
Gen meneguk minumannya. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Disana ia mencari Dalton.
Memperlihatkan bagaimana ia frustasi pada lelaki tua itu agar ia mendapat informasi lebih mengenai Hudson yang dikenal royal membantu yang membutuhkan.
Ia meminta tambahan minuman, lalu dengan sihirnya ia membuang sedikit demi sedikit minumannya.
"Lagi!" Ia sudah melihat Dalton. Namun penjaga bar, meliriknya datar. Ia menganggap Gen lelaki bermasalah. Ia akan mengawasinya.
Penjaga bar memberikan gelas ke dua belas Gen. Dan Gen meneguk habis minumannya. "Lagi!" Ia menghentakkan gelasnya pada meja.
"Maaf Tuan kau sudah minum terlalu banyak" sembari penjaga bar mengelap gelas bersih. Ia tak memberikan minuman barunya.
"Aku membayarmu! Cepat berikan minumanku!" Gelagat Gen yang mabuk. "Kau tak tahu bagaimana kehidupan kejam ini menghancurkanku" curhatnya.
"Mana cepat! Berikan minumanku!" Bentak Gen yang membuat pelanggan lain melihat ke arahnya. Tak terkecuali Dalton.
"Mana! Kemarikan gelas itu!" Saat Gen melihat bartender lain meracik minuman untuk pelanggan lain.
"Ini bukan milik anda tuan, kau terlalu banyak minum" Penjaga bar itu memberitahu Gen. Namun Gen tidak peduli,
"Aku membayar disini! Kau tak berhak menceramahiku!" Dengan terhuyung ia meraih botol yang berada di depannya, namun bartender itu menepis tangan Gen.
"Ada apa ini, Josh?" Dalton datang. Ia pelanggan tetap dan vip. Ia melihat Gen dan ia ingat tentang pemuda yang kemarin bertemu dengannya dan bertanya tentang Hudson.
"Berikan minumanku!" Gen berteriak, matanya menatap marah pada Josh, dan Dalton mengkode Josh, si bartender untuk membuatkan dua gelas dan akan menangani Gen.
Josh membuatkan dua gelas dan langsung disambar oleh Gen satu gelasnya. Dan satu gelas lain ia berikan pada Dalton. "Kau kembalilah bekerja." Josh kembali sibuk membuatkan pesanan pelanggan lain. Gen menjadi tanggung jawab Dalton.
"Kau yang kemarin kan? Siapa namamu?" Tanya Dalton, ia kemarin pun mabuk dan tak begitu mengingat nama, namun ia ingat wajah.
"Kau Dalton bukan, Ah salam kenal, Gen" Gen berakting, "Benar, Apa kabar?" Jawab lelaki tua itu menyesap minumannya. "Buruk" lirih Gen.
"Bisnisku hancur! Teman pun berkhianat!" Tawa getir diperdengarkan. Ia menyesap minumannya. "Mereka tidak tahu seberapa keras aku membangun semua itu dari nol" Gen melantur dan berharap Dalton akan menceritakan tentang Hudson.
"Bahkan mereka menyebutku pemberontak, fitnah hingga mereka mengusirku dari desa" Gen menunduk. Ia melirik Dalton yang meghela nafasnya.
"Hidup memang sulit, tapi aku tak bisa membantu banyak," Dalton berkata lagi. Gen tak menyerah.
"Pertemukan aku dengan Hudson, orang yang kau ceritakan itu. Aku akan meminta tolong padanya, ia pasti menolongku kan seperti yang lain" Dalton menganggap perkataan Gen adalah omongan kacau pemabuk.
__ADS_1
"Dengan senang hati aku akan mengantarmu, tapi sayang, Tuan Hudson tidak ada di desa, beberapa hari yang lalu ia pergi ke Desa lain" Dalton menyesap minumannya, ia ingat lelaki muda ini ngotot bertanya tentang Hudson, pantas saja, ternyata sedang dalam kesulitan.
"Kau tahu kami yang berada disini adalah bekas pemberontak," Netra Gen melebar, mendengarkan cerita yang terlontar.
"Dan sebagian dari kami ada yang Tuan Hudson selamatkan, ada juga yang seperti kau ini datang karena tak punya tempat tinggal. Disini kami diperlakukan layaknya keluarga oleh Tuan Hudson"
"Kau bertanya mengapa kami membicarakannya, karena kebaikannya pada kami dan keluarga kami, kami rela jika suatu saat Tuan Hudson meminta bantuan kami"
"Benar!"
"Kami siap apapun bantuan yang akan Tuan Hudson minta" Orang sebelah Dalton yang juga mabuk masuk dalam obrolan.
"Ya kami siap!" Menjalar dari meja satu dengan meja lainnya. Suara bergemuruh seperti menyanyikan yel-yel, mengisi pendengaran Gen. Mereka mengangkat tangan mereka serta berlompatan dan bernyanyi bersama.
Mau tak mau ia pun ikut bergabung. Berpura-pura teler ia ikut bergabung dengan Dalton dan yang lainnya. Namun ia perlahan keluar dari bar.
Gen kembali ke penginapan. Mereka tak bisa asal menyerang. Gen berlari kecil dengan menutup mantelnya dari udara dingin di tengah malam.
***
"Kita harus lebih berhati-hati." Ucap Gen. Ruve menatap Elves.
"Jangan gegabah, mereka pengikut setia" lanjut Gen yang mengingat mereka menari juga menyanyikan yel-yel saat di bar kemarin.
"Aku dan Elves akan mencari tahu kemana perginya lelaki itu" Ruve beeanjak dan menggunakan mantelnya juga Elves yang mengikuti dalam diam.
"Ya sana, aku akan tidur disini" memaklumi Gen yang baru pulang pagi.
Elves dan Ruve akan kembali ke bar yang mereka singgahi saat makan malam itu. Ia duduk di meja paling tengah, Ruve menganggukan kepalanya mengkode Elves, bahwa sandiwara mereka simulai.
"Aku dengar Taun Hudson membantumu?" Ucap Ruve kencang. "Ya ia memberikan ku kuda" Elves menjawab.
"Wah kau beruntung sekali, apa Tuan Hudson sebaik itu? Apa dia akan membantuku jika aku meminta bantuannya" dan sepertinya permainannya berhasil.
"Tentu saja, kau tinggal menceritakan apa keluhanmu dan ia akan dengan senang hati membantumu" seorang lelaki ikut obrolan Ruve.
"Benarkah?" Ruve memancing untuk mendapatkan lebih banyak buruannya.
__ADS_1
"Tentu saja, temanmu sendiri, mendapatkan kuda kan" Elves mengangguk.
"Kalau kau tak percaya kau tinggal datang ke tempat tinggalnya di dalam hutan sana, ceritakan keluhanmu dan kau akan mendapatkan solusi" lagi wanita memakan umpan Ruve.
"Aku juga datang ketempat Tuan Hudson, ia memberiku sekantong perak untuk membantu diriku membuka kedai" Netra Ruve berbinar, ia menatap penuh harapan pada wanita didepannya.
"Benar aku tinggal datang ke tempat tinggalnya dan bercerita dan ia akan membantu?" Ruve memegang lengan wanita itu yang juga mengangguk antusias.
"Tapi sayang sekali kau tak bisa bertemu dengannya dalam waktu dekat ini, aku dengar Tuan Hudson pergi keluar desa" salah seorang ikut menimpali.
"Yah sayang sekali, apa ia pergi lama?" Tanya Ruve. Ia mencari jawab dan setiap orang hanya menggeleng mereka tidak tahu kapan Hudson kembali.
"Mungkin kau bisa menyusulnya, aku dengar ia akan ke desa Cahaya ilusi dan Dragon Eye." Suara berat dari ujung pintu bar, lelaki tua itu masuk,
"Dalton tua, kau pasti baru bangun" ucap wanita yang lengannya dipegang oleh Ruve tadi.
"Barbara kau sangat perhatian padaku, aku pesan seperti biasa" lelaki tua itu menarik kursi di dekat Elves. Wanita yang dipanggil Barbara itu beranjak dari kursinya dengan mengomel.
"Kalian baru disini?" Tanya Dalton. Ruve dan Elves ia ingat Gen pernah menyebut nama Dalton, apa ini orangnya?
"Kenalkan Dalton, kalian?"
"Ruve dan ini Elves" ia menatap menyelidik pada lelaki tua itu.
"Ku dengar kau diberi kuda oleh Tuan Hudson?" Dalton tersenyum miring di akhir pertanyaan. Ruve dan elves berhati-hati. Jangan sampai mereka ketahuan.
Elves hanya menatap tampang Dalton. Tanpa menjawab pertanyaan lelaki tua itu.
"Benarkah Tuan Hudson keluar desa? Padahal aku berniat menemuinya" seorang lelaki dengan topi ikut mengobrol.
"Sayang sekali kalian kurang beruntung." Ejek pelanggan lainnya.
"Jangan bilang kau ingin meminta keping emas? Kau sangat berani" ucap yang lainnya.
"Asal aku tak berulah, ia akan memberikan nya" ucap bangga lelaki yang sepertinya mabuk itu. "Jim, keluarlah kau dari barku!" Barbara datang dengan makanan pesanan Dalton.
Ruve dan Elves sepakat untuk diam lebih baik, mengabaikan pertannyaan Dalton, setidaknya mereka tahu dimana Hudson berada.
Dan bar menjadi ramai dengan Barbara yang mengusir Jim, Lelaki itu tak terima, dan tak berniat untuk keluar dari bar milik Barbara. Dalton menikmati sarapannya, di jam makan siangnya. Mengabaikan ribut-ribut di sekitarnya.
__ADS_1
Tbc.