Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 94. Kisah Yara Alejandro


__ADS_3

Berjalan menembus hutan ke hutan, ia memacu kudanya dengan cepat. Matahari akan segera tenggelam. Seharian berkutat dengan latihan.


Tubuh gagah, dengan armor keperakan, rambut hitam pendek rapi. Rahang tegas. Mata tajam. Melintasi derasnya sungai bening. Sosok itu menghalau sinar matahari terik dengan telapak tangannya dari wajahnya.


"Jendral Alejandro"


***


"Heh! Bengong saja"


Gen membuyarkan lamunan Yara. Ia sedari tadi menunggu kedatangan Alejandro. Ya mereka berada di Kerajaan Elf, sekarang, Goa peninggalan Gilberto. 


"Kau mengganggu saja Gen! Aku tadi telah ke kerajaan Elf tapi Ale sedang berlatih di dalam hutan dan saat aku akan menyusul, Raja melarangnya"


Bibir Yara melengkung ke bawah. Ia sedih. Walau ia sudah berada di satu tempat dengan lelaki pujaannya, ingin bertemu saja susah.


"Mungkin ia memang tidak mau kau temui," ucap Gen. Tatapan tajam Yara jika bisa berubah menjadi belati pasti saat ini Gen sudah ia cincang habis.


"Tak usah lah kau membuat aku semakin kesal! Itu hadapi Raja Mikail dulu!" Ia melihat reaksi Gen yang terdiam, decakan terdengar dari bibir milik Yara.


"Mendengar namanya saja kau langsung mematung! Dasar!" Ejek Yara.


"Sesama pejuang cinta dan restu kita harusnya saling membantu! Jangan malah membuatku pesimis!" Omel Yara.


Gen menghela nafasnya. Benar apa yang Yara katakan. Ia pejuang restu sedangkan Yara pejuang cinta. Sama-sama berat.


"Nanti aku akan kekerajaan saat makan malam, kalau tak juga ketemu dengan Ale sayangku aku akan mendatangi rumahnya!" Tekat Yara.


"Ayo kalau begitu, sekarang saja kita kesana" Gen bersemangat akan bertemu Lav.


"Ya kita bisa menunggu waktu makan malam dengan minum teh sore bersama Ratu dan Raja" ucapan Yara menyadarkan Gen bahwa ia akan bertemu dengan Raja Mikael.


Yara menyiapkan gaun yang pantas. Ia berlari masuk dalam kamar tamu, sedangkan Gen hanya duduk dan kembali melamun pikirannya melayang jauh, membayangkan obrolan apa yang akan ia bicarakan dengan ayah sang kekasih.


"Oke siap!" Yara dengan gaun dan topi kebangsawanan, juga sarung tangan renda. 


"Kau akan kemana? Ke pesta?" Tanya Gen melihat penampilan Yara yang dinilai berlebihan.

__ADS_1


"Berlebihan ya?" Yara memutar dirinya memperlihatkan keseluruhan gaun yang ia kenakan, Gen mengangguki.


Decakan keluar dari mulut Yara. "Ini tak berlebihan aku ingin Ale tersihir oleh pesona seorang Yara." Bangganya.


"Ya lah terserah" bola mata Gen memutar malas, mendengar kepercayaan diri Yara.


Mereka memacu kudanya masuk dalam kerajaan. Mereka telah dikenal oleh pengawal, keduannya bisa keluar masuk dengan bebas.


Lav terlihat di halaman. Gen dengan cepat turun dari kudanya untuk menghampiri Lav. Yara masih di atas kudanya ketika ada kuda yang melewatinya,


Senyum Yara mengembang, ia kembali mengambil kendali kudanya dan menyusul kuda, eh menyusul sosok yang ada di atas kuda yang melewatinya itu.


Derapan kencang yang mendekat membuat sosok dengan rahang tegas itu melirik dari sudut bibirnya. Ia tahu bahwa sosok pengganggu datang mendekatinya.


"Alejandro" panggil Yara semangat.


Dibanding si pengganggu ini, Ale lebih tertarik pada satu gadis lain, teman si pengganggu.


"Hai tampan, aku datang, yuk nikah yuk" Ucap Yara tanpa menunggu mereka berhadapan, atau setidaknya turun dari kuda. Mata tajam Ale menatap kedepan tanpa menggubris omongan ngawur Yara.


Yara merasakan ledakan di hatinya saat Ale meliril dirinya. Walau hanya sekilas. Ale sudah turun dari kudanya, dan menarik ke arah kandang kuda.


Ia berjalan cepat untuk mengimbangai langkah Ale yang lebar. "Aku tadinya akan menyusulmu, tapi Raja tidak memperbolehkan" Adu Yara.


"Aku kembali ke tempat Gilberto, menunggumu disana. Dan kita memang jodoh sepertinya. Kita bertemu disini" kata Yara yang sangat absurd.


"Ale kamu tidak merindukan aku?" Yara menarik pakaian di lengan Ale. "Aku rindu sekali denganmu"


"Aku rindu" ucap Ale yang membuat Yara tersenyum manis.


"Pada temanmu," senyuman Yara perlahan luntur. Ia melemparkan pandangannya ke segala arah. Tapi entah kebebalan darimana ia kembali tersenyum.


Dalam hati Yara menyemangati dirinya sendiri. Ia mengingat Ruve yang juga mengejar Elves. Yara tidak akan menyerah semudah itu ferguso!


"Araria? Kau telat Ale, ia sudah menyukai Deraa, adik Ruvera, kau tahu kan, istri dari pangeran Elves." Yara tidak akan menutupi juga tidak ada hak untuk menyuruh Ale tidak menyukai seseorang.


Karena ia juga akan tetap mengejar lelaki itu.

__ADS_1


"Kau tak bisa membantuku? Kenalkan aku padanya?"


"Maaf, aku tak bisa membantu" ucap lirih Yara. Decihan keluar dari bibir Ale, tidak ada orang yang akan membantu orang yang disukai untuk mengejar orang lain yang disukainya.


"Kau harus mengejarnya sendiri dengan usahamu, jika kau ingin bersamanya, ambil hatinya, karena kau juga memiliki saingan, bersainglah dengan sehat" ucap Yara yang membuat kerutan didahi Ale.


"Karena aku pun sama, mengejarmu dengan usaha sendiri tanpa melarangmu untuk mengejar wanita yang kau sukai, Ayo kita berjuang bersama!" Lanjut semangat Yara. Garis kerutan dahi Ale dalam. Ia tak mengerti dengan pikiran Yara. Aneh.


Ia baru melihat ada seseorang dengan pikiran seperti Yara. Tidak marah jika orang yang ia sukai menyukai orang lain.


"Kenapa ini?" Yara menyentuh dahi yang mengkerut dalam milik Ale.


"Jangan sembarangan menyentuh!" Ale menangkap tangan Yara yang mengelus dahinya. Ia tak suka sembarangan orang menyentuhnya.


"Oups … Maaf" cengiran Yara tak merasa salah. Karena ia senang tangannya digenggam erat oleh tangan hangat milik Ale. Ale menyipitkan mata saat melihat Yara menyengir sambil menatapi tangannya yang menggenggam erat tangan wanita itu.


Ia menghempas tangan Yara dengan cepat. Kekehan dengan cengiran masih menghiasi bibir Yara. "Kenapa dilepas? Lama juga nggak apa-apa kooookk" ia mengulurkan tangannya di depan wajah Ale.


"Mau kamu!" Yara mengangguk cepat.


"Ia mauku, ayo gandeng aku ke depan altar dengan  Raja Mikail menjadi saksi kita"


"Bermimpi kau!" Dengus Ale melangkah cepat meninggalkan wanita gila genit yang memepetnya. Ia merasa risih tapi ia tidak akan bertindak kasar.


"Hei Jendral! semua cita-cita berawal dari mimpi lho" ucap Yara dengan menggoda Ale, ia menaik-naikan alisnya jenaka.


"Kau pasti juga sebelum menjadi seorang jendral, pasti bermimpi juga kan?" Yara terus saja mengoceh di samping Ale, kakinya yang pendek dengan susah payah mengejar langkah kaki panjang Ale.


Ale tak lagi menggubris wanita yang terus saja berbicara. Padahal ia sengaja melebarkan langkahnya juga mempercepat laju jalannya. Tapi wanita itu dengan tak peka bisa mengejarnya.


"Kau terlalu banyak bicara!" Ketus dan dingin Ale. Tapi Yara tetap Yara. Ia semakin menyeringai kesenangan.


"Jendral kau itu hanya cocok dengan ku yang banyak bicara ini, tidak cocok dengan Araria yang pendiam, karena kau pendiam dan ketus, dingin, tampan hanya cocok untuk Yara si cerewet yang cantik"


Ale pikir Yara tidak hanya gila tapi juga narsis.


"Kau terlalu banyak menghayal!" Yata semakin senang, Ale menimpali ucapannya. Kesempatan terbuka lebar. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku jendral! Batin Yara dengan percaya diri.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2