
Terdengar geraman dari jauh. Kewaspadaan Ruve dan Elves meningkat.
Ctarz! Ctarz! Ctarz!
Telinga Elves yang peka, ia merasakan adanya serangan, ia menarik bahu Ruve untuk menghindar.
"Haargh!" Suara rintihan dari kejauhan.
Sabetan tanaman jalar itu terkena belati yang Ruve bawa. Mereka melihat potongan dari tanaman jalar yang meronta lalu diam.
Serangan dadakan kembali menyerang mereka. Ruve mengeluarkan rantainya dan melilitkan pada tanaman jalar itu.
Ruve memantrai rantainya lalu membelitkan rantainya ketangannya. Laku dengan gerakan cepat ia menyentak menarik keluar tanaman rambat.
Dari pohon lumut muncul sosok berkaki empat dengan kepala tanpa mata, dengan mulut mengeluarkan lidah bercabang banyak berbentuk tanaman jalar, lidah dari sosok itu yang Ruve tarik. Dan tubuh sosok itu ditumbuhi lumut tebal.
"Haarhh … "
"Haaarhhg … "
"Golum?"
Tanaman jalar menjalar gesit menyerang Ruve dan Elves. Mereka berlari menghindar, dan terpisah, Ruve di sisi kiri, dan Elves berlarindisisi kanan. Lidah tanaman jalar itu mengejar mereka. Sesekali Ruve berbalik dan menyabet dengan belatinya.
Ruve lengah, ia tak melihat langkahnya, ia terjungkal. Serangan tanaman jalar dengan ujung daun menjadi tajam menembus tanah samping tubuh Ruve. Wanita derik itu berhasil menghindar dengan menggelinding dan merangkak menjauh.
Kembali Ruve berdiri. Serangan tanaman itu ian tangkis perkelahian mereka menjadi semakin sengit.
"Ah!" Tanaman jalar itu berhasil melukai wajah Ruve. Pipinya tersayat dan darah segar mengalir keluar. Dan harum darah membuat tanaman itu menjadi lebih agresif.
Tanaman itu terus menyerang Ruve hingga ia terpojok, Ruve terjatuh terlentang dengan menahan serangan tanaman yang ingin menusuknya.
Elves melepaskan busurnya, mengenai tanaman yang Ruve pegang. Tanaman itu putus dan mati.
Elves berlari dengan memanah, busurnya melesat membelah satu tanaman jalar yang mengincarnya. Dan jatuh ke tanah, tewas tak bergerak, Senyuman miring tercetak pada wajah Elves. Namun itu tak lama.
Ia melihat tanaman jalar yang terbelah itu kembali bergerak, tanaman itu meliuk, kembali utuh dan menjadi dua.
"Siaal" maki Elves. Ia jadi memperbanyak si tanaman rambat itu. Ia tak bisa menggunakan cara itu. Sebuah ide muncul dalam kepalanya.
"Ruve, ikat jadi satu tanaman meliuk itu" perintah Elves dan Ruve mengikuti rantainya ia arahkan pada tanaman itu dan mengikat tanaman itu menjadi satu.
"HAARGH!"
__ADS_1
"HAAARGH"
Tanaman itu meronta. Gemerincing rantai Ruve terdengar ia mengeratkan ikatannya.
Elves mengeluarkan busur yang ia mantrai, busur itu mengeluarkan cahaya putih menyilaukan lalu berubah menjadi pedang. Elves berlari mendekat dengan menapak bebatuan disana sebagai pijakan dan menebas tanaman rambat itu.
"GRAAHGH!" Suara memekik kesakitan menggema pada pohon-pohon dihutan. Lalu yang terakhir Elves menumpu pada bagu dengan kuat ia menyetakkan diri dengan pedang mengarah pada atas kepala sosok itu.
Pedang itu menancap di kepala sosok hijau itu. Sosok itu berteriak kesakitan, ia limbung, berputar-putar. Sebelum jatuh dan mati.
Nafas mereka memburu. Peluh membasahi kepala mereka. Lelah.
Srrrkk …
Srrrkkk …
"Hmmm … mmm … hhhmmmmm … " Ruve mencari sumber suara. Ia menajamkan pendengarannya, ia berjalan membungkuk, mendengarkan dimana suara itu berasal.
"Mmmmm …. Hhhmmm … "
Ssrrrkkk … Srrrkkk …
Sssrrkkk … Sssrrkk …
Ruve menangkap pergerakan pada gumpalan lumut. Melihat satu sisi yang bergerak. Ruve mengarahkan rantainya pada sisi bergerak dan menyingkirkan lumut-lumut di tempat yang bergerak.
Terlihat jari yang Ruve kenali. "Gen!" Ruve berjalan mendekat. Ia menyingkirkan lumut-lumut itu dari tubuh Gen.
Mulut lelaki itu tersumpal dedaunan dengan ikatan pada kepalanya. Ruve memotong ikatan itu. Dan Gen menyemburkan dan memuntahkan dedaunan itu.
"Mereka menutupiku dengan lumut" Gen tak percaya dirinya disandera oleh monster lumut.
"Aku melihat kalian, aku memanggil kalian kencang tapi kalian tidak mendengarku" Gen terbatuk, ia membersihkan mulutnya. Berkumur dengan air yang Elves bawa.
"Kalian berhasil menghabisinya,"
"Aku tak yakin itu Golum" guman Elves.
"Sekarang kita cari dimana lumut 1000 tahun itu berada" Gen membersihkan tubuhnya dari lumut-lumut yang menempel.
Gemuruh menggelegar, dengan gempa dahsyat mengguncang tanah. Angin kencang menerbangkan mereka. Ruve, Elves dan Gen saling berpegangan.
Tapi angin terlalu kuat. Tubuh mereka mendapatkan dorongan keras.
__ADS_1
"Aaarg … " Gen tak bisa menahan terpaan angin akhirnya kalah dan menggelinding hingga menghantam batang pohon. Ia menempel dengan kepala dibawah dan kakinya menjuntai diatas.
"Aaaa … " Ruve melayang, tubuhnya terhempas dan menempel erat pada batang pohon.
Elves pun terlontar oleh angin, tangannya berhasil menggapai dahan pohon. Yang di sebelahnya terdapat bongkahan batu besar Ia merangkak perlahan melawan angin. Dan berhasil menurunkan dirinya di belakang batu itu.
Elves berlindung pada batu itu. Serangan angin menjadi semakin kuat dengan suara menggelegar menyapa mereka dengan kemarahan.
"KALIAN MEMBUNUH OBI!" Siapapun yang mendengar bisa merasakan kemurkaan di dalam nada bicaranya.
"KALIAN MASUK TANPA IJIN DAN MEMBUAT KACAU DITEMPATKU"
"KALIAN AKAN MENDAPAT BALASANKU!"
"MATI KALIAN! HYAAARGH!" suaranya menggelegar, seketika pertie menyambar.
Elves mengintip, sosok wanita dengan tubuh yang dipenuhi oleh lumut-lumut, rambut lumut panjang menjuntai. Ia melayang. Menyumpah serapah pada tiga orang yang menewaskan peliharaannya, Obi.
"Golum?" Ruve bersuara. "JANGAN BERANI KALIAN MENYEBUT NAMAKU!" kemarahannya semakin memuncak. Ia pun menyemburkan sesuatu pada tubuh Ruve. Dan sesuatu itu menempel dan mengikat erat dirinya pada pohon yang ia tempeli.
Golum tahu mereka berjumlah tiga orang dan yang terlihat oleh monster lumut itu hanya Ruve. Tapi untuk menjerat lawan, Golum menyebar serbuk tidur.
Serbuk itu menyebar. Dan terlihat efeknya sangat cepat.
Bruk!
Dari balik batu terdengar suara benda terjatuh. Golum membuat Euve semakin menempel pada pohon. Dan Gen juga.
Sulur lumut mencari keberadaan benda jatuh tadi dan menarik kakinya. Dan mengikatnya dengan terbalik.
"Selamat tidur, sampai jumpa di dunia mimpi" Golum pun menghilang. Menjadi asap pekat yang tersedot dalam kepala Ruve.
Golum mengincar Ruve. Entah mengapa ia tertarik pada Ruve. Mungkin karena Ruve adalah wanita. Dan bisa merasakan apa yang Golum rasakan. Ruve cantik. Golum ingin menjadi cantik.
Dan merasa Ruve adalah saingannya. Ia tak ingin memiliki saingan di tempatnya. Cukup dia yang paling cantik dan menawan. Tidak boleh ada yang menyaingi kecantikannya. Ia akan membunuhnya kalau ada yang mau menyainginya.
Ia telah memantau dalam dunia mimpi, mereka melawan dirinya. Walau disebut dunia mimpi kematian di dalamnya adalah nyata.
Di tempatnya Golum mengirim sihir racun pada Ruve yang telah melukai wajahnya di dunia mimpi. Sihir berupa dua serangan api berwarna hijau terang meluncur dan masuk dalam tubuh Ruve.
Efek yang ditimbulkan oleh racun itu lambat. Jadi saat terkena, tubuh tak merasakan apapun hingga nanti ia akan sesak nafas, kemudian koma. Dan, pes … hilang menjadi debu. Apa Golum memiliki penawar, tentu saja. Ada. Di tempat tersembunyi.
Tbc.
__ADS_1