
Mereka mengantar peti bahan makanan pada alamat yang Maria beri. Disana nampak pondok tua, dengan banyak tanaman.
"Permisi kami dari Toko Rolan" teriak Rolan. Setelah lelaki itu meletakkan satu peti bahan makanan di depan tangga masuk pondok. Yara ikut membantu.
Ruve dan Elves bersembunyi di balik pepohonan, Dan Araria duduk di kereta kuda. Tak lama seorang wanita keluar, rambut madu dengan mata biru yang cantik dan kuping runcing.
Lavender.
Elves yang melihat itu tanpa pikir ia berlari, namun Dengan cepat pula Ruve menghadang dan kembali menarik Elves untuk kembali bersembunyi.
"Jangan sekarang!" Ruve berbisik menatap mata Elves yang marah pada Ruve.
"Lepas! Dia adikku!" Bentak Elves dengan mata nyalang. Ia kembali menyingkirkan Ruve yang ada didepannya.
Ruve tak tinggal diam ia mengeluarkan rantainya dan merantai Elves di pohon.
"Jangan ikut campur!" Desis Elves memandang Ruve dengan rahang yang mengeras. Ruve merasa sakit hati. Namun ia tahan.
Ruve tak berkata apapun, kembali mengawasi. Dan yang lebih mengejutkan seseorang yang muncul setelah Lavender.
"Gen" lirih Ruve. Elves yang sedari tadi memandangi Ruve beralih ke arah pondok. Ia disana sang sahabat berada.
"Gen?" Bukan hanya Ruve dan Elves yang di buat terkejut. Araria pun, ia terpaku di tempatnya. Padangannya bersiborok dengan Gen, tapi mengapa lelaki itu seperti tak mengenalnya.
"Permisi" Yara dan Rolan pun segera kembali. Ruve melepaskan rantainya. Ia dan Elves masih bersembunyi untuk beberapa saat.
***
"Kau telah menemukannya?" Seorang yang berada di kastil tengah hutan.
"Sudah Tuan"
"Benarkan? Bawa aku segera" ucap Hudson. Bawahannya itu mengangguk.
"Siapkan semua yang telah kita rencanakan"
"Baik Tuan"
Hudson pun bergegas untuk mengikuti sang bawahan. Ini waktu yang ia tunggu. Setelah lama mencari akhirnya ia dapatkan.
Menyusuri hutan semakin dalam, ia bisa melihat portal yang terbuka, tarikan bibirnya tergambar pada wajahnya.
Hudson tak asal-asalan, ia berdandan layaknya bangsawan kerajaan. Ia tanpa kata masuk kedalam portal diikuti beberapa pengawal.
Wajah takjub saat pertama kali kakinya menginjak tanah dari Dragon Eye. Hudson berhasil masuk.
Bangunan dari kaca, yang terlihat seperti bebatuan di sungai dengan kabut menjadi airnya, pemandangan yang membuatnya melebarkan mata.
Warna hologram merah kehijauan bercampur sedikit biru mendominasi kaca-kaca pada bangunan itu.
__ADS_1
Disana seseorang mendekati Hudson. Ia menggerakkan tangannya, memberi kode pengawalnya jangan melakukan sesuatu.
"Apa kalian dari kerajaan Elf?" Wanita itu mendekat.
"Benar"
"Mari ikut saya, perkenalkan saya, Gilda, saya akan membantu kalian disini" senyuman manis Gilda berikan.
Ia berjalan di atas kabut. Membuat Hudson ragu. "Tuan biar saya duluan" seorang pengawal maju.
"Tidak! Harus dia" ucap Gilda.
"Kau yang menerima pedang abadi berarti kau yang akan mengikutiku" Gilda menatap Hudson.
Hudson mengikuti Gilda. Tentu saja ia terjatuh. Mereka ada diatas tebing. Gilda meluncur ke bawah dan menarik tangan Hudson.
"Gunakan kekuatan meringankan tubuh, namun sepertinya kau tak bisa"
"Aku akan membantumu" Gilda merapalkan mantra dan menggerakkan tangannya didepan wajah Hudson dan cahaya keemasan melingkupi tubuh Hudson.
"Eh, eh, hm"
Gilda melepas tangan Hudson dan lelaki itu bergoyang ia mencoba menyeimbangkan tubuhnya pada pijakan angin yang semakin bisa ia pijak.
"Ehem"
Hudson membersihkan tenggorokannya, Ia mengelus hidungnya, ia merasa malu, pada Gilda yang melihatnya tanpa ekspresi.
Mereka berjalan kembali, disana mereka melihat gunung kaca hologram kehijauan menjulang tinggi, kabut tebal menyelimuti hingga ia tak dapat melihat ujung dari gunung itu.
"Aku hanya bisa mengantarmu hingga sini, masuklah kedalam, hadapi dengan keberanian tanpa ragu" ucap Gilda yang membuat kernyitan di dahi Hudson.
Hudson menatap bergantian antara Gilda dan pintu goa, Hudson berdiam. Kemudian dengan langkah tegas tanpa melihat kebelakang ia masuk dalam goa.
Pintu goa itu menutup. Hudson melirik namun terus berjalan kedepan. Disana ia hanya menemukan goa dengan dinding kaca hologram.
Hudson mengitari goa itu tetap yang ia temukan adalah dinding kaca. Kembali ia mengayunkan langkahnya.
Memasuki goa itu lebih dalam dan semakin dalam. Gelap dengan pancaran kehijauan ia melihat sebuah batu besar juga tinggi bening kehijauan di dalamnya terdapat sebuah pedang.
Apa itu yang selama ini ia cari? Pedang abadi. Ia mendekat ingin memegang batu bening itu.
Ctzzt
Ctzzztt
"Ark!"
Terkejut, rumbai kain di lengan Hudson terbakar. Ia menepuk keras memadamkan apinya, Batu itu dikelilingi aliran listrik. Hampir saja tangan terbakar.
__ADS_1
Degupan jantungnya meliar.
Mundur, Hudson mundur beberapa langkah. Memberi jarak, Ia mengeluarkan panahnya. Ia membidik sasaran dan panahnya terbakar.
Busurnya hangus menjadi serpihan abu. Ia tak kehilangan akal, ia mencoba mengambil lagi busur panahnya.
Tiga busur panah dan membidik batu bening itu.
Krash!
Krash!
Ctak! Crak!
"Yeah!" Pekik senang, ia bisa membuat retakkan namun tetap saja busurnya kembali terbakar. Dan retakannya kembali utuh.
Ia mengambil satu busur dan merapal mantra pada busur itu. Kembali matanya memicing dibalik busur yang ditarik dari panahnya.
Membidik sasaran, tempat retak awal.
Ctak!
Busurnya tak terbakar dan membuat retakkan, lalu kembali seperti semula, busur Hudson ikut menempel pada batu itu.
Decak keras terdengar. Kesal.
Namun Hudson tidak menyerah ia teh sampai disini jadi ia kembali merapal mantra pada busur miliknya yang tersisa.
Dan dengan tekat yang tak ingin menyerah, ia tarik panahnya tepat pada busur yang menempel.
Ctak!
Ctak!
Krash!
Ctak!
Kembali ia bertubi melemparkan anak panah, melihat retakkannya tak biarkan kembali seperti semula.
Clink!
Pancaran pedar, menyilaukan, Hudson menutupi matanya dengan lengan.
Krak!
Krak!
Krak!
__ADS_1
Ia mengintip bibirnya menyungging senyuman lebar itu menjawab semua nya.
Tbc.