Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 133. Kisah Yara Alejandro 40


__ADS_3

"Kematianku?"


"Yara!"


Mereka tidak menduga, Yara mendengarkannya.


"Bagus jika kau mengetahuinya. Memang Kau harus mengetahuinya. Karena kau bisa melindungi dirimu juga mengambil keputusan buat kebaikkan dirimu."


"Ya mereka membuat kau seperti Bita. Namun Bita tak sekuat kau Yara. Ia adalah percobaan gagal dokter Helius."


"Aku tak tahu itu nama asli atau hanya bualan"


"Mereka ingin melenyapkan kedua Elf yang akan membuatmu menjadi Ratu mimpi. Karena hasil eksperimennya akan menghancurkan mereka sendiri."


Tawa Dantau tergelak. Ada kesedihan yang pekat dalam tawanya. Mengingat betapa mereka menyiksa Bita.


Rasa sesal juga sakit hati juga sedih membaur dalam hatinya. Tanpa terasa air matanya mengalir.


"Mengapa harus Bita?"


"Mengapa?" Isakan perih terdengar. Otis hanya bisa menepuk punggung Hugo.


"Felix memperingatku untuk hati-hati pada naga berkepala seratus? Siapa dia?"


"Aku curiga ia adalah Dokter Helius"


"Karena aku hanya ia dokter yang terobsesi dengan kalajengking"


"Kau tahu dimana dia?"


"Entahlah aku tak lagi tahu apapun sejak pusat observasi hancur"


Buntu. Tapi Yara tahu tujuannya adalah Doktor Helius. Dan bagaimana ia menemuinya.


***


"Kau mencariku hah?"


"Sini gadis kecil, kau akan bisa melakukan itu jika menurut"


"Kita akan bisa menolong temanmu itu, ia tak akan mati"


"Dunia memang kejam, memisahkanmu dengan temanmu itu"


Hanya bayang saja sudah membuat nya tercekat. Siluet lelaki sedang mengelus kepala Yara kecil.

__ADS_1


Mendoktrin dirinya dengan kata-kata jahat. Nafasnya tersengal. Ia membuka matanya. Terbatuk keras. Yara ingon meredakan batuknya. Perlahan ia meraih gelas. Dan tangan gemetarnya malah menyenggol gelas itu.


Suara pecahan membuat Ale masuk ke kamar wanita itu.


"Yara kau tak apa."


Ale mendapati Yara yang terbentuk dengan tatapan mata kosong dan wajah menggelap.


Tubuhnya bergetar. Dadanya nyeri. Ketakutan menguasai dirinya. Ia mencengkram erat selimutnya. 


Sangat takut!


"Ini minum"


Dengan cepat Yara meraih gelas dan meneguknya cepat.


"Hugh … ughuh … lagi" desisnya.


Ale menuangkan air dannYara meminumnya seperti kesetanan.


"Dia … lelaki itu, mendoktrin sedari kecil"


"Lelaki itu … "


"Argh"


"Tolong aku … "


"Selamatkan aku … "


"Tolong … "


"Apa kau datang untuk menyelamatkanku?"


"Kau mendengarkan aku?"


Yara berada di ruang gelap. Ia melihat seseorang berjongkok meringkuk ketakutan.


"Aku akan jadi anak baik"


"Dan akan segera dijemput"


"Anak baik"


"Dijemput"

__ADS_1


Racuan sosok bocah itu. Yara mendekat ia merasa iba.


Menepuk bahunya ia bisa mengenali sosok hitam itu adalah sosok Elf Hitam.


"Gilda?"


"Kau mengenaliku? Kau yang akan menjemputku"


Yara hanya mengangguk.


"Akhirnya"


Yara tersentak saat tangannya menyentuh lengan hitam itu. Semua perasaan iba, kasihan, menderita, juga kesedihan, rendah diri, iri, kesakitan, semua negatif beegolak dihatinya. Membuat Yara menarik Efl Hitam masuk dalam pelukannya.


"Sudah, kau bisa bebas."


"Waktumu selesai, kau bebas, pergilah!"


Sosok Hitam itu seperti debu sedikit demi sedikit terbang terbawa angin. Dengan perginya si hitam. Hati Yara yang tertekan menjadi lebih ringan.


Sekitar Yara menjadi lebih terang, terlihat lapangan rumput luas dengan langit yang biru cerah.


Angin menghembus pelan, ia memejam, menerpa tubuh Yara. Yara mendongak ia memejamkan mata. Ketenangan. Ringan. Hangat dan nyaman.


Terima kasih.


Semilir angin itu membawa kata ke telinganya. Senyuman hangat mengembang. Ia bisa merasakan wangi lembut yang membuat Yara mengantuk.


"Yara!"


"Yara!"


"Kembalilah Yara"


Matanya mengerjap. Wajah Ale sangat dekat. Sesaat mereka saling bertatapan. 


"Selamat datang"


"Aku pulang, terima kasih sambutannya. Ia pergi dengan tenang"


Senyuman Ale, menghangatkan dadanya. Tak lama lelaki itu memeluknya. "Kau kembali"


Ada kelegaan disana.


"Ale ada yang ingin menemuimu"

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2