Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 23. Tanaman Ploppy


__ADS_3

"Ugh" Ruve menatap pijakannya. Ia berada di pinggir jurang, tujuannya tepat berada di atasnya, "Sedikit lagi Ruve!" Ia menyemangati dirinya, terik matahari membuat lengannya yang tak tertutup kain memerah terbakar.


Apa yang dilakukan ular derik itu? Ia sedang menjalankan tugasnya, tugas untuk resep ramuan yang ia minta pada Elves, dulu, yang sempat ia minta pada Elves saat awal mereka bertemu.


Sebenarnya ini cara Elves menjauhkan dirinya dari si derik genit itui. Bagaimana tidak Ruve selalu menempelinya. Dan hanya menatap Elves dan membuat pemuda itu risih. Pemuda itu tak terbiasa.


Dan Elves memiliki ide, dari pada Ruve hanya melamun diam danbmengikuti dirinya kemanapun, sekalian Elves akan mengajari Ruve, Misi Ruve kali ini, mencari tanaman yang berada di puncak pegunungan Rosemary ini.


Tanaman obat langkah yang Elves inginkan, tentu saja Ruve dengan senang hati melakukannya. Tapi ada pantangan jika ia ingin mengambil tanaman obat langkah itu.


Yaitu ia harus mengandalkan kekuatan manusianya. Tak diperbolehkan menggunakan sihir dan bantuan. Jika dilanggar tanaman obat itu tak akan mengeluarkan khasiatnya.


Kata Elves, tumbuhan atau tanaman juga makhluk hidup, ia tahu bagaimana perasaan manusia saat mereka memetik dirinya. Begitulah petuah dari si pemuda Elf itu yang akhirnya membuat Ruve terdampar pada dinding tebing seperti cicak, ejek Gen.


Dengan iming-iming berkencan, Ruve bertekad ia lulus dalam misi ini. Kapan lagi Elves mengajaknya berkencan bukan? Berkencan di pasar, Ia juga sangat suka festival. Gen yang memberitahukan bahwa adanya festival panen besar malam nanti. Desa yang Ruve tinggali saat ini, bernama Desa Ros.


Saat mereka masuk dalam desa, keadaannya sangat sepi, siang hari pun  jarang mereka melihat adanya para penduduk.


"Ugh" Tap. Ruve mencapai puncak. Ia meringankan diri dan dengan melemparkan diri ke puncaknya. Nafasnya tersegal. Ruve menunduk dengan tangan memegangi lutut, mencoba beristirahat dan kepalanya mendongak. Matanya membelalak.


Di depannya terdapat hamparan luas tanah tandus dan berpasir. Rube tidak menemukan adanya tanaman yang Elves maksud.


Ia kembali membuka lembaran kertas dengan gambar tanaman itu. Apa ia salah gunung? Ruve berkeliling. Memang tak menemukan tanaman yang Elves cari.

__ADS_1


Apa ia dikerjai oleh pemilik penginapan yang mereka tinggali? Tak mungkin. Lagi pula Ruve hanya melihat satu gunung di sini.


Pasti ada sesuatu ini, pikir Ruve.


Namun ia tidak diperbolehkan menggunakan sihir kan? Ruve merasa frustasi di atas sana. Ia berteriak kencang ke arah bawah.


"Hey dimana kau Ploppy?" Teriaknya frustasi pada tanaman itu. Ruve menumpahkan perasaannya. 


"Kau tahu? Pasti tidak, perjuanganku untuk mencapai puncak ini, aku melakukan demi bisa mengambil hati seseorang yang berarti dalam hidupku" Ruve mendudukan dirinya asal di tanah menghadap gumpalan awan di depannya.


"Seharusnya aku akan berkencan dengannya malam ini" Ruve melemparkan kerikil kecil ke sembarangan arah. Putus asa. 


"Tapi aku tak mendapat kan mu, Ploppy" ia mengistirahatkan diri. Ia curahkan segala unek-uneknya.


PLOP! PLOP!


PLOP!


"Dan semakin jatuh lagi saat semburat kemerahan menjalar dari pipi ke telinga saat aku menggodanya, Ia sungguh menggemaskan. Rasanya ingin kupeluk." Ruve terus berbicara.


"Apa kau pernah merasakan perasaan seperti ini Ploppy? Rasa senang, hangat juga gelisa menjadi satu dalam tubuhmu dan kamu tak mengerti harus bertindak bagaimana" lanjut Ruve.


PLOP! PLOP!

__ADS_1


"Oke, kau benar, ini pertama kalinya aku mendekati lelaki. Dulu saat di kota aku juga memiliki seseorang yang aku suka. Banyak yang mengaguminya. Teman-temanku juga." Jeda, Ruve menerawang, mengingat saat ia masih di Kotanya,


"Aku jadi ikut terpesona dengan lelaki itu, ia tampan yang pasti, aku sering melihatnya diam-diam dan aku merasa saat itu ia pun juga menatap diriku. Saat berpapasan pun ia terus memandangku. Rasanya menyenangkan, namun aku diam menunggu pergerakannya."


PLOP!


"Aku merasa diberi harapan tinggi saat itu" kemudian kesedihan terlihat pada wajah Ruve, "Dan aku kecewa, ia menikah dengan wanita lain, jadi selama itu, ternyata aku yang bodoh dan terlalu berharap, juga aku yang terlalu tinggi menilai diriku" Ruve tertawa kering,


PLOP! PLOP! PLOP!


Ruve melihat aneh ke arah tumbuhan yang baru saja muncul, ia mulai memutar dirinya menghadap tanah lapang di balik tubuhnya.


Ia melihat padang tanaman dengan bunga putih dipucuknya. Kemudian tangannya meraba kantong untuk mencari kertas dengan gambar tanaman yang Elves beri padanya.


"Ploppy terima kasih sudah mendengar hatiku" gumannya lirih, sambil mencocokan gambar yang ada di kertas dengan tanaman yang tiba-tiba muncul didepannya.


"Salam kenal Ploppy, ini kau?" Sudut bibir Ruve terangkat, bibirnya melebar senang. Dan seketika asap putih membumbung di depannya, PLOP! Muncul peri perempuan dengan rambut dikuncir dua. Terbang mengelilingi tubuhnya dan mengitari puncak gunung Rosemary ini.


"Hai aku Ruvera" ada rasa senang dalam dirinya, ia mengejar peri kecil seukuran jempol itu.


Ruve berada di tengah hamparan tanaman yang baru muncul itu, dan kembali si peri kecil mengitari dirinya, 


"Aku Mary" katanya dan sosok peri itu menjelma menjadi wanita cantik di depannya. Seukuran dirinya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2