
"Akar Bulkie? Apa itu?" Gen telah menemui Ruve di kedai, mereka sarapan bersama, Ruve dengan bubur lembek, sedangkan Gen dengan roti lapisnya.
"Gen kau tanya tidak pada Elves" Gen menggeleng.
"Kau itu!" Ruve membentaknya.
"Kau hanya memintaku bertanya apa yang Elves mau saat ini, dan ia hanya mengatakan itu padaku" Gen melahap roti lapis ketiganya.
"Oke aku akan bertanya pada Agrabella, dan mencarinya" ucap Ruve.
"Buat apa kau mencari itu?" Gen penasaran sebenarnya apa yang derik ini inginkan. Ia tidak bisa menduga, karena pasti sesuatu diluar nalarnya.
"Aku ingin memberi hadiah Elves karen aia merawatku, juga sebagai permintaan maaf, menuduh yang tidak-tidak" Ruve menyuapkan sesendok bubur lembeknya.
"Aku juga merawatmu, mana hadiah ku?" Ia menagih hadiahnya. Ia juga ikut menjaganya.
"Ini" Ruve melihat makanan yang ada di depannya.
"Ini kan bayaranku untuk mencari tahu apa yang Elves mau" protesnya.
"Kan sekalian" ucap enteng Ruve yang menyuapkan sendok keduannya, lalu menyingkar bubur lembek itu. Ia tidak sanggup lagi memakannya. Bubur itu sangat menjijikkan. Ia mengambil rogi lapis Gen, dan melahapnya rakus.
"Dasar pelit!" Kesal Gen dan mengangkat tangannya ia ingin memesan lebih banyak makanan.
"Pesankan aku juga, aku sudah sehat tak perlu memakan makanan menjijikan ini, lagi pula kalian memaksa Golum memakan rerumputan, aku bukan kijang, aku ular derik!" Omelnya panjang.
"Kapan kami memaksa Golum memakan rumput?" Gen memakan ikan bakarnya. Ikan panjang seukuran lengan tangannya dan lebarnya seukuran telapak tangannya. Ikan yang cukup besar.
"Saat ia meminjam tubuhku, kalian kira aku tidak melihatnya, aku juga merasakannya, sayuran pahit itu meracuniku" Ruve berlebihan. Gen hanya memutar malas bola matanya. Dasar ratu drama! Cibir Gen.
"Sudahlah! Aku akan menemui Agrabella, lai habiskan semuanya" Ruve beranjak dari kursinya dan melenggang keluar. Gen melanjutkan menikmati sarapan paginya.
Gen yang kekenyangan meminta sisa makanannya untuk dibungkus. "Ini tuan"
Gen pergi keluar kedai. "Tunggu Tuan! Kau belum membayar makananmu" Gen menatap sang pelayan kedai horor.
"Tunggu, jadi semua pesanan ini belum dibayar?" Pelayan kedai mengangguk. "Yang benar?" Gen kembali menyakinkan diri.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam, menahan amarah dan amukan, menenangkan diri lalu "RUVERAAAAA! ULAR DERIK SIALAN KAU!" Maki Gen. Si pelayan kedai terjengit. Manatap takut-takut pada Gen.
"Ini," Gen memberikan sekantong koin emas, si pelayan membuka dan menghitungnya, "maaf, ini kurang tuan" membuat mata Gen membola,
"Sialaan kau Derik!" Dalam perjalanan kembali ke penginapan, ia memaki Ruve yang menipunya mentah-mentah.
__ADS_1
***
"Ruve kau sedang merayakan sesuatu? Membawa banyak makanan ini" tanya Agrabella, ia berada di rumah Ceret Teh. Rasanya ingin menerjang ke tempat Elves dam memeluk lelaki itu tapi tidak bisa, ia harus datang dengan hadiah istimewanya.
"Terima kasih telah merawatku" Ruve tersenyum malu-malu. "Jugaaa … aku ingin bertanya apa itu Akar Bulkie?"
Agrabella menatap Ruve dari sela kacamatanya. Lalu menaikkan kacamata. "Disini kau bisa mendapatkan yang kau mau" Agrabella memberi sebuah buku kecil dengan tulisan tangan yang rapi.
Ruve mencoba membuka disana banyak sekali macam tanaman obat. Lengkap dengan gambar lukisan tangan.
Dan ia menemukannya, bentukan Akar Bulkie ternyata bukan sebuah akar, seperti bayangannya selama ini.
Ini lebih ke bunga karena berwarna merah delima, berbentuk panjang seperti dahan pohon, dengan pinggiran itu mirip buah delima yang menempel pada dahannya. Butiran-butiran.
Dituliskan disana besarnya bisa mencapai sebesar lengan orang dewasa. Ruve mengangguk membacanya, dan tumbuh hanya setahun sekali, tepatnya di malam bulan purnama.
"Bulan purnama?"
"Iya nanti malam" Ruve menjadi bersemangat, "Agrabella dimana aku bisa menemukannya?"
"Di danau Sorrow, perbatasan antara Kerajaan dunia bawah dan Cahaya ilusi. Dijaga oleh Rooth, ia bawahan raja dunia bawah"
"Akar Bulkie juga disebut Bunga penyambung jiwa, dan setiap tahunnya bunga itu akan tumbuh dan akan dikeringkan dijadikan bubuk dan dikirim pada Ratu pelindung untuk menjaga kekuatan Kristal abadi"
"Kristal abadi?"
"Terima kasih Agrabella." Ruve menuju ke tempat perbatasan yang berada di sisi utara Cahaya Ilusi.
"Banyak sekali yang bertanya tentang akar bulkie hari ini" Agrabella menatap kepergian Ruve.
***
Ruve memacu kudanya, ia berpapasan dengan iringan orang berkabung, Ruve memelankan kudanya, terdengar jeritan pilu dari seorang lelaki yang diamankan oleh beberapa orang itu.
"JANGAN BAWA MEREKA!"
"JAGOAN AYAH!"
"DELILAH JANGAN TINGGALKAN AKU!" Raungan yang menggema dalam hutan.
Ia juga melihat Dylan disana, serta Regulas. Ruve meminggirkan kudanya, ia turun untuk menghampiri Regulas.
"Regulas" panggil Ruve, yang telah berdiri disamping Regulas.
__ADS_1
"Nona Ruve? Kau sudah sehat?" Regulas menanyakan kabarnya.
"Sehat, segar bugar, ini ada apa? Pemakaman teman GranpaD?" Ruve masih bertanya lirih. Regulas hanya menggeleng.
"Mereka korban pembunuhan" ucap Regulas selirih angin. Kepala Ruve cepat menengok ke Regulas.
"Ibu dan anak, korban ke-4 dari si penyusup" kembali Ruve dibuat terkejut. "Sudah empat korban?"
"Iya dan ini yang paling keji" ia mendengarkan Regulas. Dan tak lama para pelayat meninggalkan pemakaman, Ruve pun juga ia harus melanjutkan perjalanannya.
Matanya bertatapan dengan Dylan Ruve hanya mengangguk pamit. "Kau akan kemana?" Regulas memperhatikan perlengkapan Ruve, sepertinya wanita itu akan bepergian jauh.
"Perbatasan Utara, ke danau Sorrow, aku pergi!" Ruve menaiki kuda nya.
"Jaga diri dan berhati-hatilah nona" ia mengangguk kemudian memacu kudanya cepat.
Ia memasuki hutan, "Hyaaah!" Ia terus membuat kudanya berlari kencang, ia harus sampai dengan cepat. Meyakinkan Rooth akan memakan waktu yang lama, itu yang dikatakan Agrabella.
Ia bisa melihat barier hijau menyala itu. Perbatasan. Ruve menembus dengan mudah, Agrabella telah menyelubungi dirinya dengan sihir untuk dapat menembus barier Cahaya ilusi tanpa harus terpengaruh oleh hipnotis dari barier.
Ruve dihadapkan dengan hutan yang gelap, rimbun dan sangat misterius. Sisi utara ini memang penjagaannya tidak seketat sisi lain, karena sisi Utara berbatasan dengan kerajaan dunia gelap.
Dan pemikiran jika akan aman yang menjadikan sisi Utara tidak seketat sisi lain. Nyatanya si penyusup masuk melalui sisi Utara.
Ruve masuk dalam hutan perlahan, dan santai, ia harus tenang. Karena ia datang bukan untuk mencari keributan.
Langkah kuda Ruve menggema. Sangat sepi. Ruve membuka buku pemberian Agrabella. Ia membaca peta yang Agrabella berikan.
Danaunya berada didalam hutan. Ruve tidak ingin membuang waktu kembali ia pacu kudanya.
***
Mateo memutuskan keluar dari Cahaya Ilusi, suasananya tidak terlalu aman untuk mereka. Memutuskan menunggu diluar Cahaya ilusi, setidaknya mereka tahu targetnya berada di dalam sana.
"Kita bermalam disini" Los telah membentengi tempat mereka agar tidak terlihat. Mateo memainkan bola-bolanya yang masih menyisakan noda darah yang mengering.
Findel beristirahat di dahan pohon. Kupingnya bergerak, merasakan adanya pergerakan dari makhluk lain yang masuk kedalam hutan.
Ia berjaga, bersiap mengincar target. Ia melihat seorang wanita dengan kudanya masuk perlahan kedalam hutan.
Bukan hanya Findel saja yang memerhatikan si wanita tapi Los dan Mateo pun mengikuti pergerakan wanita itu.
Sosok itu mengingatkan Mateo pada satu sosok yang dikejarnya hingga kini, tapi jelas wanita di atas kuda itu sangat berbeda. Hanya mirip postur tubuh sedangkan, wajah dan cara berpakain jelas berbeda.
__ADS_1
Wanita itu memacu kudanya masuk dalam hutan, setelah si wanita tak terlihat ketiga lelaki itu sibuk kembali dengan kegiatannya masing-masing.
Tbc.