Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 100. Kisah Yara Alejandro 7


__ADS_3

Tatapan tajam Yara bertemu dengan seringaian sosok bertopeng tengkorak hitam. Setelah ia mengejar sosok itu. Akhirnya mereka bertemu, diluar arena.


"Kau sangat merindukanku heh, hingga mengejarku sampai sini" ucapnya dengan suara yang dibuat samar.


"Kau sangat menggelikan" ucap Yara,


"Jangan banyak omong" Lantang, Yara menyerang si tengkorak hitam. Dengan alasan yang sama. Menggantung pertarungan mereka.


Hantaman demi hantaman Yara tujukan pada tengkorak hitam. Lelaki itu dengan santai menangkis serangan Yara.


Yara tidak menyerah, ia mengambil balok kayu dan kembali menyerang kembali tengkorak hitam, tapi tengkorak hitam mengambil balok kayu dan membuangnya jauh.


Yara terdiam pada tempatnya, wajahnya terlihat bodoh menatap balok kayunya yang melayang jauh. Kekehan tengkorak hitam menyadarkan dirinya.


Semakin kesal Yara dibuatnya, berani benar ia membuat Yara terlihat bodoh. Amarah menguasi Yara. Ia mengeluarkan semua kemampuannya.


Lebam disana-sini telah ia dapat. Bahkan ia tak sekalipun bisa melukai si tengkorak hitam. Nafasnya semakin memburu dengan keringat membasahi tubuhnya.


Ia lelah tapi Yara tak bisa terlihat lebih menyedihkan lagi. Pandangannya mulai memburam. Ia menggelengkan kepala. Rasa pening menjalar keseluruh kepalanya.


Gerakan Yara melambat. Dan tengkorak hitam melihat itu semua. "Ulat kau tak apa?" Ucap tengkorak hitam. Yang Yara dengan samar, sebelum kegelapan merenggut dirinya.


***


Matanya terbuka. Bola mata bergerak. Linglung. Suasana remang yang ia tangkap. Yara memaksakan dirinya terbangun. Baru akan mengangkat kepalanya. Rasa cubitan nyeri membuatnya limbung.


"Jangan banyak bergerak dulu, Ulat!" suara dari sudut gelap ruangan itu. Tak lama ia meraba wajahnya kasar. Yara tak menemukan goggles yang selalu ia gunakan.


"Tengkorak Hitam! Akh!"


"Kan sudah aku bilang kau jangan banyak bergerak" Alis Yara bertaut. Ia seperti mengenal suara itu.


Perlahan sosok yang berada di kegelapan itu terlihat. Tengkorak Hitam. Ia benar dari jubah dan pakaian yang sosok itu kenakan, sama seperti yang Tengkorak Hitam biasa pakai.


Mata Yara melebar. Melihat wajah yang mengenakan pakaian itu.


"Alejandro!" Pekik Yara. Ia tak peduli dengan nyeri di kepalanya.


"Jandra—"


"Minum dulu ini," cangkir telah Yara terima. Ia merasakan telapak tangan dingin yang menyelingkupi dahi Yara. Nyaman. Yara menarik tangan Ale yang akan menjauhinya.


"Tunggu sebentar, tanganmu dingin, nyaman" Ale menipiskan bibirnya. Ia tetap memegang dahi Yara yang masih hangat.


"Minum ramuan itu, agar panasmu cepat turun!" Perintahnya.


Yara meminum ramuan pahit itu. Ia mengernyit. "Pahit!" Seru wanita itu.

__ADS_1


"Mana tanganmu" Ale mengeluarkan botol kaca kecilnya. Perlahan Yara mengulurkan tangannya. Dan butiran sebesar kelereng keluar dari botol itu.


"Makan lah"


"Apa ini?" Kembali Yara mengernyit. Tak mendapat jawaban dari Ale. Ia memasukkan butir kelereng itu pada mulutnya.


"Kunyah!" Perintah lelaki yang masih menangkup dahi Yara. Yara menurut ia mengunyah dan rasa asam mematikan menyebar didalam mulutnya.


"Uwow ssss …. " kernyitannya mendalam matanya menyipit dengan sendirinya. Rasa pahit di lidahnya benar menghilang, berganti dengan rasa asam yang membuat liurnya seperti aliran sungai saat hujan. Deras.


Dengan cepat Yara mengunyah agar cepat terletan. Ia memukul lengan Ale yang mengerjainya. 


"Kau mengerjaiku!" Ucap Yara melirik sengit Ale. Yara tak melihat sudut bibir lelaki itu terangkat.


"Istirahatlah" ucap Ale yang melepas tangannya pada dahi Yara. Menjauhnya tangan Ale, Yara merasa kehilangan tangan besar yang nyaman.


"Kenapa kau menjadi Tengkorak Hitam?" Tanya Yara, kantuk menyerangnya. Tak bisa lagi menahan untuk menguap lebar.


"Tidurlah" ucap Ale dengan merapikan peralatan yang ada dinampan yang ia bawa keluar. Yara hanya bisa melihat punggung Ale yang keluar dari pintu. Kembali Yara memejamkan mata.


***


Opal menghubunginya. Yara sedang mengendap keluar dari rumah Ale. Ada seseorang menantangnya. Opal memohon untuk Yara tidak menolaknya.


Opal memiliki hutang dengan orang yang menantangnya. Karena tahu Opal mengenal Ulat.


Ya disinilah Yara dengan kuda yang berpacu kencang ke arena Urban Latan. Wajahnya masih pucat tapi panas tubuhnya sudah turun. Ia membuka pintu Arena. Di depannya Opal telah menunggunya.


"Setelahnya aku tidak akan menganggumu lagi" lanjut Opal menuju ruang ganti. Berjalan berdampingan dengan Yara.


"Ayo kita temui dulu dia"


Ada amarah saat Opal menyebut kata dia. Yara mengikuti dibelakang Opal. Ia masuk dalam lorong dengan banyak ruangan di kanan kirinya.


Sangat mewah. Yara baru tahu jika Arena Urban Latan memiliki ruangan seperti ini.


"Ini ruang VIP hanya pelanggan yang menjadi anggota teratas yang bisa masuk" jelas Opal tanpa diminta.


Mereka memasuki ruangan. Disana sudah banyak orang menunggunya. Seperti ruangan kantor, dengan dinding kaca yang menghadap ke arena.


"Kau datang? Aku kira kau akan lari lagi, dasar pecundang!"


Seseorang dengan cerutu, botak dan berbadan gembul, menghembuskan asap cerutu. Terlihat angkuh dan tak tersentuh.


Tapi dimata Yara, ia bisa menghabisi dengan mudah tanpa sedikitpun bukti pembunuhan. Inilah pekerjaan yang ia jalani saat ini, tentu saja Agrabella dan Dylan tidak mengetahuinya.


Ada seseorang yang terus menatap ke arah arena dibawah. Tampilan dengan jubah yang membelakanginya.

__ADS_1


"Ini aku sudah membawa Ulat" Opal mengenalkan dirinya pada si gempal botak. Yara sangat ingin sekali mencolok kedua bola mata si botak gempal itu. Karena matanya yang jelalatan dan menjijikan bagi Yara.


"Ulat, kau sangat luar biasa, mengalahkan KO beberapa orang dalam semalam."


"Terima kasih Tuan ….".


"Scrotus"


"Terima kasih Tuan Scrotus, kau memujiku berlebihan"


"Oh kau pasti mengenal dengan orang ku, ke marilah" perintah Scrotus.


"Ya Tuan!" Wajah Yara menatap sosok yang sedari diam menatap arena berbalik menatapnya. Tajam dan dingin. Sorot matanya terlihat tidak akan meloloskan lawannya dengan mudah.


"Perkenalkan Tengkorak Hitam, ia adalah orang ku" ucap bangga Scrotus.


"Kalian pernah bertemu di arena bukan?" Decakan selirih angin keluar dari bibir Yara. Mengapa lelaki itu menjadi anggota bandit?


"Ya, dan meninggal arena sebelum menyelesaikan pertarungan, itu sangat menghinaku" jawab Yara saat netranya bersimborok dengan netra Ale.


Tawa terbahak memenuhi ruangan, "Aku suka semangatmu" Scrotus sangat suka dengan perselisihan.


Ketukan pintu terdengar. Decitan pintu terbuka diiringi dengan langkah santai memasuki ruangan mereka.


"Maaf terlambat." Seseorang masuk dengan penutup kepala yang menyambung setengah topeng hingga bagian hidung.


"Tak apa Tuan Razor, silahkan masuk" Scrotus beranjak dari tempatnya dan menyambut kedatangan lelaki yang bertopeng setengah itu.


"Wah Ulat bukan?" Razor mendekat pada Yara. 


"Ternyata kau benar mungil, Apa kau sudah mengajaknya masuk ke kelompok kita Scrotus?" Razor menepuk bahu Yara. Sekilas Yara tampak familiar dengan aroma yang Razor bawa.


"Belum Tuan saya menunggu anda" ucap Scrotus.


"Maaf sebelumnya saya petarung bebas. Dan tidak ingin masuk suatu kelompok" Tolak Yara langsung, Opal hanya memberitahu akan ada yang menantangnya.


"Saya kemari karena ada yang ingin menantang saya" Ucapnya tanpa takut.


"Bocah, kau tidak sopan!" Hardik Scrotus. Ia tak suka jika makhluk rendahan, bocah tengik di depannya ini mempermalukannya dengan menolak ajakannya di depan Razor.


"Kau sangat berani Ulat, bagaimana jika dengan ku" kembali Razor mengeluarkan aroma yang familiar untuk Yara.


"Baik, saya permisi keruangan saya." Tampa jawaban Yara melangkah keluar, Opal yang bingung mengikuti di belakangnya.


"Bedeb4h kurang ajar!" Maki Scrotus. Tawa Razor meledak, ia sangat suka tantangan apalagi dari anak kucing liar macam Ulat.


"Sampai jumpa di Arena Ulat kecil" guman lirih Razor.

__ADS_1


Ale perlahan mengepalkan tangannya.walau tatapannya ia buat datar dan tak menampilkan emosi apapun.


Tbc.


__ADS_2