Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 32. Tiga Penyusup Berbahaya


__ADS_3

Setelah Elves tenang, ia menemui Agrabella, ia ingin menginap di Cahaya Ilusi, Agrabella memonta Regulas untuk menemani Elves, Gen dan Ruve membawanya pada rumah lama milik Agrabella.


"Mari ikut denganku" Regulas menunjukkan jalan pada ketiganya. Mereka memasuki pemukiman dengan rumah-rumah berlampu orange yang terlihat dari jendela masing-masing rumahnya.


Mereka masuk dalm gang yang sepi, namun ramai didalam rumah terlihat dengan keluarga di rumah-rumah itu bercengkrama dengan hangat.


Mereka menyusuri gang itu dengan pikiran masing-masing, Gen yang rindu dengan Gma Mima, nanti ia akan menyempatkan diri kembali ke Bymaba.


Ruve yang rindu dengan keluarga dan para warga desanya yang menunggunya dengan batu kristal abadi.


Sedangkan Elves kembali mengingat adiknya yang entah bagaimana kabarnya saat ini.


Regulas masuk ke dalam sebuah rumah besar. Disana ia disapa orang-orang yang berada dirumah besar itu.


"Ini dulu rumah milik Agrabella, laku dialih fungsikan menjadi penginapan juga persinggahan" ia menghampiri, seseorang yang berada di meja resepsionis.


"Baltar, minta tiga kunci" sosok Baltar adalah sosok rakun kacamata. "Ini Tuan" ia menyerahkan tiga kunci pada Regulas.


"Aku juga mengenal Tuan Gilberto, si tua baik hati" Ujar ia membukakan pintu untuk Elves. Ia orang terakhir yang diberi kamar.


"Selamat beristirahat, jika ada apa-apa jangan sungkan memanggil saya" ucap Regulas yang meninggalkan Elves.


Dalam kamar Elves meletakkan buku milik Gilberto diatas meja yang berada di tengah ruangan.


Ia masuk dalam kamar mandi dan menyegarkan diri. Sehari ini banyak kejadian, tubuh dan otaknya merasa lelah.


***


Diluar barier Cahaya Ilusi, ada tiga sosok dengan mantel tebal juga tudung kepala yang menutupi wajah dengan kain.


Mata tajamnya mengawasi barier Cahaya ilusi, salah satunya memainkan rantai pada jari-jarinya. Rantai yang sama dengan milik Ruve.


Yang satu hanya bersedekap dada, dengan memiringkan kepalanya kekiri dan kekanan secara perlahan, masih dengan mengawasi barier Cahaya ilusi. Terlihat tato menutupi sebagian sisi lehernya.


Satu lagi yang berdiri paling depan, paruh seperti milik Yordal. Ia menggunakan goggles. Dan tampaknya itu bukan sembarang goggles, Gogglesnya sedang bekerja. Menampilkan data yang ia butuhkan.

__ADS_1


Meneliti barier Cahaya Ilusi agar mereka bisa menerobos masuk dan menyelesaikan misi yang mereka emban.


"Aha, Boji!" celetuk si paruh, ia menemukan jalan keluar, ia mengeluarkan tiga buah Boji, berbentuk bulat sebesar jempol berwarna merah kehitaman.


"Makan ini, lalu tunggu beberapa menit dan kita masuk kedalam" ia membagikan biji itu pada masing-masing rekannya. Ia melemparkan miliknya ke udara, membuka paruhnya dan menelanya utuh-utuh.


"Ugh! Asam!" Gerutu si rantai. Dan di tato membuka kain yang menutupi wajahnya, sosok lelaki tampan, dan melahap kasar dengan gigi-gigi runcingnya. Dengan tatapan datar menatap lurus pada barier Cahaya Ilusi.


Mereka berdiri menunggu instruksi dari si paruh. "Ayo" dan mereka melangkah ke barier Cahaya Ilusi yang memberi mereka jalan. Lubang berbentuk pintu pada barier itu tercipta sesaat si paruh menembus barier.


"Mudah" Dengusan si rantai. Ia berjalan di samping si paruh. "Jangan lengah Mateo!" Suara berat dari si tato yang mengingatkan si rantai yang bernama Mateo. Decakan terdengar dari mulut Mateo.


"Cari penginapan! Kita bermalam dulu disini" ucap si Paruh. "Baik Los" ucap Mateo pada si paruh yang ia panggil Los.


Mereka masuk kedalam sebuah bar yang sudah sepi karena malam sudah larut. Los berjalan mendekati meja bar.


"Kami mencari penginapan" ucapnya pada Bartender yang sedang mengelap gelas, ia melirik ke arah Los. Mengamati bangsa unggas itu dari atas ke bawah, lalu berujar, "Sudah penuh!" Malas, kembali ia mengelap gelas-gelasnya.


Mateo memiringkan kepalanya, menatap tak suka bartender yang malas-malasan itu. Menjulurkan jarinya, rantai keluar dari jemarinya, meliuk kencang dan menghantam botol-botol minuman yang berjajar di lemari belakang si bartender.


"Arg!" Pekik bartender yang sudah melayang dengan kaki yang teracung keatas oleh rantai milik Mateo.


"Am,ampun … ampun Tuan" tubuh bartender itu bsrdetar saat rantai Mateo melilit tubuhnya erat,


"Ja,jangan Tuan, saya,saya memiliki rumah di belakang bar ini tuan, ka,kalian bisa menempatinya."


JLEB!


Si tato berdiri di depan bartender, dengan tangan menembus dada hingga punggung. Tangannya dengan kuku-kuku panjang menggenggam jantung yang masih berdetak lalu perlahan ia remas hingga hancur.


Los dan Mateo hanya menghela nafas, "Filden, kendalikan emosimu!" Los mengerti rekannya ini tidak suka berbasa-basi. Ia masuk ke dalam bar dan membuka pintu bar yang terhubung dengan rumah sang bartender.


"Bereskan semua juga mayat itu" Filden mencabut tangannya dan menjilat darah bartender yang ada ditangannya.


"Hah! Kenapa harus aku!" Protes Mateo yang yang hanya mendapatkan lirikan tajam dari Filden, ia mengikuti Los masuk ke dalam rumah si bartende.

__ADS_1


"Menjijikan" Guman Filden saat ia merasakan darah sang bartender yang ada di tangannya.


"Siaal! Kau menyusahkan!" Gerutu Mateo dengan menendang tubuh si bartender. Lalu membakar habis bar juga si bartender. Ia masuk mengikuti kedua temannya.


Paginya, tersiar kabar yang membuat Cahaya ilusi gempar, terbakarnya penginapan beserta sang pemilik yang juga tak selamat.


Mereka menganggap kejadian itu hanya kecelakaan. Bukan pembunuhan yang dilakukan oleh tiga bandit yang berhasil menerobos masuk dalam Cahaya Ilusi.


***


Seekor burung gagak membawa sebuah kertas di kakinya. Burung itu hinggap di atas kursi singgahsana. Ia berpindah pada lengan sosok yang duduk di singgasananya.


Ia melepas kertas dari kaki si gagak. Dan membaca pesan itu. Seringaian miring tercetak pada wajah sosok itu.


"Ruvera, tak aku biarkan kau menemukan batu kristal itu, Dan aku akan menjadi penguasa gurun ini!" Guman pelan yang berakhir dengan tawa menggelegar memenuhi ruangan sosok itu.


"Kau terlihat bahagia Rugert! Apa Los memberimu kabar bagus?" Sosok itu menatap seseorang yang baru saja masuk dalam ruangannya.


"Urjit, kawan karibku" Sosok Rugert, adalah ketua bangsa burung bangkai, ia kakak dari Yordal. Sosok dengan paruh berwarna hitam itu turun dari kursi kebanggaannya untuk memeluk sosok manusia berkepala Hyena.


"Kau sangat tahu diriku!" Ucapnya melepas pelukannya. Ia mengiringi temannya untuk duduk pada kursi yang berada di tengah ruangan.


"Pelayan bawakan makanan!" Teriak Rugert pada para pelayan yang ada di depan pintunya.


"Kalau begitu mari kita rayakan" Urjit suka berpesta. "Ini masih awal!" Yordal mendekati kakak dan temannya itu. Di belakangnya pelayan datang dengan banyak makanan juga minuman.


"Wow Yordal! Kau sangat seksi,cantik!" Urjit menggoda Yordal, dan Yordal memutar bola matanya malas. Ia mengibaskan rambut panjangnya.


"Jangan terlalu meremehkan mereka kakak" Yordal tidak menanggapi godaan Urjit. 


"Kenapa kau pesimis? Apa karena Ruvera menghancurkan tempatmu?" Olok Urjit. Berita Yordal kembali ke desanya karena tempatnya hancur dengan membawa anak buahnya menyebar dengan cepat.


"Kakak tak menyangka kau jadi sepengecut ini Yordal" Rugert menenggak minumannya. Melayangkan tatapan tajam pada Yordal yang merasa dipermalukan didepan kakaknya oleh hyena busuk di depannya ini.


Yordal menghentakan kakinya, ia kesal, dan memilih keluar. "Sudah abaikan! Lebih baik kita nikmati ini" Rugert mengangkat gelasnya dan Urjit menatap dimana Yordal menghilang.

__ADS_1


"Kau lihat saja kak, harusnya kau tidak mengabaikan peringatanku" Yordal bergumam sambil meninggalkan kediaman kakaknya.


Tbc.


__ADS_2