
"Selamat datang" ucap Otis. Pada gerombolan orang berbaju hitam yang memasuki ruangan Hugo.
"Apa kita siap menyerang Tanduk Hitam?"
Seorang lelaki dengan rambut panjang yang dikuncir dengan tanda bekas luka memanjang di mata hingga pipi sebelah kiri itu, ia duduk dengan membanting kasar tubuhnya pada sofa dihadapan Hugo.
"Kau sangat bersemangat Xelo, selamat datang silahkan duduk, Mako" sapa Hugo.
Greya menuangkan teh hangat ke cangkir para tamu Hugo. Wanita berkimono datang lalu duduk di kursi kayu dengan luwesnya.
"Jadi untuk apa kau mengumpulkan kami disini?" Menyesap menyesap teh dengan anggun.
"Dantau kembali"
TRANK!
PRANK!
Cangkir yang lolos dari tangan seorang gadis muda. Pecah berantakan. Matanya menatap lurus pada Hugo.
Semua orang yang berada disana untuk sesaat mematung. Lalu kembali dengan pikirannya yang berkecamuk.
"Siapa targetnya kali ini"
"Anggota baru kita" ucap Hugo. Kembali suasana semakin sunyi.
Derap langkah tegas memasuki ruangan Hugo. "Maaf telat"
"Aku merasakan keberadaan Dantau di sekitar sini"
"Ada apa?"
"Greya aku mau teh dingin ya honey" ucapnya. Dengan mata yang mengerling ke arah Greya.
Seorang wanita tua dengan pakaian nyentrik melepas mantel bulu panjangnya dan memberikan pada seorang asistennya yang mengikutinya.
"Wanita tua kau seharusnya datang lebih cepat. Selalu saja terlambat"
"Maaf aku langsung mencari keberadaannya. Ia ke dunia mimpi, thanks honey"
Kembali ia mengerling pada Greya yang meletakkan segelas teh dingin.
"Ayolah Xelo, maklumi makhluk tua renta ini!" Cengirnya jenaka.
DRAK!
"Gmala, kemampuanmu masih sekuat anak 20 tahunan" Xelo melemparkan belatinya pada Gmala yang dengan cepat wanita tua itu tepis tangkas.
"Peony, kau tak apa sayang?" melihat wanita muda itu menginjak pecahan kaca cangkir. Tangan wanita muda itu mengepal.
"Dimana dia?" geramnya lirih. Menatap Gmala yang kembali berdiri menghampiri. Anggota paling muda yang Hugo rekrut.
__ADS_1
"Aku akan memberitahumu nanti, sekarang atur emosimu" bisik Gmala dengan memeluk Peony dan menepuk punggung gadis itu beberapa kali.
Dari tangannya terlihat adanya sebuah tekanan tenaga dalam yang masuk kedalam punggung Peony.
Mata Peony yang tadi tajam menghunus siapa saja yang menatapnya. Kini meredup, ia mengerjap dan kembali terlihat tenang.
Greya dengan cekatan menyiapkan kembali teh untuk Peony setelah membereskan pecahan cangkir.
"Silahkan nona"
"Terima kasih"
"Jadi Gmala bisa kau radar mereka dimana, kita tak bisa diam saja dan Dantau akan menarik mereka entah kemana" Otis kembali masuk dalam inti masalah yang sedang mereka hadapi.
"Kalian bisa membantunya" ucap Gmala.
"Tapi ini masih ada sangkut paut dengan Tanduk Hitam"
"Kami siap"
Otis, Xelo juga Mako siap untuk masuk kedalam. Mereka berubah wujudnya. Otis mengenakan jas mewah panjang hitam dengan hiasan bordir di kerah jasnya, sangat formal.
Xelo juga dengan jas juga celana bahan yang mengatung rapi dengan rambut panjangnya diikat knop top. Juga masker dengan tiga tindikan pinggir alisnya.
Mako rambut hitam panjang yang diikat poni tail, dengan crop top bahan latex juga celana panjang yang terbuat dari latex juga sepatu boot panjang hitam. Ia membawa sabit grim reaper mengkilat.
Sebuah portal dimensi terbuka disana terdapat kabut hitam berbentuk oval bergerak melingkar.
"Kami berangkat!" Mereka bertiga masuk ke dalam portal dimensi. Setelahnya portal itu tertutup.
Setelah kejadian Ulat yang lenyap bersama penantangnya Arena Urban Latan dengan cepat dibubarkan.
Dan diluaran viral pemberitaan Ulat yang diculik oleh sang penantang. Banyak juga yang mencari tahu siapa sebenarnya sang penculik Ulat.
Bermacam rumor semakin berkembang meliar. Ada pula rumor tentang serangan Tanduk Hitam. Atau ada yang bilang ini tentang cinta segitiga.
Karena ada pula yang menyadari yang hilang bukan hanya Ulat dan Penantang melainkan ada satu orang yang masuk kedalam arena kemudian ikut lenyap.
***
Sebelumnya,
"Kesadarannya mulai terbuka mengenai ratu mimpi, tapi ia belum bisa mencapai posisi itu"
"Tanpa kau sadari ia semakin kuat dan kau tak lagi bisa mengendalikannya seperti yang kau katakan"
Seorang lelaki dengan rambut rapi, meracik minuman. Di meja bar. Ada satu yang duduk di hadapannya. Dan satu orang lagi bergidik. Tubuhnya bergetar. Ia duduk meringkuk di lantai.
Meraih lemon dan memotongnya dengan pisau tajam. Lalu ia meletakkan potongan lemon pada sebuah gelas stainless dan juga merauk beberapa macam berry.
Ia memasukan kayu sepanjang sumpit dengan lebih besar. Ia menghancurkan beri juga lemon yang ada dalam gelas. Tak lupa ia meraih daun mint, kembali ia menekan hingga tercampur rata dengan berry.
__ADS_1
Ia menuangkan cairan beralkohol. Dn mengocoknya.
Tangannya dengan lihai mengambil gelas lalu memasukan bongkahan bulat es, kembali tangannya terulur mengambil sebuah botol berbahan stainless. Membuka dan menuangkan cairannya dalam gelas.
"Banyak orang sedang fokus pada wanita itu, jika mereka bisa mengetahui keberadaanmu, ini akan menjadi masalah baru untuk kita!"
Ia meletakkan gelas dengan warna merah muda tak lupa hiasan kulit lemon spiral ditambah daun mint di depan seorang pria berambut hitam legam.
"Lebih baik kau melupakan wanita itu dan bersembunyi ditempat aman"
"TIDAAAAKK!"
"TIDAK AKAN!"
"Jika aku berkeinginan berhenti sekarang, aku harusnya membunuhnya sekarang juga!" Desisnya.
"AKU TIDAK AKAN MENYIAKAN USAHAKU SELAMA INI!!!"
Lelaki itu tubuhnya bergetar dengan wajah yang cemas juga rambut keemasan sebahu dan berantakan.
Kedua tangannya menutupi kepala. Ia mengacak rambutnya dan sesekali menjambak rambutnya sendiri. Kelakuannya seperti orang gila.
Sraaak!
Lelaki dengan rambut hitam itu turun dari kursinya ia mendekati lelaki dengan rambut keemasan yang lebih muda darinya itu. Lelaki itu mengusap rambut keemasan itu.
"Tak apa Dantau, kau bisa melakukan apa yang kau mau"
"K-kakak"
Ada getaran pada suaranya. Ia menatap dengan mata yang berair. Wajahnya nampak kecemasan yang berlebih.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu, kita kan melalui ini bersama!"
"Biarkan dunia tahu kau ada,"
"Aku yakin wanita malang itu akan mengerti"
"Bagaimana ia tidak mengerti, ia sama sepertimu"
"Kita akan menggunakan kekuatannya untuk melawan dunia, karena wanita itu mengacaukan takdirmu!"
"DAN KAU HARUS MEMBALASNYA!"
Wajah lengket Dantau mengeras matanya melebar mendengarkan ocehan lelaki yang ia sebut kakak itu. Terlihat matanya berkilat tajam.
Nafasnya tersegal ia tak tahan ingin membalas segala kesakitan yang ia rasakan selama ini. Dan dengan seenaknya wanita itu ingin merebut takdirnya.
Takdir yang telah ia perjuangkan selama hidupnya dengan mempertaruhkan nyawa juga kehidupan normalnya.
Benar! Dengan dukungan dari sang kakak ia yakin ia bisa merebut apa yang memang menjadi takdirnya.
__ADS_1
Dan ia memiliki banyak cara untuk mengambil takdirnya itu. Ia pun telah memiliki cara paling akhirnya. Menjadikan wanita itu miliknya adalah pilihan terakhirnya.
Tbc.