Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 26. Informasi Baru


__ADS_3

Gen kembali ke penginapan dengan banyak informasi yang didapat dari bar tadi, tentang Hudson dari seorang lelaki bernama Dalton.


Ia mencari Elves di kamar mereka namun Gen tak melihat keberadaan pemuda itu. Ia menggedor kamar Ruve tapi perempuan derik itu juga tidak membuka pintunya.


Gen menebak bahwa Elves dan Ruve pergi berdua. Ia memutuskan turun ke bar, dan saat akan memasuki pintu bar yang berada tepat di sebelah penginapan. Gen mendapati sejoli yang ia cari sedang bergandengan tangan.


Gen berniat usil. "Kalian kemana? Tidak mengajakku?" Gen berdiri di depan keduanya.


"Kau yang kemana? Selalu menghilang" Ruve mengeratkan genggaman tangan Elves.


"Sudahlah, lupakan, sekarang ada sesuatu yang penting yang mau aku beritahu pada kalian" Gen mencoba mencari topik untuk Ruve tidak mengorek kemana ia menghilang.


Ruve tahu gelagat Gen, masih tidak melepaskan genggaman tangannya, berjalan mendekat pada Gen dan menatap sahabatnya itu dengan mata menyipit, curiga.


Elves yang ditarik hanya menaikkan alisnya keheranan.


"Kau menganti topikmu!" Gen yang Ruve pelototi pun menghindar dari tatapan wanita derik itu.


"Tidak, aku memang memiliki berita yang penting" Ruve kembali lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Gen, menyelidiki kebohongan apa yang Gen sembunyikan.


"Ayo kita bahas di atas. Kami juga memiliki informasi penting" Elves mendapat kerlingan terima kasih dari Gen. Elves menarik tangan Rube dan membawa wanita derik itu masuk dalam penginapan mereka. Gen mengikuti di belakang mereka. Ia mengusap tengkuk belakangnya.


"Sebentar, aku merasakan sesuatu yang lain darinya" Ruve bersikeras. Ruve akan kembali menjajari Gen namun ia berputar menjadi disisi Elves dengan tangan pemuda itu merangkul pinggang Ruve.


Wanita derik itu membatu di tempatnya, ia merasakan hangat pada pinggangnya, mengikuti arahan Elves menuju kamar pemuda itu dan Gen.


Ruve melirik ke tangan kekar dan berotot khas lelaki, berada di pinggangnya. Senyum dikulum, dengan pipi semerah tomat, rasa senang juga jantung yang berdebar, bergemuruh. Ruve menjadi linglung dalam kesenangan.


Bukankah ini sebuah kemajuan pesat dari hubungannya, kencan yang romantis walau dibalut kegalauan Elves. Dan kedekatan ini, apa ia bisa menyimpulkan perasaan lelaki itu padanya telah bisa ia masuki.


Ruve memupuk tinggi harapannya. Ia sudah didudukkan diranjang. Ia tak paham kapan mereka sampai di kamar Elves. Rasa berdebar semakin bertalu. Ruve melupakan eksistensi Gen yang juga berada ditempat yang sama dengannya.

__ADS_1


Ruve memandang Elves dengan perasaan yang membuncang. Menunggu lelaki itu yang entah pergi kemana? Ruve merebahkan diri. Ia menggapai bantal yang berada di kasur itu. Dan menciumnya sambil berguling kesana-kemari.


Ruve terlentang dengan menutup kepalanya menggunakan bantal itu. Menghirup wangi Elves disana. Lalu mendudukan diri, merapikan rambut dengan memeluk bantal itu.


Gen melihat kelakuan derik wanita itu heran. Ia mendekati Ruve dan melambaikan tangan ke depan wajah Ruve. Memeriksa kesadaran Ruve. Yang sedari tadi diam tidak bersuara, tidak menjawab maupun menimpali ejekannya. 


Ruve tenggelam dalam dunianya, Asik berguling-guling diatas ranjangnya. Gen merebut paksa bantal miliknya itu.


Ruve menatap tidak suka pada Gen yang mengambil bantal Elves darinya. "Kembalikan!" Ruve berkata dengan kesal.


"Kenapa? Ini bantal milikku dan kau memeluknya sambil berguling menggelikan" ucap Gen menyadarkan Ruve.


"Ini ranjang milikmu?" Ruve dibuat terkejut, jadi yang dia lakukan mengendusi ranjang Gen. Ruve mengernyit jijik.


"Mengapa kau terlihat jijik? Aku wangi juga tak kalah dengan Elves!" Katanya tak terima dengan tatapan jijik yang Ruve lemparkan padanya.


"Ish! Minggir! Ini ranjang Elves kan?" Mendengar nada kesal dari Ruve membuat Gen menjadi bingung, kenapa dengan sahabatnya ini. Sungguh aneh sifatnya berubah-ubah dengan sangat cepat. Wanita.


Ruve melemparkan diri pada ranjang Elves dan membelit dirinya dengan selimut Elves. Kembali sibuk dengan dunianya.


"Biarkan saja. Aku pun tak mengerti" Gen masuk dalam kamar mandi.


***


Ruve sudah duduk masih memeluk selimut Elves. Mendengarkan Gen yang mendapat kabar tentang Hudson, Elves menatap Ruve, mereka juga mendengar hal yang sama.


"Jadi orang itu berada disini? Tanya Ruve yang sudah kembali, dari dunia khayalan nya.


"Tapi yang membuat aku tak terlalu psrcaya dengan 'Hudson' yang kita cari dengan Hudson yang ini adalah sifatnya. Dari yang aku dan Ruve dengar ia menolong orang-orang itu, namun saat aku dengar ia memiliki istri dengan rambut warna madu bergelombang. Itu ciri-ciri Lav" Elves dengan pendapatnya.


"Mengapa ia sangat baik dengan penduduk desa ini? Aku akan mencari lagi informasi tentang ini. Aku berkenalan dengan Dalton, lelaki tua itu, bercerita banyak tapi aku menghentikan bertanya padanya, saat ia mulai curiga." Gen menjelaskan mengenai Dalton.

__ADS_1


"Aku berkata aku ingin juga dibantu oleh Hudson, dan ia tak lagi mencurigaiku, dan aku berhenti bertanya padanya" lanjut Gen.


"Kita harus cepat, mungkin saja mereka masih berada di sekitar kita. Apalagi Elves mengejar adikmu kan saat di BlackMud saat itu. Dari tempat itu dan kemari."


Mereka memutuskan untuk tidur cepat malam ini, tapi tidak dengan Gen yang akan kembali ke bar, untuk bertemu Dalton. Agar menyakinkan bahwa ia memerlukan uang, juga bantuan Hudson sang kaya raya.


Elves mempercepat tidurnya, esok ia dan Ruve akan mencari tahu keberadaan lelaki itu. Juga adiknya.


Ruve dengan keras kepala ingin tidur dikamar yang sama dengan Elves, dan janji ia hanya tidur tidak melakukan apapun. Namun dengan tegas ditolak oleh Elves.


Melihat kelakuannya yang mengendusi ranjang, selimut, bantal milik Elves, ia tak percaya dengan wanita itu.


Ruve menyakinkan Elves dengan kejadian mereka yang satu kamar saat di BlackMud. Rumah Dona. "Kau menyerangku" tepis Elves.


"Elves itu bukan serangan! Itu rayuan untuk mereka yang sedang melakukan pendekatan itu yang mereka lakukan" Ruve beralasan walau wajahnya memerah malu. Namun ia membuang itu.


"Sudah sekarang kau kembali ke kamarmu, kau benar kita tidak boleh lelah karena besok akan sangat sibuk" Elves mendorong tubuh Ruve keluar kamarnya.


"Elves … sekal—" Dan Elves membalikan tubuh Ruve. Berhadapan dengannya.


Cup!


"Selamat malam" Elves mengecup dahi Ruve, lalu menutup pintu kamarnya. Membuat Ruve mematung lama di depan kamarnya. Perlahan tangan Ruve mengusap dahi yang Elves kecup.


Sekali lagi dadanya membuncang. Ruve menjerit kesenangan berlari masuk ke kamarnya. 


"Selamat malam cintaku"  Di dalam kamarnya, Elves mendengar pekikan Ruve yang kesenangan dengan derapan kaki mulai menjauhi kamarnya. Ada senyuman tipis di bibir pemuda itu.


Ia merogoh kantong bajunya, lembar potret sang adik. Ia tatapan sedih, senyum tipis yang berhasil Ruve buat, hilang seketika, menjadi sendu dan kemarahan.


Ia mengepalkan tangannya keras hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar. Mengapa harus melibatkan sang adik. "Tunggu kakak Lav, kakak akan menyelamatkanmu, tunggu sebentar lagi!" 

__ADS_1


BRAK! Elves menggebrak meja, Tekad kuatnya berkobar bercampur kemurkaan.


Tbc.


__ADS_2