Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 118. Kisah Yara Alejandro 25


__ADS_3

"Tuan Ulat, Tuan Hugo mengikutkan anda pada Arena Urban Lapan. Melawan Ulalat" jelas Greya di depan pintu kamar Yara.


Ini masih pagi dan Greya mendatanginya dan nyawanya masih di awang-awang. Yara mengangkat tangannya. Ia menggeliatkan tubuhnya.


"Jam 7 malam, anda sebagai petarung independen" anggukan malas.


"Hokey" mulutnya menganga lebar. Menguap.


"Kalau begitu saya permisi."


"Tunggu!"


"Ya Tuan Ulat?"


"Jadi aku free hingga jam 6?"


"Benar" anggukan Greya. Sudut bibir Yara terangkat.


"Ada lagi yang anda perlukan Tuan?"


"Tidak, silakan lanjutkan pekerjaan anda"


"Saya permisi Tuan Ulat" Greya mengangguk hormat. Lalu melangkah pergi.


Langkah Yara meringan ia kembali masuk ke kamarnya. Naik ke ranjang dan tidur lagi.


***


Gedoran pintu keras membangunkan tidur Yara. Ia terduduk dan menguap lebar. Melirik ke arah jendela. Sinar menerangi kamarnya.


Ia beranjak menuju pintu. Terbuka wajah Juan terpampang di depan kamarnya dengan sebuah koper.


"Kita satu kamar, kata si sekertaris ranjangku akan datang"


Juan menarik kopernya masuk. Yara menggaruk kepalanya. Ia bingung mengapa Juan tak memiliki kamarnya sendiri. Walau dengan senang hati Yara bisa sekamar dengan Juan.


"Kau tak diberi kamar sendiri?"


"Aku minta sekamar denganmu"


"Aku lapar" lanjut Juan yang sudah melangkah ke arah lemari pendingin yang berseberangan dengan meja kayu.


"Hanya ada buah?" Ucap Juan.


"Kau bisa ke kafetaria di bawah. Bagaimana tadi?"


Juan mengambil satu apel dan membawanya duduk dipinggir ranjang Yara yang kembali tidur. Ia menggigit apel terdengar begitu renyah dan menyegarkan itu.


"Segarnya, kau mau?"


Juan menawarkan apelnya pada Yara yang menatapnya. Yara menggeleng.


"Tidak, terima kasih, jadi kau bertemu Hugo"


Kembali Juan menggeleng. Ia hanya bertemu sang sekretaris. Dan menandatangani beberapa berkas yang tidak ia baca kembali.


Yara kembali beranjak, ia menuju kamar mandi menyiapkan diri untuk naik ke arena nanti malam.


"Mau kemana?"


"Naik Arena Urban Latan"

__ADS_1


"Perintah Hugo?"


Yara mengangguk,


"Yap, independen"


"Maksudnya?"


"Hugo memerintahkan ku untuk melawan Ulalat milik Razor. Tak membawa namanya. Petarung independen."


Juan paham. Semua dalam hidup Hugo memang penuh misteri dan rahasia.


Juan ikut Yara ke Arena Urban Latan. Melihat Yara sudah berdiri dengan sosok yang mirip Ulat.


Yara menatap sosok itu. Ia memperhatikan segala yang ada pada makhluk yang mirip dengannya.


"Tuan Ulat apa kabar?"


Razor datang menyapanya. Ia melirik dengan senyuman miringnya.


"Tuan Razor baik" tanpa ingin berbasa-basi Yara melewati Razor dan memasuki Arena pertarungan.


Ia siap membantai malam ini. Baterainya telah terisi dari seharian ia istirahat. Mata mengikuti pergerakan Ulalat.


Tak menyangka pada penonton yang membludak. Pengamatan Yara pada sosok di depannya kembali ia teruskan.


Yara menyerang Ulalat. Dengan gesit makhluk itu menghindar. Dari gerakannya yang ringan Yara tahu seberapa lama ia melatih kekuatannya.


Nafas Yara naik turun. Ia mendapatkan serangan. Yara memundurkan dirinya. Serangan membuat bibirnya pecah.


Kembali Yara menyerang dengan memiting leher Ulalat. Ia memutar dirinya dan siap untuk membanting, dengan lincah Ulalat membalik keadaan. 


Ulalat memiting dirinya. Meringannkan diri Yara salto. Kakinya ia sasarkan pada perut Ulalat.


"Ark!"


Benturan keras Yara rasakan saat kepalan tangan Ulalat menyerang dirinya. Ia menariknya lalu melompat dan memiting kepala Ulalat dengan pahanya.


Ulalat terbanting dan terlentang di lantai. Ia menggelinding menjauh. Menghindari serangan Yara. Nafasnya memburu.


Mereka seimbang. Tapi tidak sejak tadi Yara memang ingin mengetahui kualitas KW dirinya ini.


Yara melihat ke arah kodean Hugo dan Greya menontonnya.


Yara menghabisi Ulalat dengan cepat. Ia telah ada di belakang target, mengeluarkan belatinya dan menyayat tempat fatal pada leher Ulalat.


"AARGH!"


Ulalat meronta dengan kucuran darah yang keluar dari leher layaknya air mancur. Tubuh Ulalat menggelepar di lantai.


Yara mengusap goggles nya yang terkena cipratan darah Ulalat menghapusnya dengan kain pada lengannya.


Ia dengan tatapan datar melihat Ulalat yang diambang hidup dan mati. Yara melipir kesamping dimana ada sebuahbbangku dan Yara mendudukan dirinya.


Ia keluar Arena Urban Latan setelah ia dinyatakan menang. Sorakkan kencang mengelilingi Yara. Razor menggeram di tempatnya.


"Tak berguna!" Umpat lelaki itu.


Yara kembali ke markas rahasia milik Hugo. Juan mengikuti Yara. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Hugo yang tersenyum dengan kemenangan Yara.


Setidaknya asli memang tak akan terkalahkan dengan bentukan palsu. Uara berkata begitu padanya.

__ADS_1


"Kau tak apa?"


Juan masuk ke kamar mereka menyusul Yara yang siap masuk kamar mandi. Tubuhnya lengket dengan keringat dan darah dari Ulalat.


"Tak apa" jawabnya singkat.


"Kau tak terluka? Akan aku racikan ramuan untuk membuatmu tenang"


"Tenang Juan aku tak apa, okey Terima kasih. Aku sangat membutuhkannya saat ini"


Suara air mengalir. Juan sibuk meracik di meja dekat dengan ranjangannya.


Yara mengusap rambutnya. Ia melihat lelaki dengan rambut pirang itu menyeringai. Yara sempat membatu. Untung ia telah menghabisi Ulalat.


Yara memeluk tubuhnya sendiri dibawah pancuran air. Lama.


Gedoran menyadarkan Yara. Ia terlampau lama dibawah air. Juan kembali menggedor pintu kamar mandinya.


"Kau lama sekali!" Panik Juan.


"Aku kira kau pingsan" lanjut Juan melihat bibir Yara yang kebiruan. Dengannrambut basahnya.


"Siaal kau Yara! Berapa lama kau berada dibawah air!" Yara hanya menatap dengan tatapan tak terbaca.


Yara jalan agak terhuyung dan Juan dengan cekatan memapah tubuh Yara ke ranjangnya. Juan mengambil handuk kering, membungkus rambut Yara.


"Kau, ini minum" gelas Yara terima. Laku ia teguk habis. Rasa hangat menjalar tenggorokannya hingga ke perut.


"Istirahatlah."


Yara memberingkan diri. Juan akan meninggalkan Yara, langkahnya terhenti.


"Aku melihatnya" kepala Juan menengok ke Yara yang menatap langit-langit atap. Tatapan kosong. Juan melihat Yara mengiggil.


Ia kembali untuk duduk di samping ranjang Yara.


"Ia ada disana"


"Ia menonton ku" ucapan Yara bergetar. Sorot ketakutan tergambar jelas pada mata wanita itu.


Juan melihat mata Yara yang berair, meleleh di samping matanya.


Juan mendekap sahabatnya itu dalam diam. Apa Yara ini, orang yang sama dengan Yara yang ada di arena, dengan dingin menghabisi lawannya tanpa rasa takut.


Lalu yang saat ini ia lihat. Ketakutan dalam pelukannya ini Yara yang sama atau bukan? Isak tangis dengan pelukan erat juga tubuh bergetar hebat.


Apa sehebat itu lelaki yang selalu Yara ceritakan padanya. Hingga membuat Yara tangguh menjadi ketakutan begini?


Ketukan terdengar dari pintu. Ia melepaskan pelukan Yara agak kesusahan. Juan melangkah ke pintu dan membukanya.


Sosok Ale terlihat. Wajahnya terlihat marah dengan tatapan membunuh.


"Mana Yara?" Tanyanya.


"Di—" 


"Alekuuuu kamu datang menjemputku?" Ucapan Juan terputus. Berganti suara genit menggoda. Yara menelesak masuk ke pelukan Ale.


Ale mengangguk dan membawa Yara ke kamarnya. Juan hanya bisa menatap kepergian keduannya. Ia sempat melihat mata Yara yang berubah merah dengan rambut berubah hitam.


"Gilda?" Ucap lirih Juana.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2