
"Ayo kita menikah" ucap Elves dengan menyandarkan dagunya diatas kepala Ruve.
Ruve melongo untuk beberapa detik. Senyumannya menggembang lebar dari wajahnya, sebuah lamaran yang tak Ruve sangka.
Lagi, air bening keluar dari matanya, rasa haru juga senang menelesak dari rongga dada.
Ruve mengangguk, cepat.
"Ayoo, segera" Elves tersenyum, ia mengelus kepala Ruve. Sudah cukup selama ini berjauhan dengan wanitanya, selama ia di kerajaan Elf, semua jabatan dan apapun menyangkut gelar Raja sudah ia serahkan pada sepupunya, Logan, dan sebenarnya yang menikah juga Logan.
Elves tentu saja masih cinta pada Ruve. Ia mentok pada wanita derik itu. Padahal waktu ia lupa ingatan banyak gadis-gadis menggoda dan meminta perhatiannya tapi Elves tak mengerti seolah ia harus menjaga hati seseorang.
Ia pernah dekat dengan seseorang yang ternyata mirip dengan perawakan Ruve. Namun entah mengapa Elves tetap saja tidak merasakan apapun dan akhirnya ia menjauhi wanita itu.
Hatinya menolak. Dengan keras. Saat ingatannya kembali, ia sangat marah dengan apa yang Ruve lakukan. Ia tidak ingin menemui Ruve, ia berdiam dalam kerinduan juga amarah. Sangat menyiksa.
Saat ia melihat sosok itu di depannya entah mengapa amarahnya menghilang dan terganti dengan kerinduan yang menebal hingga rasanya sesak, lega dan bahagia berkecamuk menjadi satu di dalam dirinya.
Elves merengkuh Ruve, "Sebenarnya ayah dan ibu sudah tahu bahwa aku kekasihmu, tapi malah kau menghilangkan ingatanku, dan kita berpisah"
Ruve mendorong Elves. "Jadi ayah tahu?" Elves hanya mengangguk,
"Apa yang aku lakuin sia-sia, selama ini?" Ruve dengan kebodohannya, "Maaf" hanya itu ia katakan, rasa penyesalan dan bersalah membungkus dirinya.
Kembali wajahnya kembali sendu, Elves yang mengerti ia memeluk erat Ruve.
"Sudah tak apa, sekarang kita bersama, dan aku ingin secepatnya menikahimu" Ruve kembali tersenyum.
"Ayo kita pamit pada Raja dan kembali ke desa Ceraz Viper bertemu dengan orang tuamu lalu ke Phoenix Way," Ruve mengangguk beban kerinduan yang selama ini ada di pundaknya kembali terangkat.
Ruve mengangguk. "Lalu siapa yang menikah?" Tanya Ruve ia sudah kembali kekerajaan Elf bersama. Walau tubuh Ruve masih sakit, tapi ia tak peduli, Elves yang mengomelinya.
Ia berada di kamar Elves, meminum ramuan yang dibuat oleh kekasihnya. "Logan" Ruve hanya mengangguk,
"Kamu istirahatlah dulu, aku akan membantu diluar." Ucap Elves setelah Ruve kembali masuk kedalam selimutnya. Ia mengelus kepala Euve dan mengecupnya lalu keluar kamar.
"Elves kamu disini" suara wanita terdengar saat Elves membuka pintu. Dan membuat radar wanita milik Ruve aktif.
__ADS_1
Ia menuruni ranjang dan membuka pintu sedikit, ia mengintip dan masih ia lihat Elves berjalan dilorong dengan seseorang dengan mantel berjalan disebelahnya.
Ruve keluar dengan pakaian tidur yang Lav pinjamkan padanya. Pakaian tidur panjang berwarna putih dengan banyak brokat di sekelilingnya.
Ruve terlihat seperti boneka antagonis dengan rambut panjangnya yang dikepang. Tanpa alas kaki, ia berjingkat mengikuti Elves.
Kemana kedua orang itu akan pergi. Mengapa seakan terburu-buru. Ruve terus membuntuti keduannya, setiap ada yang berpapasan dengannya.
Ruve akan berjalan normal, tapi jika tidak ada orang ia akan berjalan cepat. Agar tidak ketinggalan langkah kedua orang itu yang saat ini memasuki salah satu pintu.
"Brak!" Suara terdengar dari balik pintu. Ruve menempelkan kupingnya pada permukaan pintu.
"Kalian penipu!" Ucap terdengar samar-samar.
"Brak!"
"Harusnya putriku menikah dengan Elves bukannya Logan!" Ruve menempelkan dirinya melekat pada pintu, ada nama Elvea dibawa disana.
"Kami tidak menipu, putrimu memang akan menikah dengan calon raja" suara samar yang terdengar jelas itu, membuat Ruve semakin menempelkan dirinya pada pintu, erat.
"Calon raja saat ini adalah Logan, jasi kami tidak menipu" ucap dari dalam.
"Aku tidak terima jika bukan Elves yang menjadi calon raja atau suami putriku, aku tak mau dengan bocah dari pembunuh keluargaku itu!"
Langkah kaki terdengar mendekat dari balik pintu. Ruve mencari tempat persembunyian, namun terlambat sentakan kencang pintu menghantam tubuh Ruve yang mengakibatkan ia tersungkur, Lavender yang melihat itu meneriakkan namanya.
"Ruve! Kau tak apa?"
Ruve melihat sosok lelaki dengan kemarahan di balik pintu, wajahnya memerah, terlihat marah, ia tak memperdulikan Ruve dan melangkah menjauh.
"Ayah!" Panggilan dari belakang lelaki itu, wanita dengan mantel yang sama dengan yang berjalan dengan Elves, yang ia ikuti tadi.
"Kau tak apa?" Wanita itu tampak sangat cantik, ia menunduk ingin membantu Ruve berdiri, rambut panjang hitam lurus dan berkilau. Anggun, manis dan cantik.
"Lotta sebaiknya kau kejar paman Igur" Wanita itu menngangguk pada Elves kemudian mengejar lelaki yang marah tadi. Elves memegang kedua lengan Ruve dan membuat Ruve berdiri, ia menepuk baju tidur Ruve dari debu lantai.
"Kau kenapa bisa disini? Bukannya aku bilang istirahat?!" Omel Elves dengan matanya yang menatap tajam Ruve.
__ADS_1
"Aku,aku, bermain dengan … Lav, ya kan Lav" Ruve melihat dan menemukan Lavender disana, ia lalu memeluk lengan Lavender meminta bantuan wanita itu.
"Iya kak, Lav tadi meminta Ruve untuk bermain denganku" cengiran lebar Ruve arahkan ke Elves yang memicing pada keduanya.
"Baiklah, sekarang kau kembalilah, dan istirahat, panas tubuhmu semakin naik ini" Elves meletakkan tangan dinginnya di dahi Ruve.
Ruve merasa nyaman, dan mengantuk, reaksi dari ramuannya. "Antarkan aku ke kamar," Ruve sudah berpindah merangkul lengan Elves. Kepalanya sudah menyandar di bahu Elves dengan mata yang terpejam.
Elves melepaskan rangkulan Ruve dan merangkul bahu Ruve. "Biae dia sama kakak saja" Lavender mengangguk meninggalkan keduannya.
Elves membawa Ruve kembali ke kamar lelaki itu, "Kau menguping?" Pertanyaan Elves yang membuat mata Ruve terbuka.
"Itu calon untukmu? Sangat cantik dan wangi" ucap Ruve. Ia kesal dan cemburu jelas.
"Bukan calon untukku, Tapi untuk calon Raja" ucap lelaki itu dengan merapikan selimut yang Ruve pakai.
"Sama saja" ketus Ruve. Elves berhenti merapikan selimut Ruve dan menatap Ruve dengan pandangan senang, ia menusuk pipi Ruve yang bulat.
"Kau cemburu?"
"Tidak!" Jawabnya cepat. Ia melebarkan matanya kesal pada Elves yang terkekeh senang.
"Aku suka kau cemburu" Elves menatapnya dalam. Ruve memalingkan wajahnya yang memerah malu. Dengan bibir merengut kesal.
Elves duduk di pinggir ranjang. "Sini lihat aku" Elves menarik dagu Ruve.
"Aku cinta kamu, Lotta memang calon Ratu yang sudah Ratu sebelumnya pilih, dan pendamping calon Raja" ucap Elves. Tapi tetap saja Ruve masih kesal.
"Jadi ia adalah calon untukmu, bahkan orang tuanya mau jika kau yang jadi suaminya" Ruve merajuk.
"Tapi aku bukan lagi calon Raja. Jadi ia tidak bisa memaksaku, karena kan ia akan mendampingi calon raja, bukan pendampingku, karena sudah ada dirimu disini" Elves menunjuk dadanya.
Mau tak mau Ruve termakan gombalan si pemuda Elf itu. Ia tak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya.
"Sudah jangan marah, sekarang kau istirahat dulu,"
"Temani aku sampai tidur"
__ADS_1
"Baiklah ratuku" kembali Ruve dibuat senyum oleh pangeran kerajaan Elf itu.
Tbc.