
Yara berada di tengah ruangan. Ia ada di Black Deer. Markas Tanduk Hitam. Penjaga menyuruhnya menunggu. Ia berpesan nanti ada yang akan menjemput dirinya. Dan Yara menunggu di tempatnya sekarang.
Suara langkah sepatu mendekatinya, Yara mendongak, sosok wanita cantik, rambut lurus hitam panjang sepunggung. Dengan mata tajam juga bibir dipoles lipstik merah menyala.
Sangat jomplang dengan dandanannya yang lebih mirip anggota bandit jalanan. Ah, ia memang anggota bandit jalanan sekarang, batinnya membenarkan.
"Nona Ulat?" Sorot mata datar tanpa ekspresi. "Saya Greya, silahkan ikuti saya" ucapnya. Sepatu tingginya bergema.
Tak lama kita berjalan, ia berhenti pada sebuah pintu kayu coklat kehitaman, terlihat kokoh dan tebal.
Pintu terbuka. Hawa dingin menerpa wajah Yara.
"Tunggu sebentar disini" ucapnya lalu meninggalkan Yara masuk ke dalam pintu yang tertutup kain, yang berada diruangan dengan sofa kulit untuk ia menunggu.
Kain yang menutupi pintu itu tersingkap, Hugo keluar dari balik kain itu.
"Aku tahu kau akan datang, pilihan benar" ucapnya pongah.
"Saya tidak bisa mundur saat kalian telah mengumumkan lebih dulu bergabungnya saya di kelompok kalian" sarkas Yara.
Tawa Hugo menggema. "Aku suka humormu"
"Tuan" panggil Greya pada Hugo.
"Ayo Nona Ulat" Yara beranjak ia tak tahu akan dibawa kemana. Ia sudah masuk dan tak mungkin mundur begitu saja.
"Inilah anggota baru kita. ULAT!" gemuruh terdengar, sorot lampu menembak Yara. Silau. Yara mengangkat tangannya untuk menghalau sorot lampu.
Ia terus berjalan menuju Hugo yang berada di tengah panggung. Yara menelan saliva nya. Ia merasa ada bongkahan batu di tenggorokannya.
Ia tak percaya Tanduk Hitam menyambutnya seperti ini. Sangat membuatku malu. Ia melihat wajah Hugo dengan senyum menyeringai.
"Wah suatu kehormatan Ulat! Idola Arena Urban Latan, bergabung dengan Tanduk Hitam. Berikan sambutan yang meriah untuk idola kita" ucap seorang lelaki plontos dengan tampang sangar yang dipenuhi tato. Ia tersenyum miring.
"Tolong sepatah kata" lelaki plontos itu mengulurkan mikrofon pada Yara. Wanita itu hanya terdiam, ia tak mengira akan jadi seperti ini. Seketika suasana yang riuh berubah menjadi hening. Mereka menunggu Yara bersuara.
"Halo" Yara merubah suaranya. Agak berat. Dan suasana kembali riuh banyak yang tak menyangka lelaki dengan tubuh mini itu bersuara berbanding terbalik dengan perawakannya.
"Oke semuanya, lanjutkan acaranya" Hugo mendorong bahu Yara, mereka kembali keruangan tunggu tadi.
__ADS_1
"Ini pesta tahunan Tanduk Hitam. Sekarang akan selalu mengikutiku, kau anak buahku" ucap Hugo yang telah keluar dan berjalan menuju lorong. Dan berakhir dalam sebuah lift.
Ia melihat Greya menekan tombol angka 87. Gedung ini memang tinggi tapi Yara tak menduga jika setinggi itu.
Lift itu terbuka. Ruangan terang putih. Yara mengikuti Hugo dalam diam. Greya mendorong pintu putih, deritannya terdengar.
"Maaf membuat kalian menunggu lama" tercium aroma rokok yang menyengat. Ia melihat jajaran orang di meja melingkar.
"Tak apa tuan" ucap salah satu orang yang berada disana.
"Dia Ulat?"
Salah satu lelaki denga kumis lebat memindai dirinya. Yara tampak risih.
"Iya kalian pasti sudah mendengarnya, saat ini Ulat menjadi tangan kananku" ucap Hugo. Ia ingat saat di lift Hugo memberinya misi awal.
Cari tahu diruangan itu siapa yang akan menusuknya dari belakang.
Yara memulai menatapi satu-satu manusia yang berada di meja bundar itu. Ia mendapati Ale dengan bosnya. Ah, bos buncit mata keranjang itu deretan para petinggi, batin Yara.
Kembali Yara menatapi semua nya. Dari balik gogglesnya, ia menilai para petinggi Tanduk Hitam. Dan juga mendapati seringaian yang dikenalinya. Razor ada sana. Lelaki itu mengedip. Yara tidak menanggapinya.
Hah! Lelaki itu juga sudah mendapatkan apa yang ia mau.
Hugo memberi kode untuk mendekat. Yara mendekat.
"Kau boleh keluar lebih dulu."
Yara menatap Hugo, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk kabur dari tempat yang menyesakkan paru-parunya.
Yara mengangguk. Lalu melangkah keluar ruangan. Lebih baik ia berkeliling. "Hati-hati" hanya itu yang Greya ucapkan saat berpapasan dengan Yara.
Suara air terjun terdengar kencang. Ia sudah jauh berjalan, saat Yara mendengar percikan air yang kencang. Ia mengikuti suara itu. Dan benar, ia melihat air terjun di tengan-tengah gedung.
Yara menganga lebar. Ia melihat sebuah hutan mengelilingi air terjun itu.
"Bagaimana? Tak burukkan kau memilih disini" entah sejak kapan Hugo sudah berada di belakangnya.
"Kau akan lebih kami buat terperangah lagi, tapi untuk hari ini, kita sudahi hingga disini, Greya akan mengantarkan mu ke kamarmu, istirahatlah, jika memerlukan apa-apa silahkan panggil Greya." ucap Hugo dengan beranjak dari tempatnya pergi lebih dulu.
__ADS_1
"Mari Nona"
"Greya bisa kau panggil aku Ulat saja" Greya hanya mengangguk.
Ia masuk ke lift dan di lantao 57 lift terbuka, Ale menatap Yara, tapi ia mengabaikannya.
"Tengkorak Hitam" sapa Greya.
Hanya deheman terdengar dari Ale.
"Ulat bukannya kau pernah bertarung melawan Tengkorak Hitam?" Yara tak mengerti mengapa Greya menanyakan hal ini. Alis Yara naik.
"Aku menontonnya, sayang sekali Tengkorak Hitam kau kabur dari Arena saat itu." Ini ada apa sebenarnya. Terlihat jika Greya ingin mengolok Ale. Ditambah kekehan yang terdengar merendahkan.
Yara hanya melihat keduanya tapi Ale sama sekali tak menggubris olokan Greya.
Ting!
Pintu lift terbuka, dan Ale keluar lift dalam diam, tidak menganggap olokan Greya.
DRAK!
Guncangan didalam lift, Yara menatap tajam Greya yang memukul dinding lift keras. Rambutnya berantakan, wajah Greya terlihat menyeramkan, nafasnya menderu kasar, ada amarah besar yang terpantul dari dinding kaca lift.
Ting!
Suara pintu lift terbuka bersamaan dengan Greya yang merapikan rambutnya yang berantakan. Ia kembali dalam mode datar tanpa ekspresi, sangat berbeda dengan yang ia lihat beberapa detik yang lalu.
Ada apa dengan mereka? Kembali pertanyaan itu melintas. Mengapa wanita ini begitu murka pada lelaki yang ia cintai itu. Yara tidak munafik jika ia masih mencintai Ale.
Walau sekali lagi, Ale telah bahagia dengan wanita yang ia tunggu selama ini. Melihat Razor, apa kedatangan Magnolia malam itu ada hubungannya dengan Razor?
Bagaimana hubungan Ale dan Razor? Apa mereka saling mengenal disini? Bagaimana dengan dirinya apa Hugo yang mengetahui ia adalah Yara, apa mungkin ia akan dijebak?
Benar ia tak boleh lengah! Ia harus berhati-hati. Pikiran Yara tak lagi pada tempatnya. Ia memikirkan jika mungkin saja semua ini saling berhubungan.
Dan ini bukan masalah yang kecil biasa dan dapat diselesaikan begitu saja.
Tbc.
__ADS_1