
Elves berjalan cepat, ia tak bisa berpikir dengan kenyataan yang baru saja ia dengan dari Araria.
Gilberto tewas karena dirinya. Ia penyebab guru yang ia hormati tiada. Dan Hudson sang pembunuh, apa yang mereka inginkan dengan Gilberto sampai-sampai lelaki tua itu merelakan hidupnya.
"Aaaargh!"
Brak!
"Argh! Argh!"
Brak! Brak! Brak! Brak!
Ia mengeluarkan semua emosinya pada batang kayu. Jemarinya membiru juga terkelupas, dan mengeluarkan darah.
Ia berhenti di pinggir sungai. Hawa dingin tak ia rasakan. Tubuhnya terasa mati rasa. Walau nafasnya mengeluarkan asap panas.
Ruve menyodorkan mantel milik Elves. "Pakai agar kau tak sakit! Kita harus cepat kembali mencari keberadaan Lavender juga Gen. Tak bisa terus diam disini,"
Elves menerima mantelnya dan mengenakannya. Ia melangkah mendekati sungai dan mulai mendudukkan dirinya.
Ruve perlahan mendekat dan duduk disamping Elves diam. Ia memberi ruang Elves untuk menyendiri.
__ADS_1
"Aku sangat menghormatinya, aku tertarik ilmu pengobatan ini karena dirinya. Aku mengikuti kemanapun ia pergi" ucapan Elves. Ruve setia mendengarkan.
Cerita mengenai Gilberto meluncur indah dari bibir Elves. Ruve sudah tahu seberapa berartinya Gilberto bagi Elves. Gilberto dianggap ayah oleh lelaki yang ia cintai itu.
Ia mendengar perdebatan Elves dan Araria. Dan ia pun terkejut, mendapati bahwa Elves penyebab kematian Gilberto.
Kesedihan yang bertumpuk dengan amarah, namun Ia tak bisa mengeluarkan semuanya emosinya.
Tangannya yang terluka bergetar. Ruve tak bisa melihat Elves seperti itu, meraih tubuh Elves dan memeluknya erat.
Sangat Erat. Ruve masuk ke dalam dekapan Elves ia bisa mendengarkan nafasnya cepat juga detak jantung yang berdebar.
Untuk memberi tahu bahwa Elves tak sendiri masih ada ia di samping lelaki itu. Lama hingga Ruve mendengar detak jantung Elves tak lagi cepat.
Ia mengelus dan menepuk perlahan punggung Elves. "Ayo kita kembali" aja Elves.
"Kau sudah tenang?" Ruve mendongak dagunya ia sandarkan pada dada Elves. Pemuda itu mengangguk. Ruve masih menempel pada Elves yang sejak kapan mendekap Ruve.
Ruve mengerucutkan bibirnya. Ia sudah lama tak berdekatan dengan Elves. Ya Ruve memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yang ada.
Ia menggeleng, "Aku masih ingin begini" Ruve kembali menyurukkan wajahnya pada dada Elves dan mengeratkan pelukannya. Ia tak ingin melepaskan tubuh Elves.
__ADS_1
"Kata kau, kita harus cepat mengejar Lavender juga Gen?" Elves mengusap rambut Ruve dan itu membuat Ruve mengangguk.
"Ayo masuk jangan sampai kita sakit" Ruve menjauhkan tubuhnya. "Kau tak apa?" Ucap Ruve menatap langsung mata sendu lelaki itu.
"Iya makasih kau telah menemani, aku akan berbicara pada Araria nanti"
"Ayo, disini sangat dingin! Cepat!" Ruve mengangguk, lalu berdiri. Ia mengulurkan tangan pada Elves. Membantu pemuda itu untuk bangun.
Ruve melirik. "Dingin!" Pekiknya dengan mengeratkan mantel yang ia kenakan. Lalh tak lama menubruk tubuh Elves dari samping dan memeluk Elves erat.
"Kau ini!" Tentu tindakan yang membuat Elves terkejut lelaki itu hampir terjungkal akibat perbuatan Ruve yang menyengir tak bersalah.
Mereka masuk kedalam rumah Lusica. Ruve berlari ke arah dapur. Disana tak ada siapapun. Ruve mengambil dua cangkir dan menuang air hangat dari ceret.
"Ini" cangkir mengepul Elves terima, ia menyesap kehangatan yang meluncur ke arah perutnya. "Terima kasih, kau istirahatlah" Ruve mengangguk. Menghabiskan air hangat di cangkirnya.
Mungkin lelaki itu masih perlu waktu sendiri. Ruve memberikannya. Tak mengapa jika Elves masih sibuk mengatur emosinya, namun dengan catatan ia berada di dalam rumah. Ia tak akan khawatir.
Elves memilih duduk di ruang yang ada tungku menyala. Mengistirahatkan tubuhnya sejenak disana. Tentu dengan minuman yang ia ambil dari lemari es milik Lisica.
Tbc.
__ADS_1