Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 126. Kisah Yara Alejandro 33


__ADS_3

Jlenk! 


Dua orang terlihat muncul berada di depan sebuah gedung.


Ale memegang lengan Yara. "Kau tak apa?" Memutar tubuh Yara dan mulai memeriksa gadis itu. Wajah Ale terlihat cemas.


"Aku tak apa, kau tak perlu cemas, kita dimana?" Kepala Yara menengok ke arah gedung tinggi.


"Aku pun tak tahu, dibawa kemana kita olehnya" lirih Ale.


Mereka memandangi gedung besar didepannya.


Zrrrrkk …


Pintu depan gedung itu terbuka. Mereka saling pandang dan kembali memandang pintu terbuka itu.


"Aku harus menyelesaikannya" ucap Yara wanita dengan tubuh mungil itu baru akan melangkah namun Ale mencekal dirinya.


"Kita!"


"Kita akan menyelesaikannya!"


Ale mengulangi ucapan Yara. Wanita itu berdecak dengan mata yang memutar malas.


Mereka masuk ke gedung itu yang ternyata tampak seperti aula luas dengan beberapa pilar besar mengelilinginya.


Suara derapan mereka menggema di seluruh ruangan. Tak ada apapun hanya ada sebuah mimbar diujung dengan ruangan lantai dua yang bisa ia lihat sosok penantangnya duduk di pinggir pagar lantai duanya.


"Kalian lama!"


"Apa yang kau mau dari kita?"


"Kita? menggelikan!" Dantau menyentil kelereng dari tangannya.


TAK!


Kelereng itu mengenai dahi Yara. Kemudian ia meluruh.


"YARA!"


Ale berteriak.


"Siaal kau!" 


Maki Ale menatap nyalang Dantau yang tertawa terbahak. Ale membopong Yara ke pinggir mencarikan wanita itu persembunyian aman.


"Kau tanya apa mauku!"


"MAUKU KAU MATI KARENA AKU AKAN MEMBANGKITKAN KEMBALI RATU ELF HITAM!"


Bersamaan dengan ucapan Dantau derapan langkah kaki bergemuruh cepat mendatangi Ale.


Gerombolan makhluk mayat hidup masuk dan mulai menyerangnya.


"ITU KAU!"


"KAU BUAT HIDUPKU BERANTAKAN!"


"AKU AKAN MEMBUNUHMU!"


Mayat hidup itu meracau pada Ale dan menyerang Ale membabi buta. Lelaki itu menahan serangan. Dan ia mulai menendang dan masuk dalam gerombolan mayat hidup itu untuk melawan.


"Lumayan!"


"Kau bisa menyerang mereka balik" ucap Dantau santai menikmati pertarungan Ale melawan mayat hidup yang ia kendalikan.


" Jadi seperti ini partnermu!"


Ale memprovokasi, ia menyerang kepala mayat hidup itu. Tangannya penuh dengan cairan lendir yang keluar dari mayat-mayat hidup itu.


"Ini hanya sebuah senjataku, aku dapat mengendalikannya tanpa aku harus mengotori tanganku sendiri. Dan cukup efisien!"


Dantau melihat kuku-kuku yang ia cat hitam.


"Aku membuat mereka percaya bahwa kau yang membuat hidup mereka berantakan, dan ya kau bisa menghabisi sampah-sampah itu, mereka memang ditakdirkan tak pantas untuk hidup!"


"Hai kau Elf Hitam!"


"Kau ingin bunuh diri?"

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa mengendalikan semua mayat hidup ini sendirian, mentalmu saja tidak stabil dan hanya ini yang kau bisa?"


Olok Ale.


"DIAM!"


"Kau tak usah memikirkanku! Kau lebih baik mati dari pada mengasihaniku!"


"Jika kau mati, Wanita itu akan tertekan, tak memiliki harapan dan dilingkupi kesedihan!"


"Dan Ratu Elf Hitam akan bangkit! Sebagian dirinya mengenalku! Kami memiliki janji!"


"Sebelum kau mengenalnya, ia mengenalku lebih dulu!"


"Dimalam itu, hanya kami berdua!"


Racauan Dantau yang membuat Ale mengernyitkan dahinya.


"Kami memiliki janji! Benar!"


"Kami akan menuntut balas bersama pada dunia sampah ini dan untuk ku!"


"MAKA DARI ITU KAU HARUS MATI! ALEJANDRO!"


"Dengan begitu, wanita yang mencintaimu itu akan membanglitkan sisi gelapnya dan membangkitkan Ratu Elf Hitamku!"


Tawa kencang Dantau terlihat sangat puas dengan apa yang ia racaukan, juga suara hantaman-hantaman yang sedari tadi Ale sasarkan pada mayat hidup yang menyerangnya. 


"Ah begitu!"


"Lakukan seperti yang sudah kita rencanakan!"


"Xelo, Mako,! SEKARANG!" Perintah Ale.


Mako datang dengan sabit besarnya. Ia masuk dalam kerumunan mayat hidup. Menyabit apapun. Matanya dingin ia tak peduli dengan teriakkan atau permohonan para mayat hidup itu.


"Ak-aku berdarah!"


"Tidak! Tidak!"


"Jangan bunuh aku!"


Lalu Xelo masuk dengan menjebol dinding gedung. Ia menggunakan palu godam super besar.


"Ark!"


"Tidak!"


"Aaaargh!"


Mayat hidup itu berlarian ke arah pintu keluar. Tapi ia dihadang oleh Otis yang membawa semacam tombak.


"Kalian melihat darah kalian dimana-mana itu?"


"Kalian takut dengan kematian menanti kalian kan?"


"Maka dengarkan aku!"


"Ini adalah mimpi buruk kalian dari perbuatan kalian sendiri!"


"Kami hanya mengingatkan kalian disini!"


"Berbuatlah baik!"


"Aku akan membangunkan kalian, dalam hitungan ketiga!"


"Satu!"


"Dua!"


"TIGA!"


TAK!


Slink!


Otis menghentakkan tombaknya ke lantai dan sinar lingkaran keluar dari tombak dan kilatannya bergerak membesar di lantai. Seketika aura hitam yang mengelilingi gedung menghilang.


Wajah dantau mengeras. Keringat dan air mata bercucuran membasahi wajahnya. Ia teramat sangat tertekan. Rencananya kacau.

__ADS_1


"Aku telah menangani yang ada disini, dan mimpi buruk itu akan kembali pada orang yang mengontrol mereka"


Otis melepas sarung tangan putihnya dan membakar sarung tangan itu.


"KALIAN!"


"HEGH!" 


Dantau mencengkram pakaian depannya. Tepatnya dadanya nyeri. Serangan mimpi buruk yang berikan hntimmengendalikan mayat-mayat hidup itu kembali padanya.


Ia susah bernafas. Ia mencari-cari udara. Urat pada pelipisnya menyembul.


"Hhhh … hhh … hhh !"


"Ka … lii … lian … hhh!"


"BA JINGAN KALIAN!!!"


"KALIAN PIKIR AKU TAK MENGETAHUI ITU!"


"KALIAN TERLALU MEREMEHKANKU!"


"AKU AKAN MEMBAWA KALIAN SEMUA MATI BERSAMAKU!"


"DAN KITA AKHIRI INI DISINI! KALIAN AKAN MATI DENGAN RACUN INI!!"


Kemarahan membuat Dantau kembali berteriak, ia telah menyiapkan racun yang akan ia tenggak. Matanya memerah bergetar hebat. 


Ale sudah berada di belakang tubuh Datau, ia mencengkram lengannya bertepatan dengan lelaki itu akan menegak racunnya.


"KALIan semua … akan … ikut … deng— "


"hah! apa yan—" 


Ale mencengkram bahu Dantau. Dantau mengerjap ia tak menyadari Ale berada di belakangnya, Lalu dengan cepat lelaki dengan kuku bercat hitam itu meluruh. Ia tak sadarkan diri.


"Ck! Jangan kau kira matimu mudah! Kau harus menjelaskan banyak pada kami!"


Decakan Ale, ia meraih ramuan racun dan mengantonginya.


"Ale kau tak apa?" Otis berlari menghampirinya.


"Tenang aku baik-baik saja, kita mendapatkannya"


"Greya telah menyiapkan ruangan untuknya. Kita bisa menunggunya pulih"


"Xelo, bawa dia kembali ke markas denganmu"


"Baik"


Xelo menggendong Dantau yang pingsan pada punggungnya dan membawanya kembali ke markas Hugo.


"Xelo, Maki terima kasih telah membantu" Ale menunduk hormat atas bantuan keduannya.


"Tak masalah"


"Lumayan menyenangkan membabat para mayat hidup itu"


"Ale kau tak apa?"


Yara yang telah siuman sejak mereka mulai mengepung Dantau. Ia mendekati Ale. Ia memeriksa lelaki itu. Ia hanya menemukan lebam atau luka ringan. Yara lega.


"Aku tak apa, tenang, Ayo kembali ke markas."


Mereka kembali ke markas.


***


"Dantau ditangkap oleh mereka sebelum ia mengakhiri dirinya"


Lelaki yang meracik minuman itu memberikan laporan pada lelaki berambut hitam yang duduk di singgasananya.


"Dia gagal" gumam si rambut hitam.


"Aku tak mengira ia akan hidup dan tertangkap seperti itu"


"Felix, Kau yang urusi sebelum ia datang"


"Baik Tuan"

__ADS_1


Felix lelaki yang meracik minuman itu mengangguk. "Ia" yang mereka maksud adalah seseorang yang sebenarnya otak dari  para bandit di Tanduk Hitam yang Hugo dan lainnya incar.


Tbc.


__ADS_2