masak tapi aku pengen masak gimana sih?" Adinda bingung sendiri terhadap yang dia rasakan. Sungguh tak nyaman pertarungan mood dalam diri ibu hamil seperti diri ya!



"Males masak tapi pengen masak, aduh nggak bisa ngomongnya deh," kata Adinda pagi ini. Dia melihat nasi yang kemarin dia masak masih banyak.



Akhirnya Dinda berniat bikin nasi goreng. 



"Nasi goreng apa ya? Tak ada apa pun di kulkas yang bisa dicampur dengan nasi goreng. Aku belum belanja. Nanti sore sepulang kerja aku akan belanja dulu."  akhirnya Adinda bikin nasi goreng kencur saja.



Adinda membuat dadar telur dan diiris tipis. Dia juga membuat ayam goreng tepung. Itu sarapan yang dia bikin pagi ini. Ada irisan tomat dan timun juga tauge pendek serta kol mentah. 



Adinda pun makan lalu dia memasukkan empat porsi nasi goreng ke thinwall.



Empat porsi?



"Ya pastilah. Pak Eddy, Sindhu, Adit dan dirinya sendiri,  karena jam 10.00 pasti dia sudah kelaparan lagi. jadi selalu dia bawa empat porsi.


\*\*\*



Radite menunggu Adinda di lobby kantor. Dia melihat Adinda turun pelan dari mobil sport miliknya. Radite  langsung  menghampiri perempuan yang sedang hamil anaknya itu.



"Sini biar aku yang bawa barang bawaannya," Kata Radite.



"Ya Allah cuma segini nggak berat kali, dan aku bukan orang sakit aku cuma orang hamil. Itu beda loh."



"Aku tahu. Justru karena kamu hamil dan itu adalah anak-anakku, maka aku harus perhatian pada mereka."



"Kalau mamanya nggak mau terima perhatianku nggak apa-apa yang penting anak-anak tahu papanya sangat memperhatikan mereka!"



"Maaf aku tidak suka panggilan mama papa seperti yang kamu lakukan dengan Shalimah. Ini anak aku. Aku tak ingin mereka punya Papa seperti Bram memlikimu," Adinda berkata ketus dan geram mendengar Radite menyebut dirinya papa pada anak-anaknya.



Radite kaget dia ingat panggilan dengan Bram adalah papa. Radite tahu tentu saja Adinda ji-jik bila melihat sikapnya pada Bram karena Adinda pernah membuat video yang menampilkan bagaimana dia menyebut mama papa pada Shalimah.



"Baik, kamu mau mereka panggil aku apa?"



"Kakak mungkin?"



"Kakak? Adinda kamu jangan macam-macam!" Adit tak terima disebut kakak oleh anak-anaknya.


__ADS_1


"Ya nggak apa apa lah. Mereka kan bukan anak-anakmu. Mereka anak-anakku. Mereka boleh panggil siapa pun dengan sebutan yang aku suka. Mungkin panggilan Kakak bagus buatmu."



"Anakmu adalah Bram!"



"Kamu mau jadi istrinya papa kan jadi anak itu memanggilku seperti itu?" Tuduh Adit.



"Bukan itu juga. Setidaknya mereka bukan anakmu. Ingat anakmu adalah bibit yang kau tanam di rahim Shalimah" kata Dinda geram.



"Dan pagi-pagi jangan bikin aku kesal. Aku sangat ji-jik bila ingat kelakuanmu dengan Shalimah! Aku teramat membencinya hingga sumsum tulangku. Kalau saja membunuh tak dilarang, aku berniat mencincang Shalimah. Aku benci kamu dan dia!" Adinda meninggalkan Radite dengan sangat marah.



Radit tak percaya sedemikian dalam luka yang dia buat untuk istrinya.



"Ya udah sini bawaanmu," Radite meminta bawaan Adinda supaya nggak tambah bikin perempuan itu bad mood.



Adinda menyerahkan tas berisi empat sarapan mereka pagi ini.



Banyak staf melihat Radite masuk dengan Adinda bersamaan. Padahal dulu saat masih anak pun Radit jarang masuk sampai ke ruangan Adinda karena dia punya ruang sendiri sebagai  sebagai manajer marketing.



Dulu mereka akan berpisah di lobby. Ini tumben Radite langsung sampai ke ruangannya wakil CEO.



"Langsung aja bawa semua sarapan itu dan sisakan satu di meja ku," kata Adinda.




"Aku sudah sarapan, nanti aku akan makan lagi jam 10."



"Oh gitu," Radit pun memisahkan satu thinwall dan meletakkannya di meja Adinda.



"Oh iya thinwall yang di tempatku dan di tempat papa enggak dibuang lho. Papa menyuruh ke office boy suruh cuci."



"Sekarang sudah banyak loh di dapur. Daripada kamu kesulitan mendingan nanti aku siapkan untuk kamu bawa pulang."



"Oh boleh bagus itu karena aku kadang lupa beli. Bukan soal harganya tapi memang kadang aku lupa beli jadi malah repot kalau pagi-pagi." Dinda bersyukur kalau memang thinwall tidak dibuang.



"Ya udah nanti aku siapkan thinwall yang hampir sekitar lebih dari 20 deh karena punya Shindu juga ternyata nggak boleh dibuang kata papa."



"Ada sekitar 20-an di dapur nanti aku suruh office boy dan diantar ke ruanganku.  Biar aku antar ke ruanganmu,"  kata Radite.



"Oke terima kasih," jawab Dinda.



Sekarang dekat dengan Radit adalah kebahagiaan tersendiri bagi anak-anaknya sehingga Dinda juga nggak mau berontak lebih lama karena anak-anak memiliki perasaan nyaman bila dekat dengan ayahnya.

__ADS_1


\*\*\*



Satu bulan berlalu, Adinda kembali harus kontrol kandungan.



"Lusa jadwal kontrol kan?" kata Radite.



"Iya," jawab Adinda.



"Kita berangkat bareng."



"Kenapa enggak seperti bulan lalu aja, langsung ketemu di rumah sakit," sahut Adinda.



"Bulan kemarin aku sudah tahu jadwalmu dari dokter. Jadi aku ingin mengantar memeriksa mereka. Aku ingin melihat mereka."



"Oke kita ketemu di sana." Dinda masih bersikeras untuk bertemu langsung di rumah sakit saja.



"Enggak, aku akan bareng kamu dari kantor," Radite pun bersikeras mau berangkat bareng dengan Adinda.



"Terserahlah," kata Adinda tanpa mau cape berdebat.



Adinda semakin senang karena Radite mau mengantarnya ke rumah sakit.


\*\*\*



"Katanya Radite mau antar kamu kontrol besok?" tanya Eddy.



"Iya Pa, kemarin Mas Adit bilang gitu, mau antar aku kontrol besok padahal waktu kemarin kan masih dua hari lagi tapi dia sudah mengingatkan." Jelas Adinda.



"Iya, dia cerita ke Papa katanya mau antar kamu besok," jawab Eddy.



"Iya dia nggak mau ketemuan di rumah sakit,  tapi mau antar aku,"  jawab Dinda.



"Sepertinya Mas Adit udah nggak mengalami morning sickness lagi ya Pa?" Adinda memprediksi karena kehamilannya sekarang sudah memasuki empat bulan atau minggu ke enam belas.



"Radite bilang gitu sih. Sudah mulai berkurang mual pagi hari. Dia sudah bisa minum kopi manis, dia sudah bisa sarapan sendiri di rumah paling tidak sudah masuk roti."



"Alhamdulillah karena memang sudah lewat tiga bulan ya Pa."



"Iya," jawab Eddy.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE


__ADS_1


__ADS_2