Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 113. Kisah Yara Alejandro 20


__ADS_3

Kejadian tubuh Yara diambil alih oleh Ginda sering terjadi. Dan hanya Ale yang mengetahui, bahkan Yara tidak tahu namun mulai curiga.


Nyatanya ia sering terbangin dikamar Ale. Seperti saat ini. Dan yang lebih pelik lagi dari pagi ini. Yara yang mengenakan pakaian Ale.


"Kenapa aku mengenakan ini?" Yara berdiri di hadapan Ale. Ia mengenakan kemeja putih Ale yang transparan.


"Kemana pakaianku?" Sejak ia menyimpulkan memiliki gejala penyakit tidur dengan berjalan, dan mendatangi kamar Ale, ia merangkap pakaian tidurnya.


Tapi ternyata itu tidak berguna karena Gilda selalu menukarnya pakaiannya menjadi lebih seksi dan menghampiri Ale.


"Hmn" Ale hanya mengangkat bahunya. Mana lelaki itu mengaku jika Gilda hanya mengenakan handuk saja semalam saat menghampiri kamarnya.


"Dimana kau meletakkan pakaianku!" Yara mendekat ia berdiri dengan tangan dipinggangnya. Menantang Ale.


"Kau ingin menggodaku, huh" Ale mendekat dan menarik pinggang Yara. Tubuh kecil Yara tersentak masuk dalam kungkungan Ale.


Dengan gelagapan wanita itu mendorong tubuh yang lebih besar itu darinya. Tentu tidak akan bisa.


"Lepas!" Ketusnya.


"Kau tadi memancingku, saat aku memakan umpanmu kenapa kau memberontak!" Goda Ale.


"Kau ikan! Siapa yang meng—"


Bibir Ale menempel pada bibir Yara. Yara terdiam. Ia terkejut. Matanya melebar saat Ale mulai menginvasi mulut wanita itu.


Tak lama Ale bisa merasakan tangan Yara mengeratkan rangkulannya di punggung lelaki itu. Yara terhanyut. Dan Ale menikmati pangutan mereka.


Semalam Gilda selalu menggodanya dengan menggunakan tubuh Yara. Panik tentu saja. Namun dengan cepat ia membuat si Elf Hitam penggoda itu tak sadarkan diri.


"Hhh! Hhh! Hhh!"


Nafas mereka tersenggal. Dengan jemarinya Ale mengusap bawah bibir Yara yang membengkak. Wajahnya memerah.


"Manis" bisik Ale didepan bibir Yara. Yara mengalihkan liarkan tatapannya. Ia tersipu. Tak lama ia mendorong Ale keras. Lelaki itu melepaskan Yara yang langsung berlari keluar kamar Ale.


Yara masuk ke kamarnya. Menutup pintu rapat dan menguncinya. Wanita itu berdiri menyandar dibalik pintu.


Ia meremas pakaiannya, dadanya bedegup kencang. Mengingat pergulatan bibir mereka. Kembali dadanya berdetak liar.


"Kebodohan apa yang aku lakukan ini!"


"Bodoh! Yara!" Ia mengetik keras kepalanya. Ia marah pada dirinya yang gampang sekali terhanyut pada lelaki itu.

__ADS_1


Lagi pula ia telah mengunci kamarnya, apa yang ia lihat pada gembok yang berbaris rapi di pinggir pintu utu telah rusak.


Yara mengetikkan kepalanya pada pintu. "Kau lupa dengan yang lelaki itu katakan! Kau tak pantas dengannya!" Yara memaki dirinya. Pancaran sendu terlihat pada mata Yara.


***


"Istriku, kita bertemu lagi" ucap sosok di kegelapan. Yara berada di hutan penuh pohon bambu. Suasana temaram.


Yara mengenakan pakaian panjang berwarna putih dengan topi besar dengan cadar putih transparan panjang.


Ia berdiri di antara pepohonan bambu yang menjulang tinggi. Kakinya mulai melangkah maju. Ia penasaran dengan sosok yang berada di depannya.


Tangan Yara mengulur. Melangkah pelan dengan panggilan dari sosok hitam itu. 


"Kemari sayang"


Satu langkah Yara ambil.


"Aku merindukan kita"


Kembali Yara mengayunkan langkahnya. Ia pun juga merasakan kerinduan yang dalam. Yara sudah berusaha melangkah lebih cepat namun kakinya tidak menurut.


Blash!


Kepulan asap hitam didepannya menunjukan senyuman saat sedikit lagi tangan Yara mengapai tangan berkuteks itu.


Blash!


Tangan dengan sosok kepulan hitam itu lenyap. Tangan Yara hanya meraih udara.


"Bangun!"


"Bangun!"


Yara mengerjap.


"Ale?" Ucap Yara. Wajah lelaki itu tepat di depannya.


"Berapa lama kau akan terus duduk dipangkuanku?"


"Hah?"


Mata Ale menunduk. Yara mengikuti menunduk. Dan ia melihat dirinya duduk dipangkuan Ale. Berhadapan. Dengan cepat ia melonjak turun.

__ADS_1


Namun kelamaan duduk membuat kakinya kram. Yara memejamkan matanya. Yara yang tak seimbangpun jatuh. Tidak sakit pikirnya.


Suara gedebuk kencang juga rintihan halus terdengar. Saat ingin berdiri, ia menekan sesuatu yang liat namun tak sekeras lantai. Kembali Yara menatap Ale ada di bawahnya.


Yara terjatuh diatas tubuh Ale. "Kau benar-benar pemancing ulung" ucap Ale. Mendengar itu wajah Yara memerah dan cemberut.


Ia berusaha berdiri tapi kakinya yang kram sangat sulit digerakkan. Dan menyenggol apa yang tak harus disenggol.


"Ark!" Pekikan Ale mengagetkan Yara dan kembali Yara menyenggol benda keramat milik Ale.


"Maaf! Maaf! Maaf!" Alis Yara menaut, wajahnya ikut panik.


"ARGH!" Cepat Yara melempar dirinya ke samping. Begitupun Ale yang mengguling dirinya miring. Mengepit si benda keramat yang berkedut nyeri.


Yara bersimpuh di sebelah Ale yang kesakitan.


"Maaf, maaf, maaf"


"Sakit ya?" 


"Sakit yang mana?"


Ale melirik nyalang. Wanita disampingnya ini terus saja ingin melihat sesuatu yang telah ia sakiti. Yara yang panik bertambah bodoh. Ia ingin mengelusnya tapi dengan cepat Ale menepis tangan wanita itu.


Ia menatap murka.


"Kau begitu penasaran dengan tubuhku" ketus Ale.


Yara melebatkan matanya, kesadaran menghantamnya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Aku tak bermak—"


"Aku baru tahu kau tipe gampang seperti ini!"


Ale mendudukkan dirinya perlahan kemudian berdiri,  Ucapan lelaki itu seperti siraman es pada Yara.


Kemarahan menjalari diri Yara. Tanpa kata kembali Yara mengayunkan kakinya menendang tulang kering Ale.


"AW! AW!" Ale kembali terpekik. Nyeri di tempat keramat saja masih sakit, ini ditambah tulang keringnya. Ale kembali berguling di lantai.


"YARAAAA!" Teriak lelaki itu. Saat Yar keluar dari kamarnya.


"Rasakan!" Sungut Yara.  

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2