Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 85. Pemberontakan atau Simulasi Pemberontakan?


__ADS_3

Mereka kembali ke Ceraz Viper. Lavender dan Gen masih belum siuman juga. Araria berkata pilnya sedang beradaptasi dengan racun pada ramuan penurut karena mereka sudah terpengaruhi dalam jangka waktu yang lama.


Racun itu menyerang otak dan membuat mereka lupa akan jadi dirinya. Dan yang paling mengejutkan ramuan penurut adalah racikan Gilberto.


Alasan Gilberto tewas karena tidak mau membunuh Elves juga tidak mau mengembangkan ramuan penurut.


Mereka meninggalkan Gen dan Lavender dalam kamar merka masing-masing. Saat kembali Ruve dibuat terkejut. Banyaknya sarang laba-laba.


Seakan mereka membuat kokon untuk memperbaiki diri. Kokon putih itu menyelimuti seluruh tubuh mereka.


Elves kembali membuka buku-buku yang Gilberto tinggalkan. Ia mendapatkannya. Kokon akan memulihkan keduannya, dibutuhkan waktu sekitar empat harian.


Dan mereka akan kembali, kokon juga akan memperbaiki kerusakan otak yang ditimbulkan dari ramuan penurut.


"Elves, Ruve, Berus datang" Araria mengetuk ruangan Lavender.


"Untuk apa?" Ruve merasa ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang tidak diinginkan. Ruve berjalan ke ruang depan disana terlihat wajah cemas ayah dan adiknya.


"Ada apa?"


"Rugerts dan Urjit kabur, kami akan membawa pasukan kemari, untuk berjaga."


"Kami tahu keistimewaan Ceraz Viper. Desa dalam desa, kami akan menggantikan penjaga di garda depan desa kalian. Karena mereka pasti sedang merencanakan serangan bawah tanah."


Berus tidak menutupi apapun. Ia menjelaskan semua kemungkinan juga siasat penjebakan. Tapi memerlukan desa dalam desa mereka untuk dibuka, memancing kedatangan para bandit.


Rencana dijalankan. Berus berganti shift denga Simba. Sudah empat hari, kokon putih itu menjadi kekuningan dan mulai menghilang. Kokon itu menyerap racun-racun yang ada di tubuh Gen dan Lavender.


Warga yang didominasi prajurit elit Phoenix Way, mengisi kekosongan desa. Dari jauh ada yang memperhatikan keadaan. Ia berlalu, saat petugas mencurigainya dan mendatangi.


Sosok itu melangkah cepat. Ia tak mengindahkan panggilan prajurit Ceraz Viper.


Decakan terdengar. Ini sangat menyusahkan. Ia berbelok pada sebuah gang. Dan menunggu mangsanya.


"Ark!"


Tanpa rasa ia menyerang dan mematahkan kepala petugas jaga itu. Ia mengambil jantungnya yang untuk sesaat masih berdetak.


"Mengesalkan!" Ucapnya dengan menendang mayat petugas itu.


Di tempat lain,


Berus mendapati satu bawahannya tidak melapor. Mereka mencari dengan alat deteksi dan menemukannya sudah tidak bernyawa dengan jantung yang lepas.


Berus melihat kedepan, pikirnya, para bandit sudah menjalankan rencana mereka. Ia dan kawanannya membawa mayatnya langsung kembali ke Phoenix Way.


Ketegangan terlihat di antara mereka. Mereka membuka akses desa dalam desa, membuat sebuah festival yang akan menarik bangsa dan ras lain untuk datang.


Dan ini benar terjadi. Ruve merasakan armornya bereaksi. Namun Berus telah memberitahu cara membuat Armornya tak terlihat.


Dalam diamnya, bandit yang menyusup menariki orang-orang yang gak bersalah dan membunuhnya. Mereka menumpuk dan membakarnya di gerbang Ceraz Viper.

__ADS_1


Dari luar serangan terjadi. Bola-bola api melayang dan jatuh ke atas rumah-rumah warga. Semua orang berhamburan ingin menyelamatkan diri.


Suasana keos. Dan tak terkendali. Gerombolan bandit itu maju dan mulai menghantam segala yang mereka lihat, brutal.


Melihat kawanan bandit sudah masuk semua, mereka yang dikepung. Semua akses keluar ditutup dan dibakar.


Orang yang mereka bunuh adalah dahan-dahan pohon yang mereka sihir menjadi sosok manusia.


Para bandit yang mulai sadar kalau mereka dijebak berhamburan menyelamatkan diri, seperti layaknya warga yang mereka bakar.


Erangan kesakitan, tangisan, kepasrahan, juga rintihan minta tolong menggema di tengah kobaran api yang semakin besar melahap semuanya.


Hlap!


Semua kembali seperti semula. Para bandit membuka mata dan menemukan dirinya masih hidup, tidak ada api yang tadi melahap mereka. Mereka masuk dalam ilusi sihir ide yang muncul saat Gen terbangun dari mimpi panjangnya.


Mereka dikelilingi oleh barier dari dunia bawah, tempat Raja Marzon, barier yang juga menjadi portal dimensi. Barier itu seperti melahap semua bandit yang ada didalamnya dan menghilang.


Dari mimpi yang Gen ceritakan, Berus dan Orso kembali ke Phoenix Way untuk meminta bantuan kekuatan Raja Marzon. Menciptakan mimpi buruk.


Kali ini para bandit sudah berhasil ditangkap. Mereka telah diadili di tempat Raja Marzon. Lavender dan Gen sudah kembali pulih, mereka terbangun dengan tubuh yang beberapa tahun lebih tua.


Gen menceritakan bahwa dalam mimpinya Lavender telah ditemukan, Elves dan Ruve menikah dan dirinya pun telah memiliki anak. 


Namun hanya itu yang ia ingat. Ia pun harus beradaptasi, karena dirinya yang didalam mimpi dibuat maju, tapi saat sadar dunia nyata mengajaknya menikmati waktu mundur kemasa lampau.


Beberapa hari ada jarak antar dirinya dan sekitar. Bukan hanya Gen tapi juga Lavender, ia lebih parah, walau semakin dewasa dan cantik. Ia bersedih harus berpisah dengan anak dan suaminya.


***


Ruve berjalan bersama Elves, suasana Ceraz Viper kembali damai, Yara masih betah tinggal ditempat itu, begitu juga Araria. Tanpa ia sadari Deraa membuat Araria betah.


Sedangkan Elves harus kembali ke kerajaan Elf bersama Lavender yang mulai akrab dengan Ruve, Araria dan Yara juga Gen.


Ruve merasa berat melepaskan, tapi ia harus, mungkin hubungan mereka telah diterima oleh keluarga Elves. Logan sepupu Elves yang menggantikan Elves menduduki posisi Raja.


Ruve baru tahu, restu orang tua Elves adalah hadiah bagi Elves yang telah menyelamatkan kerajaan Elf.


Ruve menghambur ke pelukan Elves memberi lelaki itu kecupan sangking senangnya.


Tapi bagaimana dengan keluarganya, ia harus menjadi penerus Tosai, menggantikan jadi Tetua di Ceraz Viper. Sedangkan ayahnya sudah tak muda lagi.


Atau ia akan egois, lalu siapa yang menggantikannya? Ruve menjadi lebih pendiam di hari terakhirnya dengan Elves.


Elves merasa Ruve lebih pendiam, ia mengantar lelaki itu di portal dimensi. Lavender sudah masuk lebih dulu.


Yara dan Araria juga Gen dan Deraa memberi waktu untuk keduannya.


"Kenapa sendu?" Elves merengkuh wanitanya itu. Ia menepuk kepala Ruve sayang.


"Aku tak akan lama, nanti kita akan ke Phoenix Way bersama" Ruve mengangguk. 

__ADS_1


Elves menjauh kan tubuhnya, Ruve merasa kehilangan. Pemuda Elf itu menangkup wanita deriknya.


Ia menempelkan dahinya ke dahi Ruve. Senyuman indah Ruve membuat Elves tak bisa membuatnya berpaling.


Ia mengecup bibir merah jambu yang membuatnya candu itu. Hatinya seakan meledak. Kegirangan.


Ruve menarik tengkuk Elves dan mencium dalam, seperti tak ada lagi hari esok untuknya dan Elves.


Lalu tangannya Ruve mengeluarkan cahaya putih. Menyedot memori Elves dan mengucapkan kata maaf berkali-kali.


Ia mendorong lelaki linglung itu masuk dalam portal dimensi. "Maaf, aku mencintaimu" Air mata Ruve membanjiri pipinya, sesak, dan menyakitkan.


Tubuh Ruve meluruh, duduk di pasir, ia membungkuk dengan isakan yang memilukan.


Ia menumpahkan segala kerisauannya selama beberapa hari belakangan ini. Katanya dengan menangis hati akan merasakan kelegaan.


Nyatanya tidak, kesedihannya mengalir tanpa henti dari kedua matanya.


***


"Kak, ayo aku tak sabar bertemu ayah dan ibu" Lavender menangkup dan mengandeng tangan kakaknya.


"Lav, kau tak boleh keluar sembarangan" ucap Elves. Kata-kata yang selalu Elves ucapkan pada Levender.


Ia memeluk lengan kakaknya, ia merindukan kata-kata teguran itu.


"Lav kangen dengan kakak, dengan ibu juga ayah" adiknya semanja itu memang. Elves berbalik entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tertinggal di belakangnya.


Tapi Elves tidak peduli. Setelah ini ia akan kembali ke tempat Gilberto dan mempelajari obat-obatan di bukunya.


"Aayah"


"Ibu" pekikan dengan air mata membuat pertemuan ketiga nya menjadi mengharu biru.


"Kau baik-baik saja kan sayang, anak ayah" ucap Mikail. Hera mengusap air matanya. Memeluk sang anak dengan erat..


"Maaf kami baru bisa menyelamatkanmu" rasa bersalah selalu saja menyeruak dari hati wanita anggun itu. Lavender menggeleng.


"Ini bukan salah ibu, aku sehat, dan aku memiliki teman baru" ujarnya senang.


"Elves, Ruve tidak kesini bersamamu?" Tanya Hera.


"Ruve?" Anggukan dari Hera.


"Siapa dia?"


"Kak Ruv—" ucap bersamaan, Lav akan menjawab pertanyaan sang ibu, namun ucapan Elves, membuat ketiganya menengok menatap Elves.


Tak ada respon Elves kembali bertanya, 


"Siapa itu Ruve?"

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2