
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Habis Viola dan Krisnawan keluar Adinda langsung bersiap menuju ruang rapat. Dia sudah memeriksa beberapa berkas yang tadi Shindu berikan pagi-pagi sekali. Karena memang kemarin Dinda minta data laporan keuangan, marketing dan HRD selama dia vacum.
Tidak ada spidol merah atau pulpen tebal. Dinda hanya mengoreksi dengan pensil 2B saja.
Sesuatu yang tidak sesuai hanya dia coret, atau dia lingkari lalu dia beri catatan sesuai apa yang dia anggap tidak pas. Begitu seterusnya.
"Mas, bisa minta tolong buatkan susuu coklat panas? Aku mau perah ASI dulu sebelum rapat," Dinda menyiapkan alat perah ASI-nya.
"Aku langsung lapar kalau habis diperah ASI-nya." Dinda segera membelakangi Adit dan bersiap melakukan rutinitasnya sebagai ibu yang bekerja.
"Ini Yank, Mas sudah siapin sekalian dimsum buat kamu ganjel perut."
Dinda memang cepat merasa lapar karena dia sedang menyusui.
Walau tidak menyusui aktif atau secara langsung diberikan kepada dua bayinya tapi kan terus diperah sehingga sama aja kayak menyusui.
Dinda membuat sendiri cemilannya karena cemilannya bukan buat asal kenyang tapi juga dibutuhkan untuk asupan gizi bagi kedua pangeran kecilnya.
Yang dia buat adalah dimsum isi udang dan ayam. Tentu yang buat Eddy tidak ada udangnya.
__ADS_1
Dinda membedakan topping dimsum sehingga siapa pun yang mengambilkan tak akan salah mengambil untuk mertuanya, jadi Eddy tak akan mungkin disiapkan yang ada udangnya.
Bumbu dimsum yang buat Eddy berupa saus asam manis. Dan bumbu buat dimsumnya Dinda dan Adit itu saos pedas manis. Porsi untuk Dinda sekarang lebih banyak dari porsi Adit dan Eddy.
Sehabis perah ASI dan menyimpan hasilnya juga mencuci semua alatnya, Dinda langsung makan dimsumnya dan meminum suusu coklat hangat yang Adit buatkan.
"Ayo kita siap berperang," Dinda mengajak Adit.
"Wah kalau macan kantor udah siap perang bahaya nih. Kalau aku kandangin dulu macannya gimana?" goda Adit sambil memeluk Dinda.
"Ih ini di kantor lho Mas," protes Dinda.
"Sudah ah, kamu tuh kebiasaan. Senangnya curi kesempatan aja," Dinda mendorong pelan tubuh suaminya.
"Enggak kebiasaan lah, wong sama istri sendiri," kilah Adit penuh kemenangan.
"Gimana kalau aku usulin ke papa biar kamu beda ruangan sama aku Mas?"
"Big no! Enggak, aku nggak mau" tolak Adit tegas.
__ADS_1
"Halaaaaah dulu aja deh …."
"Udah dong please nggak usah bangkit-bangkit, enggak usah ungkit-ungkit cerita dulu. Itu kesalahan aku. Aku kan sudah minta maaf," rajuk Adit sebelum Dinda selesai bicara.
"He he bercanda Mas," jawab Dinda.
"Tetap saja aku sedih kalau ingat itu Yank. Mohon jangan ulang lagi ya. Serius aku malu dan marah pada diriku sendiri, begitu bodohnya aku terperosok ke dalam kubangan lumpur seperti itu," ucap Adit penuh sesal.
\*\*\*
Adit dan Dinda pun bersiap mereka membawa laptop masing-masing ke ruang meeting.
"Apa saya terlambat?" tanya Dinda di depan ruang meeting.
"Tidak Bu. Masih ada waktu 5 menit sebelum jam 10.00." jawab Shindu yang ikut masuk saat Dinda sudah hadir.
Eddy sudah ada di dalam lebih dulu.
"Baguslah tapi sebenarnya saya sudah terlambat, harusnya saya masuk 10 menit kurang dari waktu meeting."
"Tapi karena tadi ada tamu dan juga saya harus memerah ASI jadi saya terlambat sedikit," jelas Dinda.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI
__ADS_1