
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Kamu dari mana aja Dit?" tanya Eddy dengan bingung.
"Kenapa Pa?" Radite melihat wajah bingung papanya tapi bukan wajah sedih seperti tadi.
"Waktu kamu ngilang barusan dokter nyariin kamu, kamunya nggak ada."
"Aku ke ruangan anak-anak Pa. Aku bilang mereka suruh doain bundanya," Kata Radite.
"Dokter tadi panggil kamu, karena kamu nggak ada Papa yang masuk. Alhamdulillah jantung Dinda kembali berdetak walau sangat lemah."
"Alhamdulillah," Radit langsung sujud syukur.
Dia bahagia istrinya masih selamat.
"Itu pasti karena doa anak-anak, Pa."
"Anak-anak menginginkan bundanya bertahan," kata Radite lagi.
"Kondisi masih kritis dan lemah, cuma paling tidak dia tidak jadi meninggal," kata Eddy.
"Peluang dia buat diberi obat kalau detak jantungnya masih ada. Bukankah dia bisa dikasih obat paten?"
"Ya tadi dokter juga bilang seperti itu. Tapi konsekuensinya dia enggak bisa kasih ASI."
__ADS_1
"Enggak apa-apa kalau soal ASI. Kita masih bisa berikan suusu formula. Tapi kalau detak jantung nggak bisa dibeli di mana pun."
"Maka tadi Papa putuskan gitu. Enggak apa apa Dinda nggak bisa kasih ASI, Papa minta kasih obat paten untuk mempertahankan hidupnya," kata Eddy.
"Iya makasih Pa, itu keputusan terbaik buat Dinda dan anak-anak. Aku ngerti koq."
"Lagian kamu, Papa jadi bingung."
"Maaf Pa, tadi aku cuma berbagi cerita dengan anak-anak."
"Papa ngerti."
"Tapi Pa, penjagaan anak-anak sepertinya harus ketat. Aku takutnya target selanjutnya nanti ke anak-anak."
"Jangan sampai sampai ada sabotase obat atau alat untuk anak-anak."
"Papa sudah bikin team koq."
"Jadi akan ada pergantian shift kan Pa?"
"Pasti ada pergantian."
"Satu team jangan cuma dua orang Pa. Kalau dua orang bisa dikecoh agar perhatiannya teralihkan. Lalu mereka bisa masuk culik anak-anak."
"Satu team Papa minta empat orang. Dan selama berjaga di sana mereka tak boleh berdekatan apalagi ngobrol."
__ADS_1
"Siiip Pa. Terima kasih," kata Radite.
\*\*\*
Sampai habis maghrib tak ada yang special.
"Papa pulang istirahat ya Dit." Pamit Eddy. Full satu ini dia hanya memantau urusan kerjaannya dari ponsel. Dia lupa bawa laptopnya karena terburu-buru.
"Ya Pa. Jangan lupa minum suplemen Pa. Papa enggak boleh drop juga." Pesan Radite.
"Dan besok jadwal simbok datang antar bajuku. Suruh bikinkan tumis kangkung dan tempe goreng aja Pa." Pinta Radite. Dia lebih suka makanan rumahan sederhana seperti itu.
"Ya nanti Papa kasih tau," jawab Eddy.
\*\*\*
"Selamat bobok Yank. Kalau enggak ada Papa aku enggak berani tinggalin kamu walau buat nengok anak-anak. Besok aku mau minta anak-anak dibawa kesini ya. Biar mereka bangunin kamu," bisik Radite seperti biasa.
Hari ini dua bulan kurang dua hari sejak Dinda masuk ke rumah sakit.
Radit membaringkan tubuhnya yang dia rasa hari ini sangat lelah. Mungkin akibat guncangan batin ya g dia rasakan saat ditinggal Dinda tadi.
Radit tak bisa membayangkan kalau Dinda beneran meninggal. Tentu dia akan bingung mengurus Mas dan Ade.
"Tadi suster bilang, Ade minum lebih banyak dari Mas. Lucu ya Yank. Yang kecil malah lebih banyak minum. Mungkin biar dia bisa lebih cepat besar dari Mas," Radit bercerita sebelum tidur. Memang sejak dulu mereka selalu melakukan pillow talk.
Tanpa sadar Radite terlelap. Radite terbangun saat dia merasa ada gerakan di jemari yang dia genggam sepanjang malam.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY!
__ADS_1