
Malamnya Ruve bersiap untuk berkencan, senyumnya tak hilang dari bibirnya, ia sangat menantikan berduaan dengan Elves menyusuri pasar, bergandengan tangan, berangkulan, berpelukan, saling menatap, apapun yang biasa pasangan lakukan.
Ruve tak sabar, dannia telah siap, Ruve berada di depan pintu kamar Elves. Ia mengetuknya.
Menunggu sang pemilik kamar membukakan pintunya. Dan tak lama ia melihat Elves yang juga sudah mengenakan mantelnya. Jantungnya berdegup kencang, senyuman malu-malu, Ruve lemparkan pada Elves,
"Ayo" tangan Elves memegang kepala Ruve dan menengokannya ke samping. Elves agak risih dipandangi malu-malu oleh Ruve yang membuatnya ikut tersipu salah tingkah. Bertambah bahagia Ruve.
Ruve terkekeh. Dan Elves yang salah tingkah menjitak kepala Ruve. "Jangan tertawa!" Ucap Elves. Bukannya marah, kekehan Ruve semakin keras, dan menimbulkan senyuman pada bibir Elves.
Ruve sangat senang, mereka tiba di depan pasar malam. Banyak lampu warna-warni. Seperti festival lain, banyak orang berdatangan.
Banyak pedagang, Ruve mengabsen satu persatu lapak para pedagang. Ia hampir melupakan kencannya. Ia sangat suka dengan festival. Ramai, meriah dan bahagia.
Dan Ruve akan kalap berbelanja makanan. Kepulan asap pada pedagang makanan tak bisa Ruve hindari. Ia menarik Elves mendekat pada tukang yang menjual makanan.
"Aku mau itu" Ruve berkata ia tak memiliki uang untuk membeli, jadi ia meminta apapun pada Elves, lagi pula, ini kan reward yang ia terima dari misinya siang tadi.
"Elves beli itu juga." Lagi ia menadahkan tangannya.
"Topeng itu lucu"
"Minuman itu sepertinya enak"
"Anting ini cantik"
"Ah jepit rambut ini sangat imut" dan tak terasa kedua tangan Ruve dan Elves penuh dengan barang-barang yang Ruve beli.
Mereka mampir ke sebuah bar, namun Ruve tak terlihat lelah ia menikmati minuman dinginnya. Duduk di dekat jendela lantai dua, Ruve memandangi gemerlap lampu warna-warni, penduduk yang menikmati festival, ia suka keadaan ini, menikmati pemandangan dibawah sana.
"Elves cobalah, ini sangat menyegarkan" mendorong gelas minuman pada Elves dan pemuda Elf itu menurut ia meminum minuman Ruve. Ia memang sangat haus juga sedikit lelah mengikuti Ruve yang bersemangat berkeliling festival.
"Jangan terlalu banyak memakan cemilannya, kau akan kekenyangan sebelum makanan yang kita pesan datang" ucap Elves memperingatkan Ruve yang menikmati sosis yang berbalut donat itu.
"Ah … aku lapar, berapa lama lagi kita harus menunggu" rengekan pada Elves.
"Lihat barnya cukup ramai kita harus sabar menunggu" ya bar yang mereka masuki memang banyak orang didalamnya, untung saja tadi sewaktu mereka masuk ada satu meja kosong.
__ADS_1
"Ya sudah makan saja cemilan yang kau beli dulu" Elves menepuk kepala Ruve yang girang dengan perkataan Elves yang memperbolehkan memakan habis donat sosis itu.
Ruve mengunyah, sesekali ia melirik kerumunan orang dibawah sana. "Kau ditolong Tuan Hudson?"
"Iya saat roda kereta kudaku hancur masuk dalam lubang, ia memberiku roda baru"
"Wah beruntung sekali" timpal lelaki dengan kumis yang duduk disebelahnya, mendengar nama Hudson di sebut, Ruve dan Elves menaikan alis sambil berpandangan.
Hudson? Bukan orang yang mereka carikan?
"Aku dengar baru-baru ini aku dengar Tuan Hudson juga menolong anak serif Dexter. Colombia" lelaki kumis itu menyuapkan makanannya.
"Ah aku dengar itu, dan Sekarang Nona Colombia mengabdikan diri pada Tuan Hudson, sayang sekali Tuan Hudson sudah beristri." Temannya yang bertopi.
"Istrinya Tuan Hudson sangat cantik" lanjut lelaki bertopi itu.
"Kau pernah melihatnya?" Lelaki berkumis itu bertanya.
"Iya, rambutnya bergelombang panjang berwarna madu, dan berkulit putih, aku melihat hanya sekilas, waktu itu" Elves hendak mendekat, namun Ruve menahannya.
"Jangan dulu, jangan buat keributan Elves!" bisik Ruve.
Makanan mereka tiba, namun dengan cepat Ruve meminta membungkusnya. Ia ingin membawa Elves keluar dari tempat ini dan kembali kepenginapan mereka.
***
Mereka tidak kembali ke penginapan. Ruve dan Elves duduk di tepi sungai, mereka melewatinya. Dan Ruve menarik Elves duduk.
Ia membuka makanan yang mereka bungkus. "Kau harus makan, karena setelah ini kita akan sibuk" Ruve memberikan satu kotak makanan pada pangkuan Elves, ya pasti mereka akan mencari tahu tentang cerita dua lelaki di bar tadi.
Lebih tepatnya mencari keberadaan Hudson dan Lavender. Pikiran Elves hanya tertuju pada Lavender bagaimana nasib adiknya sekarang? Mengapa adiknya itu menghindarinya saat ia mengejarnya? Mengapa? Bukan hanya sekali ia melihat sosok lavender.
"Makan Elves!" Perintah Ruve, ia melihat Elves hanya memainkan makanannya. Ia mengambil kotak makanan itu dan mengganti dengan sosis donat sama seperti yang ia makan dibar tadi.
"Ini aaa … " Ruve menyodorkan sosis donat didepan mulut Elves. Ia menggoyang-goyangkan, "Please," Ruve memohon Elves membuka mulutnya.
Elves menatap netra Ruve lama, kemudian ia membuka mulut dan Ruve menyuapi Elves. Elves mengunyah pelan.
__ADS_1
Ruve meraih tangan Elves dan memindahkan donat sosis ke tangan elves agar memakannya sendiri.
"Makan dan Habiskan, oke!" Perintahnya. Elves hanya mengangguk dan mengigit kecil donat sosis itu.
"Pintar, Good Boy!" Ruve mengusap rambut Elves perlahan dan membuat kemarahan pada hati Elves menjadi sedikit memudar. Rasa hangat mengalir dalam dadanya.
Elves menahan tangan Ruve yang akan menjauh dari kepalanya. "Lagi, lakukan lagi" Elves meletakkan tangan Ruve pada rambutnya. Ia meminta Ruve mengelusnya, Matanya seperti seekor anak anjing, menggemaskan.
Ruve menangkup wajah Elves dan mengecup pipi pemuda itu, Ruve tak tahan, Elves sangat imut. Lalu menarik kepala lelaki itu dan memeluknya sayang,
"Tapi habis ini makan!" Ruve masih dengan nada perintah, ia menjauhkan kepala Elves setelah merasakan anggukan setuju pemuda itu.
Ruve mengelus rambut Elves, dan pemuda itu juga melanjutkan memakan donat sosisnya.
Donat sosis Elves tinggal sedikit ketika suara perut Ruve, merusak suasana. "Kau lapar?" Elves mendongak menatap lurus ke Ruve yang menunduk menatapnya. Tatapan mereka bertemu.
"Tentu saja, Aku lapar, tadi hanya kuganjal perutku dengan donat sosis" Wajah Ruve memerah namun ia tidak berkelit, nyatanya sangat lapar sekarang.
Karena menunggu acara kencan, ia hanya makan sedikit tadi siang, terlalu senang menunggu acara kencan mereka. Ia merasa kenyang tadi.
Elves menyodorkan donat sosisnya pada Ruve seperti saat Ruve menyuapi pemuda itu tadi.
"Makan!" Senyuman Ruve mengembang ia meraih tangan Elves yang memegang donat sosis dan mengarahkannya ke mulutnya lalu melahap semua sisa donat Elves.
Mulutnya penuh dengan potongan donat dan sosis. Ruve agak susah mengunyahnya, ia menarik tangannya namun Elves tetap menahan tangan Ruve.
"Aku akan menyuapimu" Elves tak ingin kehilangan usapan hangat dari tangan Ruve. Dan tentu saja Ruve tak menolak walau ini akan membuat jantungnya berlompatan.
"Duduk sini" Elves menepuk pangkuannya, Ruve melebarkan matanya, apa ini? Ruve tidak akan melewatkan kesempatan. Ia sudah duduk dipangkuan Elves. Ia tebalkan wajahnya. Walau pipi hingga kupingnya semerah tomat. Muka tembok.
"Mau bola-bola daging itu" Ruve sudah siap membuka mulutnya. Dan Elves menusuk satu bola daging dan menyuapkan pada Ruve.
"Kau juga makan" Elves menusuk satu lagi bola daging dan memakannya. Kencan yang Ruve pikir berantakan, nyatanya menjadi kencan romantis yang tidak terduga.
Makan berdua di pinggir sungai dengan banyaknya kunang-kunang, sebagai cahaya mereka. Ruve sangat amat senang.
Haruskah ia berterima kasih pada dua lelaki yang mereka dengar pembicaraannya?
__ADS_1
Tbc.