
"Ugh!" Matanya mengerjap, cahaya masuk ke dalam matanya, tangannya terangkat, menghalau banyaknya cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Dimana ini?" Ia mendudukkan tubuhnya, ia mengamati sekitarnya. Berada di sebuah kamar, ada sebuah meja juga kursi.
Beranjak, ingatannya memutar, ia menyelamatkan Ruve dari lilitan Mateo yang menghipnotisnya dan ia dengan wujud ular menyerang Mateo dan menyeretnya masuk ke dalam portal.
Ia membuka pintu, mengintip, sepi, ia berjalan di lorong, dengan mata risau, setiap mendengar langkah kaki, membuatnya bersembunyi.
Gen menemukan satu pintu yang tak tertutup sempurna. Ia melihat sosok wanita yang familiar, disana terduduk menyandar di kepala ranjang, dengan kepala menunduk tidak sadarkan diri.
Gen masuk kedalam kamar itu. "Lavender?" Ia mendekat, mencoba membangunkan wanita berambut madu itu.
"Lavender!" Gen mendekatkan tangannya, ia bisa merasakan angin hangat dari hidung wanita itu.
Ia menepuk pipi Lavender, guncangan di bahu tak diindahkan wanita itu yang terus terpejam.
"Lavender, bangun!" Ucap Gen.
"Wah siapa ini?" Ucap seseorang dari belakang Gen yang ternyata Hudson. Lelaki itu berdiri didekat pintu.
"Beraninya kau menyentuh milikku" ucap Hudson. Melihat tangan Gen masih menepuk untuk menyadarkan Lavender.
"Kembalikan adikku!" Gen menghardik, tawa tergelak terdengar dari Hudson.
"Lavender, bangun!" Gen masih mencoba membangunkan Lavender.
BRAK!
Hudson menyerang Gen, Gen mengetahui serangan dadakan Hudson, ia menghindar, tapi terlambat kepalan tangan Hudson bersarang pada ulu hatinya, membuat Gen terjatuh ke lantai. Menahan perih di dada.
"Jangan kau mengaku-ngaku! Lihat dia, kecantikan yang sempurna dan akan melengkapi koleksiku nantinya." Hudson mencengkram dagu Lavender.
Koleksi? Batin Gen,
"Dasar Gila! Lepaskan dia!" Pekiknya
"Breng53k! Lepaskan adikku!" Gen dengan mendekat dan merengkuh kerah leher Hudson.
"BERANINYA KAU MENYENTUHKU!" Hudson menendang kencang perut Gen, Gen mundur terjengkang kebelakang.
Ia mengarahkan tangannya ke arah Gen dan sinar juga kilatan listrik keluar dari tangan Hudson, membuat Gen berubah menjadi sosok ularnya.
"Kembalikan adikku!" Gen berucap dengan bentakkan.
__ADS_1
"Adik? Siapa yang ingin kau bodohi? Klan ular lemah dan bau macam kau, bagaimana bisa bersaudara dengan kaum Elf macam kami!" Tawa kencang menggelegar.
"Sungguh lelucon yang lucu!" Kembali ia tergelak.
"SSSSSsss … "
BRAK!
Gen menyerang dan mendapat perlawanan dari Hudson, ia terpental dan menabrak dinding kencang. Gen meluruh terkulai tak sadarkan diri.
***
Gen berada di belakang Ruve ia menghunuskan pedangnya. Mata lelaki itu kosong. Tanpa ekspresi.
"Mati!" Desisnya, Ruve terbelalak matanya melebar rasa nyeri menjalar sekitar pinggangnya.
"ARK!" Pekik kesakitan Ruve.
Pedang menancap di pinggang Ruve. Lalu Gen menyambutnya, dan kembali akan menghunusnya.
TRAK!
KLONTANG!
"Elves, aku akan membunuhmu!" Ucap datar Gen, ia mengacungkan pedangnya pada Elves.
Gen berlari menghampiri Elves.
"MATIIII" teriak Gen, Ia menggenggam pedangnya di dada dengan erat.
Elves turun dari kudanya. Ia menghindar dari serangan Gen. Menarik baju depan Gen.
"Kau bukan Gen!"
"Kenapa kau ambil tubuhnya?"
"Kau menebaknya tidak salah, juga tidak benar, Elves" suara dari belakang, Elves melirik ke sumber suara. Hudson.
"Dia bukan lagi kawan yang aku kenal" lanjut lelaki itu.
"Dia hanya raga tanpa jiwa" senyuman mengembang.
"Hudson!" Desis Elves.
__ADS_1
"Lama tak jumpa kawan lama, rasanya sangat lama kita tak bertemu , dan sekarang kita bertemu ditempat pertama kali kita bertemu, romantis sekali bukan?" Hudson terkekeh.
"Dan aku tak menyangka kau memilih si lemah ini masuk dalam tim mu, sangat tidak berguna, dan menyusahkan" ejeknya.
"Tutup mulutmu!" Geram Elves. Ia mulai menyerang Hudson.
"Hancurkan aku, kau akan menghancurkan mereka! Jiwa mereka ada di dalam tubuhku!" Ucap Hudson saat tangan Elves berada di depan wajahnya. Bersiap meraup wajah Hudson.
Ancaman lelaki itu berhasil Elves menghentikan serangannya. Tapi ia lengah Hudson menendang kencang perutnya. Tubuh Elves berguling. Ia terbatuk darah.
Tubuhnya bergetar bukan kesakitan melainkan Elves menahan tawanya, dan tak lama ia semakin tergelak, menatap wajah Hudson penuh ejekan.
"Aku tak menyangka kau perlu tameng untuk aku tidak menyerangmu!" Tawanya semakin terpingkal. Elves berusaha berdiri.
"Kau tak berubah! Sama seperti dulu" Kekehan Elves merendahkan membuat kemurkaan pada Hudson.
"DIAM!" bentak Hudson.
"SERANG DIA!" perintah Hudson pada Gen.
"MATI KAU!" Gen menyerang Elves. Tangannya teracung ingin menghantam Elves.
"Maaf Gen" lirihnya. Kemudian ia menghantam perut Gen.
"Urgh … "
"Aku ingin kau istirahat sebentar" Gen meluruh dan Elves menangkap tubuh Gen dan meletakan perlahan dilantai.
Ia melirik Ruve yang juga tergeletak mempertahankan kesadarannya. Kembali ia berbalik.
Ia tak menemukan Hudson disana, tapi tiga orang bawahan Hudson menyerangnya, tendangan bersarang di pinggang samping.
Membuat Elves tersungkur. Ia menatap bengis ketiganya. Ia harus cepat menyelesaikan ini. Dan membawa Ruve dan Gen.
"Aaaahh" Elves menarik salah satunya dan dengan cepat mendekap di belakangnya lalu Elves menyiapkan belati dan menancapkan pada leher musuh.
Kembali ia merasakan serangan di kedua sisinya, Elves melompat menghindari serangan keduanya.
BRAK! Mereka saling menusuk temannya sendiri.
Elves hanya melirik dingin. Ia mengubah Gen menjadi sosok ularnya dan meletakkan di bahu,
"Minun ini dulu, Bertahan Ruve" ia menyodorkan botol kecil ramuan dan meminumkannya lalu membopong tubuh Ruve.
__ADS_1
Tbc.