Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 60. Phoenix Way


__ADS_3

Ruve bersiap. Setelah 3 hari Gma Mima menahan dirinya akhirnya Gma Mima mengizinkan mereka kembali menuju Phoenix Way.


Perjalanan saat ini mereka memiliki satu orang lagi anggota yaitu Araria. Ia bersikukuh ingin juga mengejar Hudson.


Setelah mengetahui Elves mencari adiknya dan mengejar Hudson, saat itu, Araria mencoba jujur tujuannya agar ia diangkat murid oleh Elves untuk mempelajari lebih banyak ramuan juga, untuk mengejar Hudson yang membunuh Gilberto.


Ia adalah saksi pembunuhan. Melihat para bandit, mengingatkan pada salah satu pembunuh Gilberto selain Hudson. Ada dari klan burung namun saat itu ia masih kecil jadi ia hanya mengingat lelaki dengan paruh yang bersama Hudson.


"Aku ikut!"


Ruve bisa melihat, adanya dendam disana. Sama saat Elves juga ingin ikut dengannya. Tak ada lagi rasa cemburu yang dirasa Ruve.


"Ajak saja dia" ucap Gma Mima. "Semakin banyak orang, jadi semakin banyak yang akan membantu kalian, dan pasti membuat Gma tak terlalu khawatir" Benar apa yang Gma ucapkan.


Dan disinilah mereka, di depan portal dimensi menuju Phoenix Way. Melangkah masuk dalam portal, pemandangan ladang bunga daisy, yang pertama kali mereka lihat.


Bunga berwarna putih dan kuning itu terhampar luas. Mereka berjalan di jalan setapak. Ada satu makhluk di depan mereka. Ia menundukkan kepalanya.


"Tuan Berus dan Tuan Orso telah menunggu kedatangan kalian di Deep Inside." Mata tajam, ia menatap tanpa adanya senyuman, armornya bangsa serigala.


"Perkenalkan saya Olix, mari ikuti saya." Elves, dan yang lainnya tak menyangka jika mereka akan ditunggu. Mereka mengikuti serigala berarmor itu.


Mereka menaiki kereta kuda. Araria melongok ke udara. Ia mendengar rumor jika kau akan dapat melihat phoenix liar berterbaangan kesana-kemari. Tapi ia tidak menemukan apapun, Ia hanya mendapati bangunan yang menjulang tinggi di ujung jalan.


Membuat mereka berempat tercengang dengan kenyataan semegah ini bangunan Deep Inside.


Mereka dibawa memutari gedung itu. Dan nyatanya yang mereka lihat adalah hanya ujung menjulang dari Deep Inside. 


Sedangkan akuarium yang mengelilingi mereka memperlihatkan bagunan bagian bawah Deep Inside.

__ADS_1


Bangunan yang dikelilingi air itu tampak sangat besar. Mereka sampai di depan pintu kokoh dan tebal berwarna kecoklatan. Disana terlihat Lisica berdiri menyambut mereka dengan senyuman.


"Selamat datang di Deep Inside Phoenix Way." Lisica mempersilahkan mereka masuk. Dua orang penjaga membukakan pintu.


Megah dan mewah, kesan yang mereka tangkap dari apa yang mereka lihat.


"Aku tidak melihat phoenix sedari tadi?" Pertanyaan Araria.


"Oh kau mencari Phoenix? Mereka tidak ada disini. Mereka hidup di pemukiman, di tengah desa."


"Disana kau akan mendapatkan banyak Phoenix. Tapi jika malam mereka akan pulang ke kandang mereka." Lanjut penjelasan Lisica.


"Kita akan mendiskusikan masalah para bandit yang kabur itu dulu, lalu akan kami akan antar kalian ke penginapan kalian." Lisica melanjutkan langkahnya ke tempat Berus dan Orso berada.


"Kalian sudah tiba" Beris menyambut. "Iya, terima kasih telah menunggu" Ruve merasa tidak enak.


Harusnya ia bisa saja memaksakan untuk ikut mereka saat dirumah Gma, namun ia tidak tega dengan wanita tua kesayangannya itu. Tapi yang tadinya hanya akan menginap sehari, molor menjadi 3 hari, itu pun Ruve harus membujuk dengan keras Gma Mima.


"Aku juga mengira seperti itu karena hanya kembali teritori asli mereka akan aman" ucap lirih Ruve.


"Pengecut!" Gen mengumpat.


"Seperti itu mereka tidak akan berani mengusik jika itu berhubungan dengan Phoenix way." Lanjut Ruve.


Bandit itu tahu mereka tidak bisa melawan Phoenix Way. Siapa mereka hanya bandit kalangan rendahan bagi Phoenix Way.


"Kami sudah mendapat perintah dari Raja Marzon untuk membantu mencari Hudson," Orso ikut bergabung.


Derapan kaki keras terdengar masuk kedalam ruangan. Leonard masuk dengan tergesa.

__ADS_1


"Mereka tidak kembali ke klannya. Mereka masuk ke Phoenix Way. Mereka menyamar. Dan kami belum mendapatkannya."


"Juga orang yang Raja Marzon urus. Aku menemukannya di sebuah penginapan dengan seorang gadis dan para pengikutnya." Elves berfokus pada ucapan Leonard.


"Di—" 


"Dimana mereka?" Elves menyela ucapan Berus. Gen menyenggol Ruve agar menenangkan Elves.


"Aku tak akan memberitahukan padamu" tolak Leonard.


"Atur emosimu dulu!" Lanjut Leonard. Ia tak ingin targetnya kabur dan membuat pekerjaannya tidak selesai.


"Ayo kita keluar, kau butuh udara segar" Ruve menggandeng Elves yang ingin menolak, namun tatapan tajam Ruve membuatnya menurut.


Ruve menarik Elves. Ia melihat adanya taman. Mereka berjalan perlahan. "Kau harus tenang Elves. Dan tidak bisa setiap nama Hudson atau adikmu diucapkan emosimu selalu meledak, Kau harus bisa mengontrolnya" Ruve menangkup wajah Elves yang masih terlihat kemarahan disana.


"Ini demi keselamatan Lavender" perubahan sorot mata Elves menjadi lebih menurunkan kemarahannya terlihat. Ruve tersenyum.


"Kita berusaha, dan jangan dikacaukan oleh ego, kita tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi, contohnya aku, aku beruntung bisa selamat. Dan racun itu bisa dikalahkan oleh Akar Bulkie. Aku beruntung Elves"


"Tolong, bisa kau kendalikan dirimu, aku mohon" Wajah Ruve mendekat, melihat kedalam mata Elves kemudian mengangguk perlahan.


Ruve menjauhkan dirinya, dan menggandeng tangan Elves. "Masih mau disini atau kembali?"


"Kembali"


"Kau Yakin?" Ruve menyakinkan Elves


"Aku coba mengontrolnya." Janji Elves dan setelah ikut kembali bergabung benar ia bisa menahan amarahnya dengan menggenggam tangan Ruve.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2