Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 76. Persiapan perang


__ADS_3

"Pangeran Elves datang" suasana ruangan seketika senyap. Dentingan sendok yang bertemu piring tak lagi terdengar. Semua mata tertuju pada Elves.


"Anakku kau kembali" Raja beranjak dari kursinya. Ia memeluk Elves begitu juga sang istri yang ikut beranjak dan emnghambur kepelukan sang anak.


"Bagaimana Lavender? Kau telah menemukannya" ibunya terlihat lesu, tak sesegar biasanya. Ia tahu setelah adiknya diculik ibunya sering sakit-sakitan.


"Lavender baik-baik saja, nanti akan kemari, ibu harus sembuh, dan menyambutnya" ucap Elves memberi harapan yang tidak tahu benar atau tidak.


"Benarkah? Aduk aku harus terlihat cantik, Nala! Bawa aku ke kamar" Nala, pelayan pribadi Hera, ibu Elves datang.


"Hera, lanjutkan sarapan mu dulu sayang, Elves ayo ikut denganku kita ke ruang kerja" 


"Mikael, aku sudah kenyang, aku akan langsung ke kamar saja" Mikael, Raja kerajaan Elf. Ayah Elves.


"Tidak sayang kau habiskan sarapanmu, setelah itu Nala akan membawamu ke kamar"


Sejak peristiwa penculikan Lavender, Hera yang trauma berkelakuan manja seperti anak-anak. Itu adalah cara Hera menutupi rasa bersalahnya yang tidak bisa melindungi anaknya.


Mikael mengelus sayang kepala istrinya itu. Elves memandang dengan hati sesak melihat keadaan sang ibu yang dulu sangat tegas itu menjadi seperti ini.


Ia mengeraskan rahangnya.


"Ayo kita berbicara di ruang kerja Ayah" Ucap Mikael. Mereka berjalan menelusuri lorong dan berakhir didepan pintu kayu tinggi dan kokoh, pelayan membukakan pintu tebal itu.


"Beginilah kondisi ibu mu saat ini, ia tertekan, dan membuatnya kembali menjadi anak-anak" Mikael mengelus rambutnya, terlihat kelelahan pada wajahnya.


"Ah maaf kau membawa tamu?" Mikail yang melihat keberadaan Ruve juga Araria di belakang Elves.

__ADS_1


"Mereka adalah rekan setim ku untuk mencari keberadaan Hudson, Ruve, dan Araria"


"Maaf Ruve dan Araria, kalian harus melihat drama keluarga tadi" Mikael merasa tak enak, ia menyembunyikan masalah pelik keluarga agar para pembencinya tidak membuat masalah padanya.


"Saya Ruvera klan ular derik, senang bertemu dengan yang mulia Raja Mikael" salam hormat Ruve.


"Saya Araria klan siput, senang bertemu dengan Yang mulia Raja" ucap Araria.


"Kalian tak perlu seformal itu" Mikael mempersilahkan mereka duduk.


"Bagaimana perkembangan yang kau dapat Elves?" Raja dengan wajah tampan, walau kerutan kelelahan tak pernah hilang.


"Ayah aku telah menemukan Hudson, ia telah mendapatkan pedang abadi, maafkan aku ayah yang tak bisa menyelamatkan Lav lebih cepat." Ucap penyesalan Elves karena beberapa kali ia bisa saja menyelamatkan Lav tapi ia selalu gagal.


"Jadi Hudson telah mendapatkan pedang abadi?"


"Bedebah itu, pasti ada dibalik ini semua, Salvador! Aku tahu ia tak akan menyerah sampai mengambil kekuasaan ku?!" Geram Mikael.


"Ayah aku mendapat bantuan dari Prajurit elit Phoenix Way, Raja Marzon sendiri yang menawarkannya, dan ia berkata bertemu denganmu baru-baru ini?"


"Iya ia juga menawarkan bantuan saat ia berkunjung"


"Aku memiliki strategi, untuk menghadapi Hudson"


Mereka berpindah ke ruang rapat untuk membicarakan strategi. Memanggil para petinggi kerajaan, dan memberitakan bahwa akan ada pemberontakan yang dilakukan Hudson.


Elves ditunjuk menjadi jenderal, namun ia menolak, ia menyerahkan pada prajurit kerajaan Elf yang memang mumpuni, dan Elves memilih Jatra sebagai jenderal.

__ADS_1


"Perketat penjagaan disetiap sudut kerajaan," ucap Elves pada Jatra.


"Laksanakan pangeran" di luar, semua prajurit sibuk menyiapkan segala keperluan perang. Senjata dan perbekalan.


Mereka mengerahkan seluruh prajurit untuk menjaga pintu-pintu masuk kerajaan. Mereka menggunakan barier buatan Yara.


Ruve mendapat bagian Utara dan bagian timur, sedangkan Araria bagian Bagian Barat dan Selatan mereka berkeliling dari tengah malam hingga bertemu malam untuk meletakkan ramuan Yara.


Elves bertugas memberi barier di sekeliling kerajaan, mereka melakukan dalam diam, tanpa memberitahu Raja sekalipun. Elves yakin jika adanya pengkhianat diantara mereka.


"Semua beres, walau ada yang mengikuti" ucap Ruve. Mereka berjalan bertiga bersisian, Elves mengawasi setiap sudut penjagaan. Persiapan persenjataan juga perbekalan. 


***


"Oh anakku, selamat, kau berhasil" Salvador memeluk Hudson.


"Iya ayah, Aku tak sabar menjatuhkan si tua Mikael itu" ucap Hudson.


"Tuan kerajaan telah mengetahui kita akan menyerang" tergopoh seseorang masuk dan membuyarkan acara pelukan keluarga itu.


"Tak masalah Martin, kau tak usah cemas, anakku telah memiliki pedang abadi yang tak terkalahkan itu" ucap Salvador bangga. Ia menepuk bahu Hudson.


"Seberapa kuatnya mereka tak ada yang akan menandingi kekuatan pedang abadi itu, jika mereka baru mempersiapkan perang saat ini, kita tidak akan kalah, kita sudah mempersiapkannya sejak dulu" ucap Salvador dengan geraman.


"Baik Tuan, kami ada dipihak mu! Dan siap berkorban demi Haye" ucap Martin yang juga salah satu jejeran pekerja di kerajaan Elf. Si pengkhianat.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2