
"Woah" Ruve mundur, "Halo Ruvera, senang bertemu denganmu, aku Mary penjaga puncak Ploppy, lalu apakah sekarang kau bisa berkencan dengan lelaki itu?" Ruve melihat binaran yang terpancar dari wajah peri di depannya,
"Ambillah berapapun yang kau mau,itu bayaran untuk kau membagikan cerita mengenai hatimu, aku merasa senang" Mary tersenyum.
"Benarkah?" Mary mengangguk antusias, "tapi apa kau akan membagi ceritamu denganku lagi?" Tanyanya. Mary sangat suka dengan cerita yang membuat hati menghangat.
Cerita cinta contohnya, namun ia tak suka dengan cinta yang dibalut muslihat dan kebohongan. Kalau ia mendapat seseorang membawakan cerita semacam itu, Mary akan menjahili nya.
Mary adalah peri jahil, Tapi dari Ruve yang bercerita ia bisa masuk dalam memori Ruve. Itu adalah salah satu kemampuannya. Memasuki memori saat orang itu bercerita, makanya ia tahu jika seseorang itu berbohong dan hanya mengerang ceritanya dan memberinya Ploppy.
Ploppy adalah tanaman langkah yang Mary jaga. Tanaman dengan bunga berputik putih ini sangat cantik, tanaman penyembuh, membuat ramuan apapun bekerja lebih cepat.
"Aku bahkan bisa memberimu semua, jika kau mau"
Mata Ruve tentu saja berbinar senang. Ia mengangguk. "Tapi sebagai bayarannya aku ingin mendengarkan perkembangan mengenai cerita cintamu, bagaimana? Sepakat, dan jika kau mau, aku akan dengan senang hati datang padamu. Jika kau membutuhkan Ploppy. Kalau kau memanggilku — "
"Sepakat, bayar dengan perkembangan cerita cinta indahku" Ruve menganggukan kepalanya. Dengan tangannya saling bertaut dengan Mary.
***
Ruve melenggang dengan kepercayaan diri tinggi, walau tampang nya berantakan, kulit hitam yang terbakar sinar matahari. Rambut awut-awutan, sudahlah ia seperti tak mengurus diri.
Masuk dalam penginapan dan mendekati Elves yang sedang membaca sambil meminum tehnya.
Lelaki itu meletakan cangkirnya, Ruve dengan cepat menyambar cangkir Elves dan menengak nya habis.
Elves menatap Ruve yang menyengir padanya. "Haus" Ruve meletakkan cangkir tanpa bersalah.
"Bagaimana? Menyerah?" Elves menyeringai mengejek Ruve.
__ADS_1
"Naah!" Ruve menggerakan jarinya di depan Elves.
"Tidak akan! Tidak pada misi, pun tidak pada dirimu" Ruve bersiul dan kepulan asap muncul di depan Elves.
"Hai Ruve kau memanggilku?" Sosok wanita muncul di depannya. Mary duduk dihadapan Elves yang terkejut.
"Beri aku Ploppy" dengan sekali menggerakan tangannya, Mary mengeluarkan setumpuk Ploppy. "Sebagai bayaran aku kenalkan kai dengan tokoh pria di cerita hidupku"
"Elves kenalkan ini Mary peri penjaga Ploppy di gunung Rosemary. Mary ini Elves, jangan naksir!" Ia melihat binar pada wajah peri Mary.
"Mary salam kenal pemeran utama pria dalam hidup Ruve, aku menantikan happy ending, Pamit!"
BLASH!
Mary menghilang dari hadapan mereka si peri penjaga itu tak bisa berlama-lama keluar dari tempatnya.
"Silakan, nikmati Bunga Ploppy yang langkah. Aku menunggu kencan kita nanti malam" Ruve memegang dagu Elves dan mengangkat mendongakkan ke arah Ruve.
Dan wanita derik itu melangkah ke arah kamarnya dengan langkah ringan dan bersenandung.
Elves yang baru bisa meraih kesadaran nya, ia meraih tumpukan bunga Ploppy. Meneliti, keaslian bunga di depannya itu. Padahal Elves hanya mengarang jika di gunung itu ada Ploppy. Ia hanya melihat selentingan pengunjung penginapan membicarakan bunga itu.
Dan lebih mengejutkan Elves, Ruve mendapatkan bantuan langsung dari peri penjaga disana. Dengan enteng membawakan bunga Ploppy untuk Ruve.
Dari semua ini yang membuat otak Elves bingung adalah bagaimana cara berkencan? Elves si minim pengalaman ini, mengetukkan kepalanya pada meja di bar.
***
Di tempat lain, Gen datang ke bar yang lumayan ramai di desa Ros ini. Awalnya ia ingin bersenang-senang, namun setelah mendengar nama Hudson di perbincangkan. Ia tak lagi fokus untuk bersenang-senang.
__ADS_1
Gen lebih memilih duduk lebih dekat pada sekelompok orang yang menyebut nama Hudson.
Dalam sekejab obrolan semakin membuat Gen bingung apa benar Hudson yang mereka ceritakan adalah sosok yang sama dengan Hudson yang ia cari.
Terlalu banyak yang bertolak belakang dengan yang ia tahu. Namun Gen mencoba mendekat. Mencari tahu lebih dalam.
"Siapa Hudson-Hudson ini, sepertinya sangat menolong desa Ros?" Gen mendekat pada seorang lelaki yang minum disebelahnya.
Lelaki itu menatap tajam Gen. "Kau bari disini?" Lelaki itu bertanya. "Ya, aku perantau" ucap Gen.
"Pantas saja, Dalton" ia memperkenalkan namanya, lelaki paruh baya itu melanjutkan minumnya. Ia mengangkat gelas pada Gen.
"Gen!" Gen mendentingkan gelas nya pada gelas lelaki itu.
"Kalau tak ada dia, kami mungkin akan mati" jelasnya. Yang membuat fokus Gen hanya pada lelaki tua itu. Walau ia samarkan dengan menyesap minumannya sedikit demi sedikit.
"Hudson memberi kami tempat tinggal, membawa kami para pemberontak yang gagal berkumpul di desa Ros." Lelaki paruh baya itu menuangkan cairan kuning kecoklatan itu pada gelasnya.
"Aku pikir kau salah satu pemberontak baru yang ia bawa masuk kemari" Gen kembali menyesap minumannya.
"Ia juga mengajarkan beberapa dari kami untuk melatih fisik kami, alasannya untuk menjaga kesehatan" Dalton meneguk cairan pahit itu.
"Padahal aku tahu bahwa ia juga akan memanfaatkan kami kedepannya. Aku tidak buta, dengan memberi kami fasilitas seperti ini, siapa yang akan menolak." Dahi lelaki itu memperlihatkan guratan kepahitan.
Sama halnya dengan Gen yang otaknya terus berpikir agar lelaki tua ini terus bercerita padanya tanpa merasa curiga.
"Dimana Hudson ini?" Lelaki tua yang sedari tadi jarinya mengetuk-ketuk gelas kacanya dengan telunjuknya itu menghentikan gerakannya.
"Kenapa kau mencarinya anak muda?" Ada kecurigaan yang Dalton lemparkan dari tatapan matanya. Dan itu membuat Gen gelagapan.
__ADS_1
"Mmm … Nhhnn … itu—"
Tbc.